
...BAB 36 : Rencana Kembali Ke Tanah Jawa...
...****************...
Di Ruang Laboratorium ,.
Kini Santi terduduk Lemas dan hanya menatap Raka yang sedang tertidur di Cangkang dengan berbagai selang dan caiaran yang barada pada tubuhnya.
" Bunda!!, Ayo makan dulu."
Ajak yana yang menepuk pundak ibu yang menatap sang Ayah di dalam Cangkang.
Santi menoleh ke arah anaknya," kamu saja yang makan, bagaimana bunda bisa makan yana!!, Sedangkan ayahmu tidak makan"
Jawab santi dengan suara yang terdengar parau. Santi menatap Yana yang membawa makanan untuknya dengan pandangan mata yang kosong.
" Nanti bunda sakit, jika bunda sakit. Siapa yang akan menyambut ayah?" Tutur Yana khawatir melihat ibunya.
Santi terdiam, ia hanya melihat makanan yang di bawah oleh Yana dengan tidak berselera.
" Yah.. sudah, Yana taruh di sini ya!, Jika bunda lapar, bunda bisa langsung makan"
Yana yang beranjak dari hadapan ibunya, kemudian menaruh sebuah baki yang berisikan makanan di atas meja yang tak jauh dari tempat Santi meratap.
" Iya!!, Terima kasih ya," tutur Santi
" Yana, pamit keluar ya bun!!"
Ucap yana beranjak, ketika ibunya mengangguk. Sebelum Yana melangkahkan kakinya, Yana menatap ke arah cangkang.
" Ayah!!, Tunggu Yana. Yana akan menyatukan keluarga kita kembali, Yana selalu merindukan Ayah" ucapnya seraya berlalu dari ruang laboratorium.
Santi yang melihat kepergian Yana, kembali menatap cangkang yang ada di hadapannya.
" Ka, Kamu ingat saat kita bercanda?. Kau selalu mengodaku"
Santi berbicara dengan Raka yang sedang tertidur di hadapanya, dan sesekali iya terlihat tersnyum ketika mengingat tingkah konyol Raka saat mereka masih bersama.
Kini Santi menemani Raka di dalam ruang Laboratorium tanpa mau baranjak. Berharap separuh jiwanya yang berada di hadapannya akan segara terbangun biar kecil kemungkinannya.
Di Luar Laboratorium,.
Yana berjalan di are koridor rumah sakit dengan pandangan yang mendunduk.
" Cangkang yang aku mimpi waktu itu ternyata adalah Ayah, bunda tidak ingin memberi tahu tentang ayah karna ayah bukanlah manusia"
Pikiran Yana menerawang dengang terus melangkah dengan menundukan kepalanya menelusuri koridor.
" Namun aku sungguh beruntung mempunyai ayah dan bunda yang saling menyanyangi walau sudah bertahun-tahun mereka terpisah, oleh ruang dan waktu. Seperti aku harus belajar dari bunda dan ayah"
Guman Yana yang terus berjalan tanpa arah. Seakan-akan yana hanya berjalan mengikuti jalan koridor yang ia lalui.
__ADS_1
" Rubah kecil, kau kenap berjalan dengan tidak fokus seperti itu" ucap Andre yang menahan dahi Yana dengan telapak tangannya
Langkah kaki yana terhenti, Yana mengangkat Wajahnya," paman?, Kenapa kau menghalangi jalanku?" Tanya Yana dengan pipi yang tiba-tiba merona menatap Andre
" Ehemm... Aku melihatmu berjalan tanpa arah, ku takut, kau akan hilang di Rumah sakitku" jawab Andre yang sudah terlihat mulai canggung
" Aku bukan lagi anak kecil paman, jika aku hilang aku akan bertanya" sahut Yana dengan ke 2 tangannya di lipat di dadanya.
" Mmm.... Kita akan kembali ke tanah jawa untuk segara mencari obat ayahmu" ucap andre
" Ya!!, Aku juga berpikir kita harus segera menemukan sisa mustika tersebut" jawab Yana.
" Ayo kita ke paman Kevin untuk membicarakan masalah ini " ajak Andre
Yana mengangguk,.
Andre meraih tangan Yana, dan kemudian berjalan. Yana yang melihat tangan Andre yang menggandeng tangannya, memebuat pipinya merah seketika.
( Oh!!!, Paman. Bukankah ini terlihat seperti seorang anak dan ayah?) Batin yana bersemu.
Kevin yang duuk di cafetaria melihat Andre dan Yana yang berjalan ke arahnya.
" Coba lihat para pembaca?, Bukankah Tua bangka itu sungguh tidak punya malu?" Guman Kevin mencibir .
Yana dan Andre kini telah memasuki kafetaria, lalu berjalan ke arah Kevin.
Kini Yana dan Andre duduk di depan Kevin.
Ujung mata Yana melirik ke arah Kevin, kemudian menatap Andre yang bertanya.
" Terserah paman saja," jawab Yana
Andre kemudian melabaikan tanganya ke arah pelayan. Setelah pelayan tersebut datang, Andre kemudian memesan minuman sesuai yang ia inginkan.
" Paman Kevin, kenapa wajahmu begitu jelek?" Tanya Yana membuka pembicaraan
Kevin melirik," karna kehadiran kalian.membuat nafasku sesak" ketus Kevin
Adnre dan Yana saling berpandang..
" Kita kesini untuk membicarakan tentang kita akan kembali mencari mustika untuk Raka " ucap Andre menjelaskan tujuannya menghampiri Kevin.
" Kalian berdua saja, sepertinya tanpa aku pun kalian bisa membawa mustika tersebut" tutur Kevin
" Kok paman begitu?, Kita harus kerja sama dong" ucap Yana
" Aku tidak ingin melihat drama, itu membuat dadaku sesak, perutku mual dan mataku sakit" ujar Kevin
Yana menatap aneh, " apa sih!!, Maksud paman. Kok akhir-akhir ini paman yang sensi sih?" Tanya Yana bingung.
Kevin menatap Yana ," ya!!, Sedikit" jawab Kevin ketus
__ADS_1
" Terserah kamu Vin, ini masalah Raka. Jangan seperti anak kecil begitu. Mau ikut dan tidak?. TERSERAH!!" Pekik Andre
" Ayo Yana, kita pergi ke tempat bundamu. Sepertinya aku sudah kenyang menatap wajahmu Vin" ujar Andre yang beranjak dari duduknya kemudian menarik tangan Yana.
" Woi!!!, Tunggu aku!!" Teriak Kevin mengejar
Saat kevin di belakang Andre, " Iya..iya, aku akan ikut dengan kalian. Dan lagian, jika hanya Yana dan kamu bisa-bisa babhaya " ucap Kevin dengan Langkah yang mengimbangi jalan Andre.
Yana yang mendengar pun mengerti dari maksud ucapan Kevin," iya!!, Lebih baik paman Kevin juga ikut. Semakin banyak orang, semakin kuat" jawab Yana yang menoleh kebelakang menatap Kevin.
Kini mereka bertiga telah sampai di ruang laboratorium.
" Bunda!!, Kenapa belum makan?"
Tanya Yan ketika melihat makanan yang ia berikan, tidak di sentuh oleh Santi.
Santi menoleh," Bunda masih kenyang" jawab Santi dan kembali menatap Raka.
Yana terdiam, ia kecewa karna kepeduliannya di abaikan oleh ibunya.
Andre yang melihat raut wajah sedih Yana mengahampiri," sudah!, Bundamu mungkin masih kenyang" ucap Andre
" Kakak ipar, makanlah sedikit. Kita akan kembali, agar kau punya tenaga" ucap Kevin menghampiri Santi dengan baki di tangannya.
Santi seketika menoleh ke arah Kevin," kalian pergilah. Aku akan menunggu di sini, aku ingin menemani Raka" ucap Santi dengan raut yang terlihat pucat bercampur dengan kesedihan.
" Mmm... baiklah, kalau itu mau kakak ipar" jawab Kevin .
" Nanti akan ku bawa beberapa pelayan untuk mengurusimu di sini" sahut Andre .
Santi tak menjawab, karna kini Santi sedang nyaman dengan ilusinya sendiri.
Kini Andre, kevin dan Yana susah bersiap-siapa, " apakah paman-paman sudah siap?" Tanya Yana
" Siap Kapten" jawab Andre dan Kevin serentak
Yana, Kevin dan Andre berjalan ke arah cangkang.
" Ayah!!, aku minta restumu, Doain aku supaya berhasil" ucap Yana kepada Ayahnya di hadapannya .
" Raka doakan kami. Semoga di beri kemudahan" ucap Kevin.
Mereka bertiga menoleh ke arah Santi," Bunda kami pamit yah!!, Doakan kami supaya berhasil" ucap Yana menghampiri ibunya .
" Iya... Kalian harus hati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri kalian. Andre, Kevin!!, aku titipkan Yana pada kalian. Tolong jaga dia" ucap Santi seraya memeluk tubuh Yana dan menciumnya.
" Baik!!, Akan selalu di usahan tuan putri selalu aman" jawab Andre
" Kami pergi bunda" ucap Yana pamit
Santi mengangguk,. Kini Santi dapat melihat pungung anaknya yang berlalu meninggalkan ruang laboratorium.
__ADS_1
Kini punggung mereka telah menghilang di balik pintu," semoga mereka bisa kembali dengan selamat dan membawakan obat untukmu Raka" guman Santi mengusap cangang di hadapannya.