
...I Love You Paman Dokter ...
...BAB 106 ...
...******...
2 Minggu kemudian setelah kepergian Andre,.
Santi sedang menemani Yana. Saat ini, Yana masih saja koma. Apakah Anak ini sudah tidak ingin bangun lagi?
"Nak, apakah kamu tidur selelap ini,mengapa sampai sekarang kau tidak membuka matamu?" Ucap Santi sesekali ia mengelus kepala Yana.
Mata Santi tiba-tiba terahlikan pada jari-jari Yana. Santi manatap fokus dengan Jari-jari Yana yang bergerak seperti orang bermain piano.
"Yana, apakah kamu mendengar suara Bunda?" Ucap Santi dengan mata penuh harap menatap Yana yang masih terbaring.
"Pa. . .man," suara Yana parau dengan terbata pelan ia berucap.
Santi yang mendengar suara Yana, dengan cepat menekan tombol. Tak lama, Marry dan beberapa asistennya datang ke ruangan.
"Marry, Yana bisa berbicara!" Sergah Santi ketika melihat Marry.
"Nyonya, saya periksa dulu keadaan Nona Yana," ucap Marry yang menuju ke arah Yana.
Marry nampak serius ketika memeriksa keadaan Yana.
Degh..Degh!
Jantung Yana mulai memacu, Ia dengan sontak memegang dada, "Sa..kit," ucap Yana Lirih.
"Nona Yana, anda harus menyesuikan jatung yang sekarang," ucap Marry.
Yana membuka mata yang terasa sangat berat,perlahan dengan pelan-pelan Yana mencoba menyesuainkan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Aku di mana?" Tanya Yana ketika mata sayu'nya mencoba melihat ke sekeliing.
"Nak. Kamu sudah sadar?" Ucap Santi.
Yana menatap ke arah Ibunya dengan pandangan bingung,"akhh!"teriak Yana tiba-tiba sembari memegang dadanya.
"Marry! Ada apa dengan Yana?" Tanya Santi Khawatir.
Marry manatap ke arah Santi,"Nyonya Santi, bisa ikut saya keluar?" Pinta Marry.
Santi mengangguk, kemudian mengekori Marry yang sudah berjalan mencapai ambang pintu.
Setelah di luar ruangan Marry menatap ke arah Santi,"Nyonya, Nona Yana sedang beradaptasi dengan jantung barunya. Tolong jangan pernah menyinggung masalah Tuanku di depan Nona Yana. Hal itu akan buruk untuk jantungnya," pinta Marry.
Santi mencerna penjelasan Marry, "baik, terima kasih Marry," ucap Santi yang kemudian menghubungi Raka.
__ADS_1
Setelah menghubungi Raka dan memberi tahukan keadaan Yana, Santi kemudian masuk ke dalam ruangan. Di lihatnya Yana hanya menatap kosong ke arah langit-langit.
"Sayang!" Panggil Santi.
Yana menoleh ke arah Santi,"Bunda! Kenapa aku ada di rumah sakit Paman Nadre? apa yang terjadi? Paman kemana? Kenapa Tante Marry yang memeriksaku?" Tanya Yana.
Degh!
Santi yang mendengar pertanyaan Yana. Membuat dadanya sakit. Santi mencoba membuat wajah'nya se'netral mungkin. Agar Yana tidak curiga.
Santi berjalan ke arah Yana dengan senyum yang ia paksakan di bibirnya.
"Kamu kemaren sakit Nak. Jadi di bawa ke sini, oh iya. Dokter Andre, sekarang lagi ada urusan." Jawab Santi di sertai mendung di dadanya.
Yana memalingkan pandangan ke balik Jendela kaca yang membuat sekat antara dirinya dan dunia di luar sana.
Yana memegang dadanya, meraba-raba ia merasakan ada bekas jahitan yang belum mengering.'aku ingat, terakhir aku tertidur. Aku berada di kediaman Kakek Raja. Tapi bekas ini?' batin Yana dengan tangan yang meraba-raba dadanya.
Krrekk!
Pintu ruangan terbuka, Raka yang datang langsung berlari ke arah Yana."Anak Ayah sudah bangun?" Tanya Raka sembari mengelus kepala Yana di sertai kecupan pada dahi Yana.
Yana menoleh ke arah Ayahnya dengan mata yang sendu,"Yah! Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Yana.
"Mm... Kau jangan berpikiran macam-macam dulu ya, sekarang kamu banyak istirahat biar cepat sembuh!" Ucap Raka sembari tersenyum.
Yana mengangguk, kembali Yana menatap ke arah luas lautan di balik jendela dengan telapak yang yang terus ia taru di dadanya.
Tiba-tiba, Yana *3***** dadanya kuat. Ia merasakan sakit yang teramat. Tanpa Yana sadari, Air matanya menetes.
'apa yang terjadi? Kenapa aku menangis? Kenapa dengan jantungku?' batin Yana.
Yana mencoba memejamkan matanya. Ia kembali teringat dengan pertemuannya dengan Andre saat ia koma. Tiba-tiba, jantung Yana kembali berdetak dengan cepat. Yana membuka matanya Lebar-lebar.
Yana menatap ke arah Santi dan Raka secara bergantian dengan tatapan menyelidik.
"Ayah!" Panggil Yana.
Raka menoleh, "Iya, ada apa? Apakah ada yang sakit?" Tanya Raka.
"Paman Andre kemana? Jawab yang jujur Yah," tanya Yana dengan penuh harap.
Mendengar pertanyaan Putri'nya, membuat Raka kembali merasakan sakit. Namun sebisa mungkin ia mencoba menahannya. Belum saatnya Yana mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, melihat kondisi Yana yang baru saja tersadar.
"Paman lagi ada urusan, ada pasien di di seberang pulau," Jawab Raka.
Yana membuang nafas berat, 'apakah aku hanya bermimpi? Mengenai Paman?' batin Yana.
********
__ADS_1
2 bulan berlalu,.
Raka memasuki ruang monitor dengan wajah yang gusar. Mengingat, ia mencari keberadaan Raja keparat itu. Semua cara telah ia coba. Namun ia keberadaan Raja tidak dapat ia temukan.
"Vin, apakah kau ada petunjuk tentang keberadaan Raja?" Tanya Raka kepada Kevin yang sedang sibuk melihat Layar komputer.
"Aku meminta anak buah Ayahku untuk melacak, namun, ada pertempuran dasyat yang terjadi di atas Laut pada waktu yang bersamaan dengan insiden kaburnya Raja." Jawab Kevin.
Raka berlari menghampiri Kevin dengan tergesa-gesa ia duduk di samping Kevin.
"Laut mana? Apakah ada rekaman?" Tanya Raka.
Kevin memutar kursinya, lalu menatap ke arah Raka,"Laut bagian Selatan di samudra pasifik. Namun sayang'nya aku tidak mempunyai remakan tersebut," ucap Kevin.
"Sial! Raja keparat, dia seperti menghilang di telan bumi. Aku sudah ke timur,ke barat, ke utara lalu kes selatan. Tidak juga aku temukan Raja keparat itu!" Pekik Raka dengan rahang yang mengeras.
"Aku akan tetap menyelidikinya." Ucap Kevin sembari menepuk-nepuk pundak Raka.
******
Di sebuah kamar,.
Yana terduduk di atas bingkai jendela. Ia mentap sendu dengan pemandang di balik jendela yang ada di hadapannya.
"Yana,beberapa bulan ini. Kamu nampak melamun dan kamu jarang sekali makan." Ucap Santi di balik tubuh Yana.
Yana menoleh ke arah Santi dengan mata yang berkaca-kaca," bunda, apakah Paman masih marah? Kenapa dia tidak mengunjungiku. Aku menunggunya hingga 2 bulan, apakah dia sangat sibuk? Aku Rindu Bunda," lirih Yana yang sudah tidak bisa membendung kerinduan kepada sosok dingin itu.
Santi menarik nafas panjang, sepertinya Yana harus tahu semuanya. Sudah terlalu lama Santi dan Raka membohongi Putri semata wayangnya.
Santi mengusap rambut Yana lembut, dengan tatapan mata yang sudah bergenang.
"Kamu tunggu di sini yah, Bunda mau keluar sebentar." Ucap Santi yang memutar tubuhnya kemudian berlari keluar kamar dengan isak.
Bruk!
Santi menabrak tubuh Raka saat hendak berlari ke arah kamarnya.
"Hei! Sayang ada apa? Kenapa kau menangis?" Raka bertanya khawatir.
Santi menatap ke arah Raka,"Yana, ia selalu bertanya-tanya keberadaan Dokter Andre. Apakah kita harus terus menyembunyikan ini?" Ucap Santi.
Raka memeluk tubuh Santi, "mau sampai kapan kita berbohong kepada Anak kita? Namun aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Yana, ketika ia mengetahui yang sebenarnya ," Ucap Raka di balik pelukannya.
"Itu yang sedang ku pikirkan. Lihatlah, bahkan Yana sampai kurus begitu. Karna selalu memikirkan Dokter Andre, jika kita menahan kebohongan ini. Itu sama saja mengajarkan Yana untuk membenci Dokter Andre." Ucap Santi.
"Yah kau benar, karna Yana akan berpikir Andre meninggalkannya dengan tanpa kejelasan." Sahut Raka.
Raka melepaskan pelukannya, "aku ambilkan kertas yang di titipkan oleh Andre dulu." Sambung Raka.
__ADS_1
Raka kemudian berjalan ke arah ruang kerja'nya. Kemudian berjalan ke arah Laci, Ia mengambil sebuah kertas. Dengan perasaan yang was-was.