
...I Love You Paman Dokter ...
...BAB 107 ...
...*******...
Raka menggenggam secarik kertas di tangannya. Dengan keyakinan, ia keluar dari ruang kerjanya.
"Ayo sayang, kita temui Yana." Ajak Raka yang menggenggam tangan Santi.
Santi dan Raka menuju ke kamar Yana. Di bukanya pintu kamar Yana. Terlihat, Yana masih duduk di atas bingkai jendela dengan pandangan sendu menatap ke depan.
"Yana!" Panggil Raka.
Yana menoleh dengan mata Sembab, "iya Ayah," sahut Yana Lirih.
"Turunlah. Ada yang ingin Ayah dan bunda sampaikan." Pinta Raka.
Yana beranjak turun dengan terseok, seperti ia tidak punya tenaga. Belakangan ini, ia lebih banyak mengurung diri di kamar dan selalu bertanya-tanya, kemana Paman Andre pergi. Bahkan nomor'nya pun tidak bisa di hubungi.
Apakah Paman Andre sebenci dan semarah itu kepada dirinya, dan lagi. Ayah dan Bundanya melarang untuk pergi ke kediaman Paman Andre, sebenarnya apa yang terjadi. Namun, Yana selalu merasa. Bahwa Pamannya itu selalu dekat dengan dirinya, selalu melihatnya dan selalu mengawasinya. Namun pada kenyataan yang Yana terima, itu hanyalah ilusi yang tidak bertepi.
Yana kini telah duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah tertunduk. Raka yang melihat sikap Anak'nya setelah kepergian Andre , Yana menjadi berubah. Yana yang dulu'nya ceria dan grasak grusuk, kini menjadi pendiam dan banyak melamun. Membuat Raka selalu mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
"Haaa!" Raka membuang nafas lalu duduk di samping Putrinya.
"Yana, ayah mau tanya. Saat ini, apa yang kau rasakan?" Tanya Raka mengelus kepala Yana.
Dengan wajah tertunduk sembari Yana mengayunkan kakinya, "entalah Ayah, aku merasa sangat hampa. Padahal, Ayah dan Bunda berkata bahwa Paman hanya pergi untuk urusan pekerjaan. Namun hatiku sangat risau," sahut Yana lemas.
"Se penting apa Paman Andre bagimu?" Tanya Raka kembali.
"Penting Yah, sangat penting. Di saat banyak lelaki yang mencoba mendekatiku, hanya Paman Andre yang mampuh menyetuh relung hatiku. Yah, mungkin ini terdengar lebay. Namun bagiku Paman Andre sangatlah berharga," ucap Yana dengan tetes air mata yang berjatuhan secara bergantian membasahi pahanya.
__ADS_1
"Haa...kamu sangat rindu?" Tanya Raka.
Yana sontak memeluk tubuh Ayahnya, " sangat Yah, sangat. Aku berpikir, kesalahan apa yang aku lakukan. Sampai-sampai, Paman tidak mau mengunjungiku dan tidak memberikan kabarnya padaku. Yah, tolong! Panggil Paman. Aku ingin berjumpa dengannya dan meminta maaf, karna sempat kabur dari kediamannya." Ucap Yana Lirih bersama tangisnya.
Raka medekap tubuh Anaknya. Santi hanya bisa menahan tangis. Mengapa Putri kecilnya bisa merasakan hal se'sakit ini. Apakah kutukan dari Iren masih berlaku, sampai-sampai Yana harus menanggung beban batin dengan orang yang ia cintai. Santi pikir, kesediahan tidak akan lagi menimpa keluarga kecilnya. Namun, yang Santi lihat saat ini begitu sakit. Karena Santi juga pernah berada di posisi Putrinya.
"Yana, maafkan Ayah dan Bunda. Jika selama ini kami menyembunyikan sebuah kebenaran darimu," ucap Raka denga suara pelan nan lirih.
Yana mendorong wajah dari tubuh ayahnya, lalu menatap ke arah Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maksud Ayah?" Tanya Yana bingung.
"Haa. . . Paman Andre, Sebenar'nya telah pergi," ucap Raka terbata dengan dada yang sesak ketika ia harus mengucapkan kalimat itu.
"Pergi? Maksud Ayah, Paman Andre pergi untuk pekerjaan 'kan?" Tanya Yana memastikan.
Raka menggeleng, Raka kemudian memberikan secarik kertas kepada Yana. Yana dengan jantung berdebar, menerima kertas tersebut. Dengan tidak sabar, Yana membuka kertas yang di berikan oleh Ayah'nya.
Sebuah perjalanan tanpa rasa sakit itu percuma! Karena seseorang tidak akan mendapatkan apa'pun tanpa pengorbanan. Pengorbananku adalah, memberikan jantungku. Taru telapak tanganmu di dada, dan rasakan. Di setiap detak yang berdenyut, ada namamu yang selalu ku sebut. Jasad'ku mungkin telah musnah saat kau membaca suratku ini. Namun, jantung yang aku berikan akan senantiasa menemani hari-harimu.
Tersenyumlah! Aku akan selalu melihatmu di sini. Yakinlah Yana, aku selalu mencintaimu, kenapa lilin harus mengorbankan dirinya. Sampai di ujung akhir hidupku ini. aku masih dapat mengatakan bahwa 'Aku mencintaimu' teruslah hidup demi diriku. Jangan pernah kau sia-sia'kan pengorbananku.
Dariku untukmu yang selalu menyayangimu, Andrean Willson.
Badan Yana bergetar, bahunya naik turun. Dadanya terasa sesak. Hantaman yang mendadak ini terlalu menyakitkan. Kertas yang di pengang oleh Yana telah basah dengan air mata yang terus menetes tanpa jeda.
Air mata Yana seakan tidak mengijinkan untuk berhenti mengalir. Yana menggeleng kepalanya kasar, bahwa apa yang ia baca itu tidaklah benar. Ini hanyalah candaan.
"bohong, semua ini bohong. Tolong katakan ini bohong kan!" Teriak Yana mencengkram kerah leher Ayah'nya.
Raka mengnggelengkan kepalanya menatap Lirih ke arah Yana.
Yana menatap ke arah Santi, "Bunda! Ini bohong'kan? Paman Andre sedang kerja 'kan?" Teriak Yana kepada Santi.
__ADS_1
Santi yang air matanya telah tumpah ruah juga menggelengkan kepalanya. Bahwa semua adalah kenyataan yang harus di terima oleh Yana.
"Kenapa kalian semua diam!" Teriak Yana yang langsung berlari ke luar kamar dengan tangisan'nya yang pecah.
"Yana! Kau mau kemana?" Teriak Raka dan Santi secara bersamaan.
Tanpa alas kaki, Yana terus berlari. "Paman, jangan pergi. Bagiamana aku hidup? Tolong beri penjelasan padaku," teriak Yana yang terus berlari melewati pagar.
Yana berlari sambil memegang dadanya, dada yang terasa sakit itu ia bawa bersamanya. bahwa jantung yang saat ini berdetak adalah jantung orang paling berharga untuk Yana.
"Paman kenapa kau lakukan ini? Bagaimana bisa aku hidup? Bagaimana? Tolong jelaskan Paman. Becanda tidak selucu ini," teriak Yana.
Yana berlari, hingga akhirnya ia tiba di sebuah makam. Yang ia tahu makam tersebut adalah makam keluarga Willson, karena Andre pernah mengajaknya ke makan orang tua Andre.
Dengan tertatih, dada yang sesak dengan air mata yang terus membanjir. Yana dapat melihat, foto hitam putih yang terpajang di sebuah pusara dengan bunga-bunga yang sudah nampak kering.
Yana bersimpuh di depan foto hitam putih dengan dada yang terhempit ribuan jarum. Di tatapnya foto yang ada di hadapannya dengan perasaan perih.
"Paman kenapa kau berbohong? Di sini, di makam ini. Kau berjanji kepada orang tuamu bahwa aku adalah gadis yang bisa membuatmu bahagia, tapi kenapa kau tinggalkan luka?" Ucap Yana lirih sembari tangannya mengelus lembut foto hitam putih yang ada di hadapannya.
Yana menjatuhkan tubuhnya di atas gundukan tanah, ia memeluk gundukan tanah itu dengan pilu, hatin yang tersayat-sayat bersama dengan tangisan Yana membahana, hingga ke galaxy.
"Tuhan! Kenapa kami harus berpisah, kenapa?" pilu Yana dengan tangan yang mengusap-ngusap permukaan tanah yang masih terdapat bunga-bunga.
"Tolong jawab tuhan!"
"Tuhaaaannn!!" Teriak Yana.
"Aku mohon, tolong kembalikan Paman kepadaku"
"Kembalikan suaranya saja. Biarkan...biarkan aku mendengarnya sekali lagi Tuhan! Ku mohon," tangis Yana semakin pecah di atas pusara yang meratapi kepergian Andre.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang. Mati kah?" Ucap Yana dengan pandangan kosong dengan tubuh tertelengkup memeluk pusara Andre.
__ADS_1