Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter

Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter
Penantian Yang Terjawab


__ADS_3

...I Love Paman Dokter ...


...BAB 109...


...******...


Hujan di area pemakam keluarga Willson masih sangat lebat, seorang Wanita sedang terkelengkup dengan tangis yang di samarkan oleh Air hujan.


wanita itu terlihat begitu Rapuh. Di pekatnya malam, dengan Hawa yang menusuk ari kulit, Wanita itu masih tergugu di atas pusara.


"Hei! Jika kamu terus menerus di bawah hujan. Kau akan sakit,"


Dengan sisa isak yang masih tersisa, Yana menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal. Seketika pupil mata Yana melebar dengan tangis yang pecah di sertai pundaknya yang naik turun akibat isak tangisnya yang membahana.


Yana berdiri, lalu memegang pipi seorang yang baru saja menyapa'nya. Dengan tangan gemetar, Yana menyentuh pipi itu dengan telapak tangan yang dingin akibat terkena hujan.


"Pa. . .man," ucapnya tergagu.


Dengan senyum yang terlihat menyakitkan, "aku merindukanmu rubah kecil," ucap Andre yang berdiri di hadapan Yana dengan memegang payung.


Yana dengan tangisnya yang menyeruak, langsung berhambur ke peluk'kan Pria yang selama ini ia rindukan.


"Paman, benarkah ini kau? Aku tidak bermimpi bukan?" Ucap Yana tergugu dengan erat memeluk tubuh Andre. Ia tak ingin bahwa pria yang di hadapannya, kembali pergi dan menghilang.


Andre melepaskan payung yang ia genggam, kemudian memeluk tubuh kurus milik Yana dengan perasaan sakit. Ketika melihat raut kesedihan di wajah wanita yang ia cintai.


"Ya... Aku kembali, maafkan aku. Maaf, karena membuatmu seperti ini." Ucap Andre dengan pelukan erat di bawah derasnya air hujan.


"Jangan pergi, jangan pergi lagi. Aku tak mau sendiri," tangis Yana.


Andre menggelengkan kepalanya, "tidak, aku janji." Tutur Andre.


Andre mendorong pelan tubuh Yana, memberi jarak berapa senti dengannya. Di dekap kedua pipi Yana lalu menatap lekat wajah wanita yang selama ini ia rindukan.


"Jangan menangis, itu terlalu menyakitkan." Guman Andre pelan menatap iris mata Yana.


Andre mendaratkan bibirnya ke bibir Yana yang nampak gemeteran akibat kedinginan. Yana menyambut bibir Andre dengan meresapi setiap sentuhan yang di berikan oleh Andre di bawah derasnya air hujan.


Andre pov


Bukan karena bertemu , kemudian kita berjodoh. Namun, karena kita berjodoh Kita bisa bertemu. Sebab, jika Tuhan menginginkan dua hati yang bersatu , Tuhan akan menggerakkan kedua hati Insan yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya salah satu hati yang berusaha, Seperti Takdir Tuhan saat ini, Sebagaimana yang telah tertakar. Tidak akan pernah tertukar!


*******

__ADS_1


Hei, bukankah setelah hujan akan cerah? Bahkan, bisa jadi ada pelangi. Dalam kehidupan, tidak semua yang di berikan adalah hal yang indah. Kau harus di uji agar kuat, mentalmu harus di asa agar terlatih, harus ada cambuk agar kau tetap tegar untuk berdiri dari perihnya terpaan kehidupan. Begitu pun dengan cinta, tidak ada luka paling sakit yang bisa kau hindari di saat kau sedang jatuh cinta.


*******


Andre melepaskan ciuman'nya, medekap kedua pipi Yana yang masih saja sesegukan.


"Yana," panggil Andre pelan.


"Hmm..," jawab Yana yang masih terlihat syok.


"Di depan makam orang tuaku saat ini, jika kau bukan jodohku. Maukah kau menjadi istriku? Dan jika kau tidak mau, maukah kau menjadi ma'mumku? Jika masih tidak mau, maukah kau menjadi seorang Ibu dari Anak-anak'ku? Dan hal tersebut membuatmu masih tidak mau, maukah kau menjadi menantu dari orang tuaku yang saat ini sedang melihat kita?" Ucap Andre.


Yana yang mendengar pertanyaan Andre, membuat ia tersipu di sela tangisnya. Yana menganggukan kepalanya. Lalu memeluk tubuh Andre.


"Yah aku mau!" Jawab Yana Yakin.


"Terima kasih! Aku mencintaimu," ucap Andre dengan perasaan yang mengharu biru.


Pelukkan Yana tiba-tiba melonggar dan tubuh Yana terkulai di dalam pelukkan Andre.


"Yana," panggil Andre pelan.


Andre mendorong tubuh Yana, dengan panik. Andre langsung menggendong tubuh Yana dan berlari menerobos hujan.


*****


"Raka! Ka," teriak Santi.


Raka yang baru saja selesai mandi, ketika mendengar teriak'kan Istrinya dengan cepat berlari ke arah Santi.


"Ada sayang? Kenapa kamu panik begitu?" Tanya Raka dengan cemas.


"Yana Ka, sampai larut begini. Dia belum pulang, di luar hujan masih sangat deras." Tutur Santi dengan cemas.


"Yana tidak ada di kamar?" Tanya Raka.


"Tidak ada, aku pikir sudah sore tadi jadi Yana tidak akan keluar. Namun saat aku ingin mengantar makanan, Yana tidak ada!" Jelas Santi kepada Raka.


Raka yang mendengar penuturan Santi pun terkejut, ia berlari ke arah ruang ganti. Setelah memakai baju, dengan cepat melangkah ke luar lalu menuju ke mobilnya.


"Ka, aku ikut." Pinta Santi ketika melihat Raka menaiki mobil.


Raka menatap Santi dari dalam mobil, "ayo! Sepertinya Yana sedang berada di makam Andre." Ucap Raka.

__ADS_1


Setelah Santi menaiki mobil, Raka langsung memacu mobilnya ke arah makam keluarga Willson.


Setibanya di sana, Raka dan Santi pun turun dengan menggunakan payung. Raka dan Santi berjalan ke arah Makam, Namun mereka tidak menemukan Yana. Hanya Ada sebuan payung yang tertinggal.


"Ka, Yana di mana?" Tanya Santi Panik dengan mata yang terus menjamah di sekitar makam.


"Entalah, Yah..Ampun Nak, kamu ada-ada saja." Guman Raka dengan kebingungan.


Dengan payung, Santi mulai berkeliling di sekitar makam, Ia begitu khawatir. Karena, bisa saja Yana pingsan atau sesuatu terjadi kepadanya.


"Yana!, Nak. Kamu di mana sayan?" Teriak Santi yang terus melangkah.


Begitu pun dengan Raka, ia tidak menemukan keberadaan Aura Anak'nya. Raka kemudian berlari menghampiri Santi.


"Sayang, sepertinya Yana tidak berada di sini," ucap Raka ketika bertatap dengan Santi.


Santi menatap wajah Raka dengan penuh kecemasan," terus Yana dimana Ka? Ini sudah sangat larut. Dan hujan, bahkan Yana belum makan." Ucap Santi dengan khawatir.


"Ayo, kita kembali dulu. Aku akan menyuruh bawahanku menyelidikinya." Ucap Raka.


Santo mengangguk kemudian mengekori Raka dari belakang yang berjalan keluar ke gerbang makam.


Sesampainya di rumah, Raka langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Yana.


Santi terduduk di sebuah sofa di ruangan keluarga dengan gelisah,"Ka, seharusnya kau meminta orang untuk mengawasi Yana. Bagiman kita sering kebobolan begini, setelah semua insiden selalu terjadi di dalam keluarga kita." Ucap Santi.


Raka mengacak rambut'nya frustrasi, "seharusnya iya, kenapa aku sangat T0l0l seharusnya aku memberikan pengawasan ekstra kepada Yana. Ya.. Ampun, aku harus bagimana jika terjadi sesuatu lagi terjadap Yana," Raka terlihat gusar.


"Semoga Yana tidak apa-apa. Kenapa aku harus terus menerus berada dalam situasi ini." Guman Santi.


Santi berpikir, setelah mengenal Raka. Masalah selalu datang menghampiri kehiduapan'nya. Santi sempat berpikir, lebih baik ia kembali ke dunia manusia. Walaupun selalu di cemoh dan di hina, ia tidak pernah berada di dalam situasi yang membuat ia selalu merasa khawatir.


Kring..Kring!


Tiba-tiba ponsel Rakq berbunyi, hal tersebut membuyarkan lamuman Santi. Raka menatap layar ponsel dengan dengan mata melotot.


'Andre memanggil...'


"Andre?" Ucap Raka terkejut.


Santi langsung berdiri dari duduknya, "Andre? Maksudnya?" Tanya Santi heran.


"Andre menelfon," sahut Raka.

__ADS_1


"Apa!" Teriak Santi terkejut.


__ADS_2