
...BAB 24 : Kenapa Dia Membenciku?...
Di tempat Santi,.
Yana terbangun ketika auang singa meneriaki namanya. Dengan sepurah nyawa, Yana beranjak turun dari tempat tidurnya.
Dengan tergopoh-gopoh, Yana membuka pintu kamarnya.
Kreeekkkk ( pintu terbuka )
" Hoooaaammmmm....." Yana menguap membuka mulutnya lebar-lebar seperti kuda Nil.
" Ok... Hari yang cerah, jiwa yang sehat untuk manusia pemalas sepertiku" sambung Yana dengan kaki tertatih menuju meja.
Setelah tiba di meja makan, " brruukkk" Yana kembali membanting kan kepalanya di atas meja.
"Yana!!" Panggil Santi saat sedang mengoreng nasi
" Hmmmm" jawab Yana
" Semalam , apa kamu tidak langsung tidur?. Main game lagi ya?" Tuduh Santi
" yah!!. Bun, otak Yana sedang bermain dengan om-om" jawab Yana dengan malasnya.
Santi seketika berlari menghampiri Yana," he... Om-om?. Kamu nih ya, masih seumprit tapi mikirinnya om-om" Santi menarik telinga Yana
" Atetettttt....aduh, Bun!!, Sakit. Bukan begitu maksud Yana" dengan tangan yang memegang kupingnya
" Trus maksudnya apa ah?" Sosor Santi kesal
" Ihh...lepasin dulu lah bunda, sakit ini!!" pinta Yana
Santi melepaskan tangannya, sembari kembali ke wajan penggorengan," cepat katakan, bunda akan dengar alasan kamu," ucap Santi
" Semalam Yana kan, keluar tuh!!, Trus lari ke kebun tebu, terus Yana ketemu sama siluman. Tapi dia tidak mau mengaku kalau dia siluman" jelas Yana
" He...terus kamu berkelahi?" Tanya Santi sekilas menoleh ke arah Yana
" Iya.. nah Yana patahin lehernya, abis itu Yana obatin. trus Yana tinggal pergi siluman itu," jelas Yana
" Lah.. terus masalah sama om-om itu , apa Yana!!?" Tanya Santi dengan penekanan
" Ih bunda, siluman itu umurnya sekitar 20an. Nah anehnya dia terlihat seperti yana" jawab Yana
" Maksudnya?" Tanya Santi penasaran.
" Om-om itu kaya manusia, tapi dia tidak bisa di lihat. Pas om-om itu berubah, dia mirip sama Yana. Yana punya tanduk, om-om itu tidak punya tanduk " jelas Yana
Deegghhhh ( jantung Santi seketika berhenti ketika mendengar penjelasan Yana )
" Terus?. Kamu biarkan om-om itu? " Tanya Santi dengan membawa nasi goreng
Yana mengangguk..
" Dimana?" cerca Santi
" Di Kebun tebu" Jawab Yana polos
" Kamu sarapan dulu, abis itu mandi. Bunda mau beli bahan makan dulu " ucap Santi
Yana menggguk,..
Yana kemudian menyendok nasi yang sudah tersaji.
Santi dengan cepat, mengeluarkan mobilnya tanpa memanasi mobilnya terlebih dahulu.
Santi mulai melajukan mobilnya ke arah kebun tebu...
__ADS_1
" apa jangan-jangan yang Yana temui adalah Andre atau Kevin ?. Semoga saja tidak terlambat," Guman Santi seraya menyetir.
Saat tiba di perkebunan tebu, Santi tidak melihat siapa pun . Santi mencoba menelusuri jalanan satu arah, namun hasilnya tetap nihil .
" sepertinya tidak sempat" guman Santi kecewa
...****************...
Sekolah Yana,.
Yana memasuki gerbang sekolah, ternyata sudah ada Dhika yang menunggu Yana.
" Yana!!. Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Dhika berjalan ke arah Yana
" Sudah sembuh kok," jawab Yana
" Syukurlah!!. Lain kali jangan suka berantem ya!!. Kamukan cewek" cakap Dhika seraya mengelus kepala Yana
Yana menepis tangan Dhika," tidak perlu sok care!!" Sanggah Yana seraya berlalu
Dhika hanya melihat punggung Yana yang berlalu, sekekali menatap tangannya dengan rasa kasihan karna di abaikan.
" Aku cuma mau menebus keselahanku" Dhika yang berbicara dengan angin, ketika Yana telah berlalu. seraya menatap tangannya.
Di lain tempat, Clara yang melihat Dhika dengan sikap yang tak biasa kepada anak kelas satu, membuat dadanya membara," Dhika sialan, aku begitu perhatian padamu. Namun kenapa kau lebih peduli dengan anak konyol itu?" Pekik Clara kesal.
Yana berlari ke ruang kelas, di sana ia sudah mendapati Adel yang sedang ngemil.
" Ya ampun Del, ini masih pagi loh!!" Yana menatap kenyang ketika melihat Adel yang sedang makan.
Adel menoleh," ga ada kerjaan . Yah!!, Mending ngemil" sahut Adel dengan mulut yang terus menguyah.
" Eh.. tapi badan kamu bagus loh, makan setiap saat dan setiap detik . tapi badanmu tidak gemuk" ujar Yana
" Terima kasih yan, atas pujiannya" sahut Adel
Yana mengoyangkan kepalanya," tidak ah, perutku tidak mengandung karet yang bisa melar" tolak Yana
Teng!!,Teng!!! ( Bunyi bell sekolah )
Adelnya mendengar bunyi bell, dengan cepat memungut plastik bekas makanannya. Kemudian berlari ke depan kelas untuk membuat ke tempat sampah.
Tak lama, guru pun datang dan pelajar di mulai. Setelah satu jam, akhirnya pelajaran pun selesai.
"Kamu mau ke kantin?" Tanya Adel
" Kamu duluan, aku sedikit ada urusan dengan toilet" sahut Yana dengan tangan yang merapikan alat tulisnya
" Ok!!, Aku tunggu ya!" Ujar Adel seraya berlalu
Setelah membereskan alat tulisnya, Yana beranjak dari kelas.
Saat Yana hendak keluar melewati pintu kelas, ada 4 wanita yang menghadangnya.
" Mau kemana kamu?" Tanya Clara seraya berjalan maju dengan tangan yang di lipat di dadanya
Yana melangkah mundur," aku ingin ke toilet, ada urusan apa ya?" Tanya Yana .
" He,, jangan mentang-mentang kau memukul murid kelas 3 kemarin, membuat mu jadi besar kepala. " Dengan tangan Clara yang mendorong dada Yana
" Aku tidak pernah mencari masalah duluan, kenapa aku harus besar kepala?, Lagian kepalaku ukurannya cukup normal" sahut Yana
" Mulut kamu ya!!, Bisa-bisanya menjawab" pekik Clara
" Lah.. emang kenyataan, apanya yang salah?" Jawab Yana
" Hajar aja Ra, ngapain sih nih bocah di kasih hati" sosor beberapa perempuan yang ada di samping Clara
__ADS_1
Clara menatap teman-temannya yang memberi saran kepadanya.
" Tidak perlu!!. Saat ini , kita beri peringatan terlebih dulu" ucap Clara berbisik kepada teman-temannya
" He.. kau, tidak usah tebar pesona kepada Dhika, awas!!. Jika aku melihatmu lagi bersama dihika" sambung Clara dengan menujuk wajah Yana
" Siapa?, Aku?, Kau ambil saja kotoran itu. Maaf aku bukan lalat" pungkas Yana dengan tatapan tajam
" Heee!!, Jadi kau menyindirku ah?" Teriak Clara
" Yah bagus!!, Jika merasa ke sindir " cetus Yana
" Ihh!!!, Nih anak, emang tidak boleh di kasih hati" teriak Clara yang tangannya hendak menjambak Yana
" Woi!!, Ada apa ribut-ribu?"
Semua menoleh ke asal suara.,
" Dhika?" Ucap Clara
" Ada apa ini?" Tanya Dhika menghampiri Clara
" Oh!!, Kak Dhika, ada yang ngancam. Kalu aku tidak boleh dekat-dekat sama ka Dhika," Adu Yana.
" Apa maksudnya Clara?" Tanya Dhika menatap Clara
Clara terlihat gelagapan, " eh.. enggak Dhik, tadi jalan kebutulan lewat saja" jawab Naura kikuk
" Owh, bukannya arah kelas 3 ke sana?" Ucap Dhika seraya menunjuk
" Ka Dhika, tolong urus lalatmu yang satu ini." Sanggah Yana seraya berlalu
" Yana!!, tunggu!!" Teriak Dhika berlari
Yana terus melangkah hingga Dhika menepuk pundaknya.
"Yan!!" Panggil Dhika
Yana menoleh," yah, kenapa?" Tanya Yana
" Kamu kenapa sih?, Sepertinya, kau dendam bangat sama aku?" Tanya Dhika
" Owh!, ka Dhika manggil aku hanya mengungkapkan pertanyaan ini?" Tanya Yana
" Terus!!, kamu mau aku ungkapin apa?" Dhika balik bertanya
" Seperti diut yang kemaren aku kembalikan ke ka Dhika, mungkinkah hal tersebut kurang?" Ucap Yana
" Ya.. ampun, kemaren aku hanya bercanda Yana. Kenapa sih kamu benci bangat sama aku?" Tanya Dhika kembali, ia ingin tahu alasan Yana. Kenapa selalu menghindarinya.
Yana memegang ke dua bahu Dhika , kemudian memutar-mutar tubuh Dhika, untuk Dhika dapat melihat sekitar halaman sekolah .
" Sudah lihat?" Tanya Yana
" Maksudnya apaan?" Tanya Dhika bingung
" Itu tatapan-tatapan yang ingin memakanku, jika aku terlalu dekat denganmu" ucap Yana
" Kenapa sih kau peduliin mereka?" Tanya Dhika
" He.. ka Dhika, situ mah enak ngomong kaya gitu. Ka Dhika tahu? Saat aku baru masuk ,aku di siram pake minuman . Dan saat di kantin ,aku di siram pake kuah dan yang tadi barusan apa?. Aku di ancam, pake otak" pekik Yana dengan menujuk kepalanya sendiri
Dhika terdiam ketika mendengar alasan Yana.
" Sudah tahu kan?. jika tidak ingin mendapatkan masalah, maka nenghindarlah dari masalah. karna aku tidak ingin membuat masalah. Jadi tolong!!, Ka Dhika tidak perlu sok care atau pun sok jadi pahlwan buat aku" tukas Yana seraya berlalu meninggalkan Dhika.
Dhika hanya mematung dengan melihat punggung Yana yang berlalu," padahal, wanita-wanita itu yang mengejarku. Kenapa yang di benci adalah diriku?" Guman Dhika menatap sendu punggung Yana yang menjauh.
__ADS_1