Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter

Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter
Kesialan Andre


__ADS_3

...I Love You Paman Dokter ...


...BAB 110 ...


...**********...


Andre bergegas berlari menerobos hujan dengan Yana yang sedang berada di dalam gendongan'nya.


"Yana, kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Badan'mu sampai kurus begini. Dan juga raut wajah'mu yang membuat'ku sakit." Ucap Andre yang sudah menggunakan kekuatannya.


Andre pun tiba di depan gerbang rumahnya. Namun di kediaman'nya itu. Lampu tidak menyala.


"Marko!" Pangil Andre dengan Lantang.


"Markooo! Buka gerbangnya!"


Dari kejauhan, samar-sama ada orang belari. Di saat orang itu mendekat. Dengan terkejut menatapa Andre dengan gemeteran.


"Han---tu!" Teriaknya lalu pingsan.


Andre yang melihat Marko seperti itu pun mendengus dengan Kesal.


"Bangun Marko, jangan membuatku murka. Kau itu roh halus. Masa takut dengan Hantu!" Pekik Andre melihat Marko yang tergeletak di balik gerbang besi.


Melihat Marko masih tak bergeming, membuat Andre menjadi semakin murka, "Makro! Jika kau tidak bangun dan sudahi akting'mu itu, aku akan meleparmu ke Toilet umum dan kau akan bekerja di sana!" Geram Andre.


Marko yang mendengar, dengan sekejap langsung berdiri, " jangan Tuan! Ah.. Tuan tidak asyik, padahal aku sedang melakukan Drama," ucap Marko yang kemudian membuka gerbang.


Andre berlari masuk, dengan mata yang menelusuri kediaman'nya yang nampak tak terurus.


"Marko! Kemana para pekerja?" Tanya Andre.


"Semuanya kabur Tuan, 1 Tahun Tuan pergi. Siapa yang mengaji mereka? Hanya aku saja yang tetap setia," ucap Marko.


"Lantas, kenapa semua lampu padam?" Tanya Andre.


"Token listrik abis Tuan!" Sahut Marko.


"Astaga, mengapa di dunia halu seperti ini harus memakai token? Aku pikir aku adalah orang ningrat. Haaa!" Guman Andre.


Andre memasuki kediamannya. Dan Marko mencoba memberikan penerangan menggunakan senter.


"Marko! Ini duit, segera beli token. Kembaliannya ambil saja!" Ucap Andre.


"Baik tuan!" Sahut Marko berlalu. .


Andre kemudian meraih ponselnya, lalu mencoba menghidupkannya, "untung saja aku pakai SIM card limitied edition." Andre menunggu layar ponselnya menyala dengan sempurna.


"Ya ampun! Kouta aku juga habis? Kenapa alur'nya menge'sad begini!" Guman Andre seraya membuang nafas berat.

__ADS_1


Tak lama, ruangan'nya pun menyala,"Astaga naga Ular naga di telaga!" Kaget Andre sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kediamanku seperti rumah horor? Mengapa ini terlihat seperti sarangnya para wewe gombel!" Teriak Andre.


"Ah..sudah'lah. Aku harus mengobati Yana terlebih dahulu" Guman Andre.


Andre kembali mengangkat Tubuh Yana lalu pergi ke ruang bawah. Di mana ruang tersebut, adalah ruangan untuk Andre bereksperimen.


Sesampainya di dalam ruangan tersebut, seperti tadi. Andre syok ketika melihat banyak sarang laba-laba di dalam ruangan tersebut. Tanpa membuang banyak waktu, Andre kemudian pergi ke tempat penyimpanan obat.


"Expired?" Guman Andre yang kemudian melempar asal botol obat tersebut.


"Kadaluarsa!"


"Expired!"


"Tidak layak pakai!"


"Astaga Apa ini thor! Kenapa satu obat pun tidak bisa ku gunakan?" Teriak Andre dengan tangan mengacak-ngacak isi rak.


"Sial!" Umpat Andre.


Andre meraih ponselnya, lalu mencoba menelfo Raka. Beberapa kali suara penghubung berbunyi, namun Raka tidak mengangkatnya.


"Raka sialan! Kau pikir, yang menelfonmu itu hantu atau malaikat maut!" Pekik Andre yang terus mencoba menghubugi Raka.


"Emang sial, ya sudah. Aku akan Ke Hospital Blue Sea," guman Andre.


Andre kembali menggunakan kekuatannya menuju ke arah Rumah Sakit, "rubah kecil, maafkan aku. Menologmu saja, butuh perjuangan seperti ini."


Tak Lama Andre pun tiba di Rumah Sakit. Namun Rumah Sakit yang ia bangun pun tampak sangat horor.


"Apa yang terjadi, mengapa begini. Bukankah aku sudah menyuruh Marry untuk mengurus kediamanku dan juga Rumah Sakit. Kenapa Rumah Sakitku terlihat seperti sarang para kuntilanak?" Guman Andre keheranan.


Andre pun memasuki Rumah Sakit. Di dalam Rumah Sakit, ternyata lebih horor dan mencekam.


"Tu--an!" Ucap Marry terbata ketika melihat Andre.


Andre menoleh ke arah Suara, "Marry. Tolong urus Nona Yana," Pinta Andre.


"Ba--ik, Tuan." Jawab Marry.


Marry berjalan ke sebuah ruangan bersama Andre yang mengekori'nya dari belakang. Tiba di ruangan, Andre membaringkan Yana dan mulai memberikan beberapa penanganan untuk Yana.


"Marry!" Panggil Andre.


Marry menoleh ke arah Tuan'nya dengan raut ketakutan.


"Jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Andre dengan suara yang dingin.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan, karna lalai menjaga amanah Tuan. Para pekerja di sini mengundurkan diri, karena mereka tidak di gaji." Ucap Marry.


"Apa! Bagaimana bisa tidak di gaji Marry! Semuanya sudah ku serahkan padamu. Kau mengecawakan'ku Marry, 1 tahun kepergianku, Semuanya hancur gara-gara aku terlalu percaya padamu!" Bentak Andre dengan murka'nya kepada Marry.


"Tuan, ma--af! Bukan begitu--"


"Bukan begitu apa? Kau ingin bermain-main denganku? Kau tahu, kediamanku juga hancur karena memberikan kepercayaanku padamu!" Ucap Andre sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Tuan! Keuangan Rumah Sakit atas nama Tuan. Dan kode Rumah Sakit beserta kode keuangan, hanya Tuan yang mengetahuinya. Tuan tidak memberitahu'kan kepada Saya, Saya tidak bisa mencairkan dana yang masuk!" Ucap Marry dengan satu tarikan nafas menjelaskan apa yang terjadi.


"Uhuk!" Andre tersendak dengan Air liur'nya sendiri. Bahwa yang di katakan Marry memang benar, ia tidak sempat memberikan penjelasan tentang masalah kode dan password Rumah Sakit.


Andre menjadi kikuk dan salah tingkah ketika mendengar Penjelasan Marry. Ini adalah murni keselahannya sendiri.


"Mm--aaf!" Ucap Andre canggung.


"Tolong pantau keadaan Yana. Aku akan menyelesainkan masalah ini," ucap Andre.


"Baik Tuan!" Jawab Marry.


Andre kemudian keluar dari ruangan dengan perasaan malu. 'yang benar saja, aku sampi lupa dengan hal sepenting ini,' batin Andre yang kemudian menepuk jidat'nya sendiri .


Andre pun menuju ke arah ruang monitor, ia masih sangat beruntung karena masih ada orang seperti Marko dan Marry yang masih setia kepada diri'nya. Setelah menatap layar monitor, Andre dapat melihat keuangan pendapatan Rumah sakit yang masih utuh. Namun statistik angka keuangan yang masuk terjadi penurunan di 5 bulan yang lalu.


"Haaa...berjuang lagi dari Nol, akibat kecerobohanku," guman Andre menatap Layar monitor.


Kring..kring!


Andre meriah ponselnya yang berdering.


📞 [Andre! Apakah ini benar kau! Serius, demi apa? Bukan hantu kan! ] Teriak Raka dari seberang telfon.


Andre dengan sontak menjauhkan ponsel'nya dari telinganya.


"Dia pikir aku tuli?" Guman Andre menatap layar ponsel'nya.


📞[Andre! Apakah kau menelfonku dari atas langit atau bagaimana?]


📞[Andre woi! Jawab. Apakah kamu sedang di siksa di dalam tanah?]


"Astaga! Orang ini. Benar-benar mengangap'ku mati benaran,"


Andre menaruh kembali ponselnya ke telinga.


📞 [Bisakah kau berbicara tidak perlu berteriak Raka? Kotoran di telinga'ku bahkan terhempas. Ketika mendengar suaramu,] ucap Andre.


📞 [Oh maaf! Kamu sekarang ada dimana?] Tanya Raka.


📞 [Aku di Rumah Sakit bersama Yana,] ucap Andre.

__ADS_1


📞[Oh.. syukur'lah jika Yana sudah bertemu denganmu. Aku akan segera ke sana] ucap Raka yang kemudian memutuskan sambungan telfonnya.


__ADS_2