
...I Love You Paman Dokter...
...BAB 91...
...****************...
Andre beranjak dari tempat tidur. Dan membiarkan Yana yang masih dalam keadaan terlelap.
Andre melangkahkan kakinya, beranjak dari kamar. Kemudian ia pun menuju ke arah ruang bawah tanah, Di bukannya pintu berbahan tembaga yang ada di hadapannya.
Di dalam ruangan itu, terlihat berbagai macam tabung dan juga layar monitor. Andre mencari sesuatu di dalam saku celananya.
Andre menatap lekat benda pipih tipis mungil mirip seperti Card Micro Sd, " Ndre, chip ini. Tolong kau sisipkan ke tubuh Yana. Aku takut jika terjadi sesuatu kepada Yana, aku harus belajar dari kejadianku dan Santi. Gps dan penuntu semua telah aku masukan ke dalam Chip ini." Andre mengingat ucapan Raka yang memberikan benda yang berada di ujung jari Andre.
Andre tersenyum," aku akan memodifikasinya, agar aku tetap dapat memamtau Yana," Guman Andre.
Andre kemudian memasukan chip tersebut ke dalam PC'nya. Dan terlihat serius memasukan beberapa data ke dalam chip tersebut.
******
Yana meraba-raba area tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.
" Hmmm... Paman?"
Panggil Yana dengan mencoba membuka matanya perlahan.
" Hhaaa... Apakah aku bermimpi?. Perasaan paman tadi tidur di sampingku," guman Yana.
Tok.. Tok!!
" Nyoya kecil!!. Apaka kau sudah bangun?" Tanya seorang pelayan di balik pintu.
Mendengar pintu di ketuk, Yana menoleh ke arah Pintu, " Iya bi, masuk saja." Titah Yana.
Klek!
Pintu terbuka, terlihat ada dua pelayan wanita yang berjalan ke arah tempat tidur.
" Nyonya kecil, Tuan meminta agar nona minum susu. Dan setelah itu, Anda harus mandi," ucap seorang pelayan.
Yana mencoba bangkit dan menyenderkan punggungnya di kelapa tempat tidur.
" Paman kemana bi?" Tanya Yana.
Pelayan memberikan mampan yang berisi susu, roti dan buah-buahan. " Tuan sepertinya di ruang kerja Nyonya kecil," Jawab pelayan itu.
Yana meneguk susu yang di berikan oleh pelayan. Lalu meraih sepotong roti dan langsung mengunyahnya.
Para pelayan, menatap Yana yang sedang menikmati makanan ringannya. Setelah selesai dengan makanannya, Yana beranjak turun dari tempat tidur.
" Mari Nyonya kecil, kami antar ke ruang SPA," ucap Seorang pelayan.
" Mm.. aku bisa mandi sendiri, jika kalian ingin memandikanku. Ya sudah!" Ucap Yana yang kemudian berjalan menuju ke arah pintu kamar. Di sertai 2 pelayan yang mengekorinya.
Andre kini telah selesai, Andre pun meninggalkan ruangan pergelutannya. Lalu berjalan menaiki anak tangga kemudian menuju ke arah ruang rias. Ia mendapati Yana yang sedang di tata oleh beberapa pelayan.
Ketika para pelayan melihat Andre yang memasuki ruanga, dengan kompak. Tubuh mereka membungkuk memberi hormat.
Andre berjalan ke arah Yana, di tatap wanita yang ia cintai dari arah pantulan cermin.
__ADS_1
" Bagaimana, segar?" Tanya Andre yang mengecup Dahi Yana.
Yana mengangguk sembari memberikan seutas senyuman kepada Andre.
" Selesai ini, ikut aku. " Ucap Andre.
Yana menatap Andre dari arah pantulan," mau kemana?" Tanya Yana.
" Aku mau menodifikasimu untuk menjadi power renger," Sahut Andre.
Yana mengerutkan Alisnya," kenapa ga sekalian Ultraman paman?" Tutur Yana dengan wajah herannya.
" Bisa, jika kamu mau."
" Apa jadinya Ultramen mempunyai gunung di dada?"
" Mmm.. bahasamu mulai nakal,"
" Hahahaha... Habisnya, paman ada-ada saja."
" Yah sudah!. Aku menunggumu di ruang lab'ku."
Yana mengangguk menanggapi ucapan Andre. Andre kemudian meninggalkan Yana yang sedang dalam proses di tata.
Dan akhirnya, Kini Yana sudah terlihat menawan. Yana kemudian menghampiri Andre ke ruang Lab'nya. Setibanya di ruang Lab, terlihat Andre sudah memakai jas lab'nya.
" Paman!" Panggil Yana.
Andre menoleh," Sini!" Ucap Andre.
Yana berjalan ke arah Andre," apa yang akan paman lakukan?" Tanya Yana.
" Rubah kecil, Paman ingin menaruh chip ini di belakang tengkuk lehermu. Hanya perlu sayatan kecil, Ini untuk memantaumu,"
Ucap Andre menjelaskan. Dengan chip yang di tunjukan oleh Andre kepada Yana.
" Apakah aku harus di pantau seperti ini paman?. Sampai-sampai aku tidak punya privasi?" Yana terlihat keberatan.
" Bukan, bukan maksudku dan ayahmu menekanmu. Ini sangat penting, demi keselamatanmu." Ucap Andre.
" Keselamatan?. Memangnya apa yang akan terjadi kepadaku?" Tanya Yana.
" Untuk jaga-jaga. Kau tidak tahu, kakekmu dan ayahmu itu, musuhnya sangat banyak." Jawab Andre.
Yana terdiam, karna Yana sangat keberatan jika tubuhnya harus di pasangkan benda aneh yang membuat gerak-geriknya terbaca.
" Yana, aku mohon!. Menurut ya, Kau tahu. Aku ingin melindungimu jika kau sedang tidak bersamaku," pinta Andre yang memegang kedua pundak Yana dengan binar memohon.
Dengan terpaksa, Yana akhirnya mengangguk.
Andre tersenyum, ketika melihat Yana mengangguk. " ayo, kamu naik di bed itu. Ini tidak sakit." Titah Andre.
Yana kemudian berjalan ke arah bed yang di maksud oleh Andre. Sesampainya di bed, Yana kemudian berbaring.
" Yana menghadap ke sana," titah Andre.
Yana hanya menurut dan menghadap sesuai perintah Andre. Kini Yana telah membelakangi Andre.
Andre meraih kapas yang sudah di rendam dengan Alhokol, lalu mengoleskannya ke tengkuk Yana. Setelah itu, Andre mulai menancapkan jarum suntik ke tengkuk Yana.
__ADS_1
Andre meraih sebuah pisau, Lalu mulai menggoreskan pisau tipis nan pipih itu ke kulit Yana. Setelahnya, Andre menyelipkan Benda berukuran Memori Crad ke dalam sayatan.
Setelah itu, Andre pun menjahitnya. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Agar Yana tidak merasakan sakit.
Setelah di balut, Andre menuju ke layar monitor kemudian mulai mengatifkan program pada chip.
Andre menatap layar monitor dengan serius," detak jantung ok, Otak ok, dll semuanya ok. Dan selesai," guman Andre.
" Rubah kecil, kamu boleh beranjak dari situ," titah Andre.
Yana beranjak dari bed, lalu berjalan ke arah Andre. Di lihatnya layar monitor di hadapannya dengan takjub.
" Apa ini paman?" Tanya Yana.
" Detail di dalam tubuhmu. Dan juga ada radar yang akan memberitahu aku dan ayahmu, jika kau dalam keadaan bahaya. Alarm di sini dan di tempat ayahmu akan berbunyi." Jawab Andre menjelaskan.
" Oh .. aku pikir ini penyadap rasa, makanya aku ragu." Sahut Yana.
" itu micin Yana!" Jawab Andre.
" Oh.. iya ya.." sembari terkekeh.
Andre menoleh ke arah Yana. " Bagaimana, baik belajar hari ini?" Tanya Andre.
"Boleh!" Sahut Yana.
Andre dan Yana pun beranjak dari ruang Lab dan menuju ke arah ruangan yang di khususkan untuk mengajari Yana.
Sesampainya di ruangan tersebut, Andre dengan antusias mengajari Yana mengenai rumus-rumus fisika.
Namun, wajah Yana terlihat gusar. Karna kemampuan otak Yana tidak bisa mencerna apa yang di jelaskan oleh Andre.
" Kamu bisa tidak?" Tanya Andre yang duduk tepat di belakang tubuh Yana.
" Paman!. Sunggu mati, aku tidak mengerti" sahut Yana.
" Yang mana?. Coba sini aku lihat, kenapa otakmu tulalit begini?" Ucap Andre di balik tubuh Yana.
" Ini.. yang ini paman, bagaimana bisa rumus seperti kau suruh aku menghafalnya," renggek Yana sambil menujuk buku. Sesekali Yana mengatur posisi duduknya.
Andre tiba-tiba terpaku, lalu kemudian menegang. Wajahnya memerah, ketika pinggul Yana tidak sengaja tergesek di tongkat sakti milik Andre.
' anak b4ngke!. Mengapa juga dia menggoyang-goyangkan pinggulnya?. Apakah dia tidak tahu, bahwa belut muaraku kini telah menegang?' batin Andre gelisah.
" Paman!" Panggil Yana.
" Eh.. iya," Sahut Andre Kaget.
" Kenapa diam?" Tanya Yana.
" Ah tidak apa-apa," sahut Andre yang mencoba senetral mungkin, namun di bawah Sana. Sesuatu telah mengeras.
" Paman!" Panggil Yana dengan sesekali menggoyang-goyangkan punggungnya kembali.
" Yah!!" Sahut Andre.
" Ini, di belakangku. Ada sesuatu yang mengeras, perasaan tadi tidak," ucap Yana.
Dari raut wajah Andre terlihat sangat gelisah," rubah kecil, bisakah kau berhenti menggoyangkan pinggulmu?. Aku tidak akan bertanggug Jawab ketika pistolku sekarang sedang menodong," ucap Andre yang mencoba menahan sesuatu rasa.
__ADS_1
" Pistol?. Apakah yang keras ini pistol paman?. Kok berada di bawah?" Tanya Yana polos, dengan tangannya memegang sejanta Andre.