
...I Love Paman Dokter...
...BAB 108...
...******...
Raka dan Santi dengan panik mengejar Yana. Saat Raka dan Santi tiba di pintu depan, Yana sudah berlari semakin jauh.
Raka dengan cepat mengambil mobilnya, setelah Santi menaiki mobil, Raka pun melaju. Saat mobil yang di kendarai Raka mendekati Yana, Raka pelankan laju pada mobil.
Raka mengikuti Yana, dan dugaan Raka tepat. Bahwa Yana akan pergi ke makam Andre. Raka menepikan mobilnya, Raka dan Santi pun turun lalu mengikuti Yana dari belakang dan memantau Yana dari kejauhan.
Saat Raka dan Santi melihat betapa terpukulnya Yana, mereka hanya bisa menatap lirih dari kejauhan.
"Ka, ayo kita ke sana. Kita harus menenangkan Yana," ajak Santi khawatir dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
"Biarkan, biarkan Yana meluapkan emosinya. Aku juga tidak sanggup melihat Yana seperti itu." Ucap Raka.
...*****...
Yana masih meratapi kepergian belahan jiwanya. Sudah berapa liter air yang telah keluar dari mata abu-abu milik Yana. Yang Yana tahu, saat ini ia begitu rapuh.
"Paman! Apakah kau melihatku yang sangat kacau ini. dari atas sana?" Guman Yana yang masih tetap dengan posisi terkelungkup sembari memeluk tanah.
"Nak, sudah. Sudahi kesedihamu, Paman Andre akan sangat kecewa jika melihatmu begini," ucap Raka yang datang mencoba mengangkat tubuh Yana.
Seketika Yana berhambur ke peluk'kan Ayah'nya. Memeluk lelaki di sampingnya itu, berharap ada kekuatan yang di berikan oleh Raka kepada tubuh yang terlanjur rapuh akibat hantaman dari akhir cintanya.
"Ayah! Mengapa paman Andre memberikan jantung'nya kepadaku dan menyuruhku untuk bahagia, sedangkan kebahagianku adalah dirinya. Kenapa paman Andre memintaku untuk tetap hidup, sedangkan separuh jiwaku bersama'nya. Apa dia pikir aku akan terbiasa dengan ini semua?" Tangis Yana memeluk erat tubuh Raka.
"Sttt..sayang,sudah yah. Biarkan Paman istirahat dengan tenang. Jika kau terus-terusan seperti ini, Paman yang melihatmu juga ikutan sedih? Nak. Dengarkan Ayah, waktu akan mengobati lukamu. Ayo, kita minta pamit pada Paman. Semoga Paman tenang," ucap Raka mencoba menenangkan Putrinya.
Yana masih dengan isaknya menatap ke arah pusara, "Paman aku pulang, aku janji. Aku akan terus menemanimu. Agar kau tidak kesepian di sini," ucap Yana dengan tangan yang mengelus-ngelus pusara di hadapannya.
__ADS_1
Kini Raka mempah Yana menuju ke arah mobil. Setelah memasuki mobil, Raka pun melajukan mobilnya menuju ke kediamannya.
...********...
1 Tahun kemudian,.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan dan bulan pun berganti Tahun.
Hari-hari yang di lalui oleh Yana terasa begitu berat. Karna Yana harus memaksakan dirinya untuk merelakan seseorang yang sangat berarti di kehidupannya.
Satu tahun tidak lah cukup untuk melupakan sosok Andre. Mungkin, Yana membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk melupakan pria yang telah menacap kuat di relung hatinya.
"Nak makan dulu," ucap Santi yang melihat Anaknya yang sedang berdiri di atas balkon.
"Yana tidak lapar Bun." Jawab Yana dengan pandangan yang terus menatap ke depan.
Santi merangkul punggung Yana,"sudah 1 tahun berlalu. Namun kamu belum mengikhlaskan kepergian Dokter Andre?" Ucap Santi sedih.
Santi memeluk tubuh Anaknya yang terasa hanya tulang. Sejak Yana mengetahui kematian Andre, Yana sangat sulit untuk berbicara. Bahkan untuk makan Saja, Raka harus memarahinya terlebih dahulu.
Santi sangat khawatir dengan keadaan Yana. Yana terlihat begitu depresi tentang kematian Andre. Santi dan Raka sampai -sampai ingin menyerah untuk menyemangati Yana. Yang Yana lakukan, hanya mengurung diri di dalam kamar dengan membuat bintang-bintang dari kertas , kemudian ia menaruh bintang-bintang yang ia buat itu di atas kuburan Andre.
"Sayang! Bunda tinggal dulu. Jika kamu ingin makan, Bunda sudah siapkan di atas meja." Ucap Santi yang berlalu pergi meninggalkan Yana.
Yana tak bergeming, ia menatap langit dengan jingga megah sang matahari yang ingin bersembunyi di balik awan dengan pandangan sendu dari atas balkon.
"Paman, aku takut bertemu malam. Karena di setiap malam, Ketika suasana menjadi sepi. Hal itu terasa menyeramkan saat aku harus bercerita bagaimana sakitnya merindukanmu ketika semua orang terlelap di dalam mimpi," guman Yana menatap lirih ke langit.
Yana melangkahkan kakinya, ia menuju ke arah meja yang ada di kamarnya. Yana kemudian mengeluarkan kertas origami dari sebuh laci dan mulai menuliskan semua rasa yang ia rasakan di atas kertas tersebut. Setelah menulis ungkapan perasaannya, Yana kemudian melipat kertas tersebut menjadi sebuah bintang.
Yana melakukan itu, setelah mengetahui kematian Andre. Ia membuat bintang-bintang tersebut dengan harapan, semua perasaan yang ia tulis dapat di sampaikan kepada Andre.
Karna Yana beranggapan, bahwa lambang bintang adalah sebuah harapan. Setelah selesai membuat bintang tersebut, Yana berjalan keluar dari kamarnya. Dengan pandangan kosong, Yana terus melangkah hingga ke gerbang.
__ADS_1
Suasana sudah tampak gelap, dan sepertinya akan turun hujan. Karena terlihat di langit yang sudah menghitam, ada kilatan cahaya yang menyambar-nyambar.
Yana pun keluar gerbang dan mulai melangkah meninggalkan rumah dengan bintang buatannya di dalam genggaman tangannya. Sampai ia tiba di sebuah makam yang di atas makam tersebut telah di taburi oleh bintang-bintang dati kertas buatan Yana sendiri.
Yana berjalan ke arah makam itu, lalu menatap makam tersebut dengan senyuman,"Paman, aku datang mengunjungimu. Apakah mati itu enak, Paman? Buktinya kau sampai tidak bangun lagi," ucap Yana berbicara dengan pusara yang berada di hadapannya.
Yang kemudian berjongkok dan menaruh bintang buatannya di atas makam,"paman ini adalah bintang ke 1000 yang aku buat. Semoga kamu tidak bosan ya merima bintang-bintang dariku." Ucap Yana.
Di langit kilat terlihat menyambar-nyambar. Karna sepertinya akan ada badai yang akan datang. Dengan hembusan angin yang kencang membuat bintang-bintang yang Yana buat mulai beterbangan.
Yana dengan panik mengejar bintang-bintang itu,"jangan pergi! Kalian adalah harapan dan doa yang aku kirimkan kepada Paman!" Teriak Yana sambil berlari memungut para bintang yang bertebangan.
Jeedaaar!!
Tiba-tiba suara petir menggelegar di sertai hujan lebat. Yana masih berusaha mengejar bintang-bintang tersebut. Setelah terkumpul, Yana menaruh kembali di atas makam Andre.
"Paman saat ini hujan, kamu pasti kedinginan. Aku akan menemanimu paman. Jadi paman tenang saja," Ucap Yana sembari memeluk makam Andre di bawah derasnya air hujan yang telah membasihi sekujur tubuhnya.
"Nah Paman, apakah kamu sudah merasa hangat?" Ucap Yana dengan tangisnya. Namun di samarkan oleh air hujan yang juga ikut mengalir bersama dengan air mata Yana.
Yana memeluk erat makam Andre. Karna Yana berpikir, Andre akan kedinginan dan akan kesepian jika Yana meninggalkan makamnya.
"Paman aku sangat rindu, apakah kau mendengarnya. Ya, aku tahu kau juga merindukan'ku," Yana yang berbicara dengan ilusinya.
"Paman tidak usaha khawatir ya. Karna aku tidak akan meninggalkan Paman sendirian di sini."
Yana sudah terlihat menggigil kedinginan namun masih memaksakan dirinya untuk tetap barada di bawah derasnya hujan, sembari memeluk pusara dari orang yang terkasih.
Yana merasa ada yang memberikan sebuah peneduh pada tubuhnya. Ketika tubuhnya tidak lagi terkena air hujan.
"Hei! Kau akan sakit jika terus menerus berada di bawah hujan,"
Yana yang mendengar suara yang tidak Asing, dengan cepat mengadahkan wajahnya ke atas. Dengan seketika, pupil mata Yana melebar dengan sontak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1