Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter

Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter
Persiapan Ke Hutan Blue Lake


__ADS_3

I Love You Paman Dokter


BAB 98


...****************...


Raka memasuki kediaman, ketika mobil yang Raka bawa telah sampai di depan teras rumah. Ia langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.


📞 [ Halo Pi! Pi, tolong siapkan Anak buah Papi yang paling bisa di andalakan. Utus semua ke hutan Blue Lake ]


Pinta Raka ketika sambungan telfonnya tersambung.


📞 [ Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?]


Tanya Tuan Saputra.


📞 [ Yana dalam bahaya!]


📞[ Apa! Bagimana bisa cucuku dalam bahaya?]


📞 [ Sekarang aku belum bisa menjelaskannya. Raka minta Pi, segera utus sekarang! ]


📞 [ Baik! Papi akan ke situ. ]


Raka memutuskan sambungan telfon, lalu berjalan ke ruang bawah tanah. Saat ia sedang berjalan, Santi menghadangnya.


" Ka! Apa yang terjadi kepada Yana?" Tanya Santi dengan raut wajah yang terlihat panik.


Raka menghentikan langkah kakinya, kemudian menatap lekat dengan wanita yang ia cintai yang kini tengah berdiri.


" Sayang! Kamu jangan khawatir ya! Aku akan membawa Yana dengan keadaan baik."


Ucap Raka sembari kedua telapak tangan mendekap pipi Santi.


" Bagaimana aku tidak panik sayang! Anak kita dalam bahaya!" Mata Santi sudah terlihat berbias dengan raut wajah yang di penuhi kekhawatiran.


" Sayang! Tolong, jangan menunda waktuku. Aku sekarang harus bergegas. Ku minta restu dan doamu, semoga semua di lancarkan. " Pinta Raka.


" Tuhan! Aku pikir setelah aku dan Yana ke dunia ini, hidup kita akan tentram. Kau ingat Raka! Jangan sampai, terjadi sesuatu kepada Yana. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau tahu, betapa menderitanya aku ketika membesarkan Yana sendirian. Ingat! Bawa pulang Anak'ku dalam keadaan utuh bahkan jangan ada yang lecet! "


Titah Santi penuh penekanan lalu membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Raka.


Raka yang mendengar ucapan Santi membuat ia semakin panik dan khawatir. Raka pun tanpa membuang waktu langsung berlari menuju ke arah ruang bawa tanah.


Se sampainya di ruang bawa tanah, Raka mengambil senjata yang di siapkan oleh Andre untuknya. Setelah itu, Raka berlari ke luar menuju ke arah mobil yang terparkir.


" Raka!" Panggil Tuan Saputra.


Raka yang hendak membuka pintu mobil pun menoleh. " Papi. Kau sudah datang? Bagimana dengan bawahan Papi?" Tanya Raka .


Tuan Saputra berjalan ke arah Raka," Sudah Papi utus sebagain bawahan Papi. Papi semobil saja dengan mu ya!" Ucap Tuan Saputra.


" Ya! Ayo, kita tidak punya banyak waktu." Ucap Raka yang menaiki mobilnya. Lalu di susul oleh Tuan Saputra.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Tuan Saputra bertanya mengenai Yana Cucu semata wayang yang ia miliki. Raka mejelaskan semua apa yang terjadi, Mendengar hal tersebut, membuat Tuan Saputra menjadi Murka.


******


Andre pun tiba di kediaman dengan wajah yang tidak bisa di artikan. Memikirkan belahan jiwanya, membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Karna perasaan yang di rasakan oleh Andre saat ini hanya amarah, bersalah dan yang jelas sangat khawatir.


Andre memasuki ruang bawah tanah, Namun Dia tidak menemukan Elvina di sana. Saat ini, tidak penting untuk memikirkan Wanita sikopet itu. Yana'lah yang paling utama.


Andre membuka satu buah Brankas yang berada di ruangan. Andre meraih satu botol ampul yang isinya berwarna ungu, " Aku tahu otak picikmu Raja. Kau kira, kau melawan ilmuan siapa? Jangan kau pikir kau dapat menyengelku kali ini," Guman Andre dengan Amarah yang sudah meletup-letup.


Andre mengambil sebuah suntikan, ia memasuk'kan cairan ungu itu ke dalam suntikan yang ia genggam.


Andre mengikat pergelangan tangannya dengan turniket, lalu menyuntik'kan cairan tersebut ke tangan.


" Aaarrrggghhhhhhh!!!" Teriak Andre, ketika cairan itu memasuki dan menjalar ke area pembuluh darah.


" Hhaaaaaa!!!!" Teriak Andre sembari memegang kepalannya.


Andre merasa pusing yang luar biasa, dengan dentuman di kepala membuat ia meringis kesakitan. Dengan tubuh yang mulai kehilangan kese'imbang.


Brrraakk!!!


Andre berpegangan pada benda-benda di hadapannya. Membuat benda-benda itu berserak 'kan. Andre Pun tersungkur ke lantai dengan nafas yang tersengal.


Andre mencoba memejamkan matanya. Meresapi reaksi obat yang luar biasa itu, beberapa menit kemudian. Andre mulai bangkit, setelah cairan yang masuk ke dalam tubuh telah berdamai dengan tubuhnya.


Setelah merasa baik'kan. Andre berlari menuju ke arah pintu keluar. Andre langsung membuka Aura yang menggelegar ganas dari pancaran cahaya keungan yang muncul pada tubuhnya. Andre pun melesat terbang bersama anjing Zean lalu menuju ke arah Hutan Blue Lake.


*****


Kreek!!


Ketika pintu terbuka, dapat di lihat Aura kegelapan di dalam ruangan itu. Aura itu langsung menyerang Kevin yang memasuki ruanga tersebut.


" Hei tenang lah wahai kekasih kejamku. Aku kesini untuk menggunakanmu," ucapa Kevin ketika Tongkat sabit kematiannya menyerang.


Kevin meraih senjata mematikan itu, Lalu menggenggam tongkat itu dengan erat.


" Ingat sayang! Kau harus bekerja sama denganku. Karna sebentar lagi kau akan makan sepuasnya, kau bisa makan para tikus-tikus kerajaan. Kau mengerti?" Guman Kevin yang kemudian beranjak dari ruangan tersebut.


******


" Baginda, semuanya telah siap. Nyonya Viola bisa segera di bawa ke ruang bedah," ucap seorang tim Medis kepada Raja.


Raja tersenyum, " sebentar lagi sayang, kau akan terbangunkan. Karna ada pendonor yang cocok untuk tubuhmu, bahkan setelah kebangkitanmu. Kau akan jauh lebih sehat karna ada 3 pusaka yang akan menyembuhkanmu." Ucap Raja menatap Putri'nya yang sedang terlelap dengan wajah pucat pasih di atas sebuah ranjang.


" Abraham!" Panggil Raja.


" Iya Ayah mertua," sahutnya.


" Siapkan penerbangan. Setelah pemindahan organ selesai, kita langsung meninggalkan Blue Lake!" Titah Raja.


" Baik Ayah mertua!" Sahut Abaraham yang langsung bergegas meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Para tim medis itu, mulai memindahkan tubuh Vioala untuk di bawa ke ruang bedah.


*****


Yana mencoba meronta, tapi yang Yana dapatkan hanya rasa perih di pergelangan tangan dan kakinya.


" Sial! Apa maunya mereka, kenapa aku di borgol seperti ini?" Guman Yana yang terus mencoba menggerakan tangan dan kakinya.


Tap...Tap!!


Suara langkah kaki, terdengar ada lebih dari 4 orang dari suara langkah yang menuju ke arah ruangan yang di mana Yana di baringkan.


Kreek!!


Pintu ruangan terbuka,.


Mata Yana tercengang ketika melihat Raja dan segerombolan orang yang memasuki ruangan tersebut, Beserta satu Wanita pucat pasih terbaring yang di dorong di atas sebuah tempat tidur.


" Kakek Raja!" Panggil Yana.


Raja tersenyum menatap ke arah Yana," halo sayang! Bagaimana keadaanmu? Kakek harap kau sehat ya. Agar bisa memberikan jantungmu untuk Anak Kakek," ucap Raja dengan senyum liciknya.


Deghh...Deghh..Degh!!


Jantung Yana sontak berdenyut dengan kencang, tak kala ia mendengar ucapan Pria tua bangka yang sedang berdiri di hadapannya.


" Kakek Raja, Ayah dan Kakek'ku tidak akan memaafkanmu. Jika terjadi sesuatu padaku!!" Teriak Yana mencoba meronta.


" Hahahahaha.... Ciyus? Ih.. Kekak jadi atut. Kau pikir, mereka akan sempat?" Cibir Raja dengan tatapan mengejek ke arah Yana.


Yana menatap nyalang dengan tatapan tajam," Kau Pria tua bededah! Lepas!" Teriak Yana.


Raja mendekat ke arah Yana, lalu mencengkram pipi Yana yang sedang meronta, " jangan sentuh aku! kau Pria tua menjengkelkan. jauhkan tangan kep4ratmu itu tua bangka!" teriak Yana yang mengelengkan kepalanya kuat, karna tidak ingin di sentuh oleh Raja.


" Kau jangan terlalu banyak bergerak, sayangilah tenagamu untuk sisa akhir hidupmu anak baik." Ucap Raja.


" Cuuiiiihhh!" Yana meludahi wajah Raja.


Plak!!


Sebuah tamparan yang Yana dapatkan," Anak kep4rat! Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau meludahiku," geram Raja emosi .


" Cih! Raja seperti dirimu, jangankan ludah. Kotoran pun tak sebanding dengan kelakuanmu," Cibir Yana dengan sudut bibir yang nampak keluar darah.


" Segara lakukan pembedahan 'nya, Agar bocah kep4rat ini bisa berhenti untuk berbicara," titah Raja yang masih dengan emosi berjalan meninggal Ruangan.


" Baik Baginda!" Sahut tim Medis.


Tim medis mulai berjalan ke arah Yana. Yana yang melihat pun meronta tak karuan. Tim medis mulai mengambil sebuah suntik 'kan yang di arahkan kepada Yana.


Yana yang melihat membuat ia ketakutan, " lepas! Ayah! Ibu! Paman ! Siapa saja tolong aku! Ku mohon! Aku masih ingin membahagiakan orang tuaku! Tolong!"


Teriak Yana di sertai tubuh yang mengeliat ketika melihat jarum suntik kian mendekat ke arah kulit di pergelangan tangannyan.

__ADS_1


__ADS_2