
Pihak keamanan rumah sakit menemukan data-data yang diunggah Ji Tae. Mereka menduga Ji Tae melakukan penelitian lagi. Karena itu, mereka menghubungi Jae Wook. Langsung Jae Wook mengirimkan minion yang sama untuk menghabisi Ji Ta.
Di parkiran apartemennya, Ji Tae berjalan sambil celingak-celinguk menunggu orang yang menyerangnya kembali datang. Beberapa langkah, minionnya Jae Wook muncul dan menghadangnya, “Kamu pikir, peringatanku hanya gertak sambal huh?“ Ji Tae mengiyakan. Dia menyingkirkan dan memberikan kesempatan pada Ji Sang untuk menyerang sang minion.
Mereka berkelahi. Minion satu ini cukup alot dilumpuhkan Ji Sang. Beberapa kali Ji Sang memukul angin, dan membiarkan pertahanannya terbuka, sehingga akhirnya minion berhasil menyarangkan pukulan dan tendangan ke tubuhnya. Ji Sang ambruk. Ji Tae berusaha membantu. Dia mencari sebilah kayu dan memukulkannya ke tubuh sang minion. Tapi, dia hanya menemukan kayu itu patah. Minion itu berbalik dan menghajar Ji Tae yang tak bisa menyakitinya. Dalam sekali pukulan, Ji Tae terpental dan pingsan di lokasi.
__ADS_1
Setelah itu, minion ini menginjak dada Ji Sang sambil memperingatkan, “Kudengar kamu nggak kayak anak kecil lagi. Tapi, kulihat sama saja! Jika kau ingin show-off di depanku, pastikan dirimu siap membunuhku!” Minion pergi. Hyun Woo datang dan menodongkan pistol ke arah angin. Hahaha, sudah pergi baru datang. Dia melihat Hyun Woo ambruk dan langsung mendekati. Ji Tae tersadar dari pingsannya dan merasa rahangnya sakit.
“Kau nggak berhasil meringkusnya?” tanya Ji Tae pada Ji Sang. Ji Sang menggeleng, tapi dia berhasil mengenali minion itu sebagai orang yang pernah ditemuinya di masa lalu.
Jae Wook menemuinya. Sambil tersenyum, dia mengatakan, “Apa yang bisa kubantu?” Ji Sang yang duduk santai sambil menaikkan kaki, menyalakan proyektor ruangan. Dia memperlihatkan foto kedua orang tuanya bersama Han Su dan Jae Wook. Melihat itu, Jae Wook terkejut.
__ADS_1
Jae Wook datang ke ruang rapat, dimana Ji Sang sudah duduk menunggu di salah satu kursi dengan kaki terangkat ke atas meja. “Apa yang bisa kubantu?” tanya Jae Wook dengan wajah sumringah. Ji Sang menekan tombol remote. Proyektor menyala, memperlihatkan foto empat sekawan (kedua orang tua Ji Sang, Han Su, dan Jae Wook) di layar. Jae Wook menengok ke arah layar. Senyum di wajahnya langsung menghilang.
Ji Sang bangkit untuk mendekati Jae Wook. “Tolong jelaskan semuanya,” tukas Ji Sang. Dia memberondong Jae Wook dengan banyak pertanyaan, menuntut jawaban. Mulai dari alasan Jae Wook berpura-pura tak mengenal rekan peneliti dan mentor sendiri? Kenapa nama Jae Wook tak disebutkan di jurnal Dokter Jung, tapi muncul di artikel tentang penelitian yang melibatkan Jae Wook dan ketiga orang yang ada di foto?
Ji Sang juga menuntut Jae Wook menjelaskan tentang penyebabnya terinfeksi, yang sebelumnya dibilang sebagai satu kecelakaan?! Kenapa ada dua orang vampir pembunuh Ibunya muncul dengan kondisi seperti mengonsumsi obat yang Jae Wook miliki? Padahal sebelumnya Jae Wook mengatakan bahwa obat itu hanya dikonsumsinya untuk diri sendiri. Senyum di wajah Jae Wook mengembang kembali, “Kadang-kadang kebohongan itu diperlukan, khususnya saat kebenaran tak membawa apapun selain kebingungan.”
__ADS_1