DARAH

DARAH
bab 85


__ADS_3

Karena merasa khawatir, Ri Ta datang ke rumah Ji Sang. Hyun Woo menyambutnya dan mengatakan Ji Sang sedang tak ada di rumah. LUVVY ikut-ikutan menyambut Ri Ta. Hal itu membuat Ri Ta takjub, sebab LUVVY masih ingat dengannya. LUVVY memperlihatkan di layar bok*ng Ri Ta untuk menyatakan bahwa dirinya ingat dengan Ri Ta. Hyun Woo buru-buru menutupi layar LUVVY dan bertanya apa yang membuat Ri Ta datang pada jam segini? Apa ada sesuatu yang salah?


Sebelum memberitahu Hyun Woo tujuan kedatangannya, Ri Ta bertanya nama Hyun Woo. Dengan bangga, Hyun Woo memperkenalkan diri. Lalu Ri Ta pun bertanya, “Bisa kau ceritakan sedikit sakit apa sih Ji Sang itu? Aku penasaran banget nih.” Wajah Hyun Woo tampak tak enak. Dia meragu apakah harus bercerita pada Ri Ta atau tidak. Ri Ta memelas.

__ADS_1


Sebelum bicara lebih lanjut, Ri Ta bertanya latar belakang Hyun Woo. “Eh, kau ini ngelakuin apa sih Hyun Woo? Kau ganteng dan fashionable banget kayaknya. Model atau aktor?” tanya Ri Ta. LUVVY berkomentar kalau mata Ri Ta harus diperiksa, karena Ri Ta bilang Hyun Woo ganteng. Hahaha. Hyun Woo menyuruh LUVVY memperkenalkan dirinya.


LUVVY pun sebutkan Hyun Woo itu sarjana lulusan Penn Medical School dan jenius di bidang penyakit menular. Orangnya enggan terikat dan lebih memilih berkeliling dunia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang inovatif. Hyun Woo manggut-manggut begitu LUVVY mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang haus akan ilmu pengetahuan dan sarjana bawah tanah yang tekun. Ri Ta memuji Hyun Woo itu keren orangnya.

__ADS_1


“Di samping itu, dia juga terkenal mengoleksi video p*rn*.” Mendengar pernyataan itu, Hyun Woo memukul-mukul kepala LUVVY dan menjelaskan pada Ri Ta yang dimaksud LUVVY adalah video baseball. Kekeke. “Oke, sekarang bisa kita langsung ke pertanyaanku?” tanya Ri Ta langsung.


Jae Wook menyebut anak berusia 12 tahun itu masih memiliki impian tinggi, menjadi perawat. Karena itu, dia seharusnya bisa hidup lebih lama dan bahagia. Ji Sang tak bersimpati dengan cerita Jae Wook. “Oke, itu cerita sedih tapi kematiannya adalah takdir! Nggak satu pun obat dan ilmu pengetahuan yang bisa memperbaikinya.”

__ADS_1


Jae Wook coba menjelaskan pada Ji Sang apa yang dilakukannya bukan hanya soal menemukan obat-obatan baru. Kembali pada si anak, Jae Wook menyebutkan, bila waktu itu sudah ada vaksin yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka anak gadis itu takkan dibuang oleh keluarga angkatnya. “Ini alat yang bisa dipakai untuk mengubah nasib orang,” jelas Jae Wook, “Oke, memang banyak orang nggak layak hidup di dunia ini. Tapi, masih ada banyak orang yang nggak seharusnya mati lebih cepat.”


Ji Sang mempertanyakan, “Untuk itu, siapa yang boleh memutuskannya? Obat barumu?” Jae Wook meyakinkan bahwa dirinya akan membuat sistemnya kelak. Dia minta Ji Sang memahami rencana dan keyakinannya. Dia memastikan hal ini bukan keserakahan atau kegilaan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2