
“Aku tetap harus berdoa bersamamu. Dengan begitu, aku bisa menunjukkan pada orangtuamu bahwa aku telah mengasuh anak mereka dengan baik,” jelas Presdir. Ri Ta pun mengalah. Mereka berdoa bersama-sama. Presdir menangkupkan kedua tangannya yang gemetar hebat.
Kyung In berdiri dekat jendela dan teringat percakapannya dengan Dokter Han. Dokter Han menyatakan bahwa dirinya belum memiliki hasil apapun. Meski begitu, dia mengaku penyakit Presdir sudah menyebar. Kyung In mempertanyakan maksud menyebar. Dokter Han meminta Kyung In untuk menjaga rahasia.
Jae Wook berdiri dan bertanya apa yang Ji Sang katakan? Ji Sang menjelaskan kalau sekarang melakukan operasi dan perawatan pasien akan menyulitkannya, juga nggak alasan lain baginya berada di rumah sakit. Jae Wook mengatakan ada banyak orang yang menunggu mendapatkan perawatan dan operasi dari Ji Sang. Ji Sang mengaku ada banyak dokter ahli bedah lain yang hebat dibandingkan dirinya. Dia mengatakan akan bekerja hingga minggu depan saja.
__ADS_1
Jae Wook merasa nggak bisa berbuat apa-apa. Dia mengajak Ji Sang berteman. Ji Sang menolak, toh kehidupannya dan kehidupan Jae Wook nggak akan bersinggungan ke depannya (wuih, keren sekali memutuskan seperti ini). Lagipula,
Ji Sang menemui seorang pasien yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk mengatakan bahwa dirinya akan berhenti menjadi dokter. Tentu saja pasien dan keluarga pasien, khususnya anak pasien, merasa kecewa berat. Pasalnya, Ji Sang mendadak memberitahunya. Ji Sang hanya bisa meminta maaf.
Jae Wook menyatakan apa yang dilakukan Kyung In sebagai lelucon nakal dan nggak akan melaporkannya pada Presdir. Sebelum pergi dia mengatakan, “Ini sedikit cheesy. Tusukan lembut jauh lebih buruk daripada tinggal diam saja.” Kyung In menggeram selepas Jae Wook pergi.
__ADS_1
Ri Ta mempertanyakan kenapa Ji Sang berhenti dengan sangat mudah? Apakah penyakit Ji Sang buruk banget sehingga nggak bisa melakukan aktivitasnya sebagai dokter? Ji Sang mengaku hanya ingin tetirah sementara waktu. Ri Ta menjawab nggak bisa mengatakan apa-apa kalau Ji Sang cuma mau istirahat, tapi tetap saja dia mengeluh Ji Sang terlalu mendadak bicaranya. Ji Sang menggoda Ri Ta dengan mengatakan, “Oh sekarang kau sedih melihat orang yang telah menghukummu pergi?”
“Sedih? Siapa bilang?” sahut Ri Ta ketus, “Aku hanya nggak mau kau pingsan mendadak di suatu tempat lagi.” Ji Sang ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya. Dia hanya menyuruh Ri Ta untuk tumbuh dewasa. Ri Ta mengomel.
Ji Sang menerima telpon dari perawat yang menyebutkan Ja Bok bermasalah. Ri Ta dan Ji Sang buru-buru ke ruangan Ja Bok berada. Ketika mereka berdua sampai di tempat, tampak Ja Bok sedang mengemulkan seluruh tubuhnya dengan selimut. Perawat mengaku coba membukanya tapi nggak bisa. Selimut pun rembes dengan darah. Ketika dibuka, Ja Bok tampak kelojotan. Ji Sang dan Ri Ta kaget.
__ADS_1