
Agak malam, Ri Ta menghubungi Eun Soo untuk membawakan obat-obatannya yang ketinggalan di RS. Eun Soo berjanji akan membawakannya untuk Ri Ta. Dia meminta Ri Ta tunggu sebentar karena mendapat panggilan lain.
Jae Wook mengundang Presdir Yoo ke ruang Departemen Pengembang Obat Baru. Dia menjelaskan Presdir Yoo bahwa tim telah melakukan pengobatan untuk pasien bangsal 21A dengan putaran pertama reaktan. Setelah empat hari, hasilnya positif. Presdir Yoo mengintip dari teropong miskroskop dan menemukan reaksi antar-sel yang berpadu dengan obat.
Setelah selesai, Jae Wook kembali menegaskan bahwa itu obat baru yang mereka berikan pada pasien tumor tahap akhir membuat tumor dinetralkan tujuh kali lebih cepat dibandingkan kemoterapi. Meskipun obat baru itu belumlah stabil 100 persen. Melihat sendiri, Presdir Yoo tersenyum. Dia mengaku puas dengan hasil yang ada dan meminta maaf karena telah mencemoohnya sebelumnya.
__ADS_1
Ri Ta bangun dengan wajah masih pucat. HP-nya berdering-dering. Begitu diangkat, dia menyuruh Eun Soo sabar karena dirinya lagi jalan. Dia bertanya, “Kau tahu kode pintunya kenapa masih pencet-pencet bel?” Begitu melihat dilayar monitor yang datang adalah Ji Sang, Ri Ta mencak-mencak. Eun Soo minta maaf, karena tidak bisa datang ke tempat Ri Ta. Mendadak ada pasien yang butuh penanganan cepat.
“Iya, tapi kenapa harus dia sih?” tanya Ri Ta kesal. Eun Soo mengaku hanya Ji Sang yang bisa dimintai tolong saat itu. Ri Ta menggeram, “Setelah aku sembuh dari demam ini, akan kugetok kepalamu!” Dia pun membuka pintu dan menyatakan bahwa dirinya sehat. Disuruhnya Ji Sang enyah.
“Nggak sudi!” sahut Ri Ta. Tapi detik selanjutnya, kita tahu kalau Ri Ta sudah berbaring di tempat tidurnya, sementara Ji Sang mengeceknya. Setelah selesai Ji Sang meledek Ri Ta, bagaimana bisa dokter ahli bedah tak bisa menjaga kesehatannya? Ri Ta mendengus, karena Ji Sang sendiri bahkan lebih parah sakitnya sampai tak bisa lakukan operasi.
__ADS_1
“Kau tahu kenapa aku sakit?” tanya Ri Ta. Ji Sang mengangkat bahunya. Ri Ta menjelaskan bahwa dirinya tak sakit lantaran virus flu. Dia sakit karena marah dan frustasi. Ji Sang mengulurkan tangannya dan memegang jidat Ri Ta. “Kenapa? Kau ngecek panasku?”
“Nggak. Aku nggak ngecek panasmu kok. Aku mendinginkan suhu tubuhmu. Kau tahu sendiri kan, tanganku ini dingin banget, kayak es,” ucap Ji Sang. Ri Ta membenarkan, dan tak cuma tangan Ji Sang saja yang dingin, tapi hatinya juga dingin seperti terbuat dari batu es.
“Manajer, belakangan ini aku sangat takut padamu,” tukas Ri Ta, “Apa kau beneran bisa berubah kayak gitu? Aku ngeliat waktu kau selamatkan Ja Bok. Semuanya. Sumpah, perubahan itu nggak kayak kesembuhanmu yang cepat waktu tergores pisau di pipi oleh Dong Pal.” Pertanyaan Ri Ta membuat Ji Sang tersentak.
__ADS_1