DARAH

DARAH
bab 152


__ADS_3

Ji Sang mengoceh bahwa ini hal terbaik yang bisa dilakukannya sebagai vampir – karena dirinya tak bisa menjadi manusia seutuhnya. Tak ada penyesalan. Ri Ta dan Ji Tae tangis-tangisan.


Jae Wook yang sudah kembali menjadi manusia kembali ke apartemennya. Wajahnya sangat tua dan keriput sekarang. Dia duduk di kursi kebesarannya dan mengembuskan napas pungkasan di sana.


Ri Ta mengajak Ji Sang ke atas atap RS untuk melihat sunrise. Ji Sang merasa senang, pada akhirnya bisa melihatnya terlebih bersama wanita yang dicintainya. Matahari sudah terbit di ufuk timur dan kulit Ji Sang pun terbakar. Sebelum meninggal, dia mengucapkan, “Aku mencintaimu, terima kasih.”

__ADS_1


Ri Ta sedang berjalan di jalanan Kochenia, ketika tiba-tiba melihat sebuah buku di toko yang menarik perhatiannya. Membaca judulnya membuatnya tersenyum. Dia melanjutkan perjalanannya untuk menemui Young Hee, memberikan surat serta boneka yang seharusnya diberikan bersama-sama Ji Sang.


Selesai memberikan surat dan boneka, Ri Ta makan di pinggir jalan (di Indonesia: lesehan) dan mengambil foto dirinya saat bersama Ji Sang. Dia terharu menatap foto itu tanpa menyadari tangan seseorang yang duduk tak jauh darinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi.


Seorang vampir meloncat melampaui Ri Ta, tepat di depannya, membuat Ri Ta kaget. Ketika vampir itu hendak menyerangnya seorang pria menyelamatkannya, menghajar para vampir itu untuk Ri Ta. Pria itu tidak membunuh para vampir, hanya mengusirnya. Saat gerombolan vampir Kochenia itu pergi.

__ADS_1


Pria itu mendekati Ri Ta dan mengulurkan tangannya. Melihat wajah pria itu, Ri Ta sempat kaget. Pasalnya, pria itu mirip benar dengan Ji Sang. Atau dia memang Ji Sang? Pun begitu dia mengulurkan tangannya juga. [end]


Terima kasih pada para pembaca yang telah mengikuti sinopsis ini dari awal sampai akhir. Tanpa kalian, apalah artinya kami (Via Dwi).


...AND...

__ADS_1


__ADS_2