DARAH

DARAH
bab 97


__ADS_3

Di ruang tengah, Ri Ta mengomentari pakaian Ji Sang seperti Grim Reaper (sosok malaikat maut). Ji Sang mendengus. Dia berpakaian seperti itu karena dirinya dokter. Ri Ta bertanya apa Ji Sang sibuk akhir pekan ini? Jika tidak, dia minta waktu dua jam Ji Sang. Saat itu Ji Sang menolaknya. “Kenapa kau selalu menjawab nggak sih? Ikutin permintaanku saja kenapa?”


Hye Ri tidak dibunuh di tempat oleh minionnya Jae Wook. Dia dibawa ke apartemen Jae Wook untuk bicara langsung pada biangnya vampir. Dia mengatakan, “Ketika terinfeksi virus, manusia akan mengalami kondisi koma selama dua hari. Bahasa lainnya berada dalam kondisi sakaratul maut. Itulah legenda vampir bermula.”

__ADS_1


Selanjutnya, dia mengatakan, “Kau berniat menyuntikkan darah ini untukmu sendiri kan? Sebelum itu kau mau pergi ke suatu tempat untuk menemukan lokasi yang bagus selama dua hari masa sakaratul mautmu? Itulah sebabnya kau keluar dari RS dengan terburu-buru. Aku senang waktu kita bertemu pertama kali lima tahun silam. Kau tampaknya nggak serakah seperti kebanyakan manusia dan berpikir kau akan berkorban demi penelitian bersamaku. Aku yakin kau punya sesuatu yang kau inginkan selain uang tentunya. Yaitu vampir. Aku menjanjikannya dengan syarat kau berhasil dalam penelitian ini. Sekarang janji itu rusak...”


Hye Ri berdiri dan meminta maaf pada Jae Wook telah kehilangan pemikirannya sejenak. Jae Wook menggeleng. Dia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. “Kau manusia. Makhuk yang diharapkan.” Hye Ri berjanji akan melakukan yang terbaik dengan penuh semangat kerja keras. Lagipula, penelitian mereka hampir berhasil. Jae Wook mengatakan dirinya tak mendapat imbalan semestinya.

__ADS_1


Air mata Hye Ri tumpah begitu Jae Wook mendekapnya. Jae Wook yang sudah dalam vampir mode langsung mematahkan batang leher Hye Ri, sehingga tak ada darah mengalir dari dalam tubuhnya. Dia meletakkan Hye Ri dengan hati-hati di sofa. “Ini cara lain untuk hidup selamanya,” kata Jae Wook.


Di kasir, Ri Ta membayari semua baju yang Ji Sang beli sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkannya. Cieh. Mereka pergi keluar dan Ri Ta bertanya, “Senangkah kau jalan bersamaku? Atau ayo kita pergi ke Kimbab Heaven.” Di saat itu, Ji Sang merasa matahari membuyarkan pengelihatan dan kesadarannya. Ri Ta menawari untuk membelikan Ji Sang satu kacamata.

__ADS_1


Dan, ketika mereka sudah membeli kacamata hitam baru, orang-orang menatap Ji Sang dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak aneh, kacamata yang Ji Sang pakai gede banget, mirip kacamata kuda. Tatapan orang-orang membuat Ji Sang merasa buruk. “Lepas saja kalau emang nggak nyaman,” tukas Ri Ta. Ji Sang mengaku matanya sakit kalau dilepaskan. Ri Ta mengatakan kalau begitu Ji Sang tak perlu mengeluh dong. Ya kan?


Di waktu ini, Ji Sang menerima telpon dari Ga Yun yang menginformasikan Suster Sylvia dalam keadaan kritis. Ri Ta dan Ji Sang bergegas ke RS.

__ADS_1


__ADS_2