DARAH

DARAH
bab 42


__ADS_3

Di ruangannya, Jae Wook ingat pertemuannya dengan Suster Sylvia di gereja RS Taemin. Kata-kata yang paling diingatnya adalah “Kau berjuang dengan kehidupan dan kematian setiap hari. Pasti banyak sekali yang ingin kau pasrahkan pada-Nya”. Jae Wook mengambil foto dirinya bersama seorang pasien bocah yang ada di mejanya.


Pada 1979, Jae Wook sempat menjadi dokter yang menangani sang bocah di UCSF Medical Center. Walaupun sakit bocah itu tampak ceria. Ketika Jae Wook datang menemuinya, bocah itu bersembunyi di balik selimut, kemudian dia membuka selimutnya dan menunjukkan wajah gandanya, dimana ketika memejamkan matanya bocah itu menghias kelopak matanya sendiri. Tapi, bocah ini kemudian terjatuh dari atap bangunan. Para dokter melihatnya. Jae Wook ikut melihatnya. Tatapannya tampak sedih.


Jadi, bocah itu dibuang oleh orang tua asuhnya, karena tingginya biaya perawatannya. Nggak ada biaya, bocah itu dikeluarkan dari rumah sakit yang merawatnya. Alhasil, anak itu dikirim ke tempat pelayanan perlindungan anak. Jae Wook tampak penuh sesal.

__ADS_1


Ji Sang dan Ri Ta pergi keluar bersama. Ji Sang mengaku ingin melihat lumba-lumba. Ri Ta mengaku ingin pergi makan sashimi. Ketika berada di simpang jalan, mereka berpisah. Ujung-ujungnya, mereka pergi ke hutan.


Ri Ta jalan dan kaget ketika Ji Sang tiba-tiba muncul di belakangnya. Dia menuduh Ji Sang mengikutinya. Ji Sang mengaku nggak melakukannya. Kakinya saja yang mengarahkannya pada Ri Ta. Mereka jalan bareng. Ji Sang bertanya kenapa Ri Ta ke hutan? Apa yang membuatnya tertarik?


“Kau kenal dia?” tanya Ji Sang lagi. Ri Ta menggeleng. Itu kali pertama dia melihatnya. Ji Sang ingat saat kecil juga pernah menyelamatkan seorang gadis kecil dari serangan anj*ng liar. Dia juga ingat Soo Eun sempat menyebutkan kalau nama Ri Ta adalah Chae Yun. Ri Ta meminta Ji Sang untuk nggak tanya-tanya lagi. Saat itu, Ji Sang tersenyum. Ri Ta mengajaknya kembali ke tempat seminar, takut terlambat.

__ADS_1


Ji Sang dan Ri Ta bersama para peserta seminar lainnya. Mereka minum bersama, bersenang-senang. Ri Ta menceritakan kelakuan konyol Dokter Kim yang pernah menyalakan alarm saat mabuk. Sehingga gedung tempat konferensi dilangsungkan didatangi Swat dan FBI karena disangka ada *******. Demi meramaikan suasana mereka melakukan permainan. Ri Ta kalah, sehingga harus menengguk minumannya. Beberapa kali main, mereka selesai.


Ri Ta muntah-muntah. Ji Sang menunggu di bangku di pinggir kolam renang. Setelah itu, Ri Ta duduk persis di sebelah Ji Sang. Ji Sang langsung bergeser. Ri Ta mengatai kepribadian Ji Sang benar-benar buruk, karena menolak minum. Ji Sang bilang Ri Ta kan kalah, jadi memang sepantasnya minum.


Dalam kondisi teler berat, Ri Ta berharap pemuda yang menyelamatkannya dulu ada di hadapannya sekarang. Pasti pemuda itu yang akan mengambil minumannya. Dia mulai berkicau nggak jelas. Ketika dipikir-pikir kembali olehnya, pemuda itu bisa saja mati saat menolongnya tanpa mempertimbangkan apapun. “Aku dulu cantik loh,” aku Ri Ta.

__ADS_1


__ADS_2