DARAH

DARAH
bab 110


__ADS_3

Tapi sekali lagi berbohong, maka dia akan membungkamnya. Untuk selama-lamanya.


Ji Sang melihat Ri Ta belum tidur. Dia menyuruhnya tidur, karena besok Ri Ta memiliki banyak operasi. Ri Ta bertanya, “Aku capek dengan semua ini! Pertama, Direktur mengenal orangtuamu dan bagian dari tim penelitian Dokter Jung.” Dia memperlihatkan foto artikel dan bertanya, “Hanya melihat foto ini, aku bisa menarik kesimpulan bahwa Direktur seenggaknya berumur 70an tahun. Tapi, di profilnya dia merasa berusia 45 tahun. Obat anti-penuaan hebat apa yang dipakainya sehingga dia tampak muda banget? Dia vampir juga kan? Sama seperti Bapak-Ibumu?”


Ji Sang bertanya kenapa Ri Ta tertarik dengan hal-hal seperti itu? Ri Ta menuntut Ji Sang untuk jujur. “Itu hanya akan menempatkan dirimu di dalam posisi berbahaya. Kamu sudah tahu kan apa yang terjadi di bangsal 21A? Ketika ada orang yang coba mengganggu itu, dia akan melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan.”

__ADS_1


Ri Ta menegaskan, “Ini rumah sakit keluargaku, bukan milikmu atau jajaran direksi! Terus bagaimana bisa aku nggak melakukan apapun saat melihat kekacauan ini terjadi? Aku akan bicara pada Presdir dan Asosiasi Direktur.” Ji Sang meminta Ri Ta tak melakukannya. Dia yakin Jae Wook akan menggunakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyingkirkan orang lain bila kehendaknya ditentang, tak peduli itu Presdir atau Asosiasi Direktur. Dia takut terjadi hal buruk.


“Tetap saja dia nggak boleh bertindak sejauh itu,” sahut Ri Ta tegas. Ji Sang memberitahu akhirnya bahwa Bapak-Ibunya mungkin dibunuh oleh Jae Wook. Dia sadar Jae Wook memiliki hubungan dengan para vampir yang menyerang Ri Ta dan Ji Tae. Tak berpikir panjang, Ri Ta justru mengajak Ji Sang bergerak saat ini juga. Ji Sang mengaku dirinya belum memiliki cukup kekuatan untuk menghajar para vampir tersebut.


Ji Sang menatap foto Bapak-Ibunya. Saking sedihnya tak bisa bertemu mereka lagi, dia meletakkan foto itu di dada kirinya, menunjukkan dirinya yang merindu pada Bapak-Ibunya. Ri Ta muncul dan memegang pundak kanan Ji Sang. “Walau itu sudah lama, aku yakin kamu masih merasakan hal yang sama. Rasa sakit yang kamu rasakan ketika kehilangan orang tua. Keluarkanlah. Ceritakan pada orang lain, karena memendam segala sesuatu membuatmu frustasi. Untuk hari ini saja, cobalah lakukan apa yang kusarankan.”

__ADS_1


Ri Ta menemui Sylvia dan berbicara hal-hal yang ringan. Sylvia menanyakan tentang Ji Sang. Ri Ta menjawab Ji Sang sedang bertugas dan akan datang nanti. Sylvia tersenyum dan mengungkapkan bahwa dirinya menyukai Ji Sang. Sebab, dia menilai Ji Sang sangat ramah dan tampak percaya betul pada Gusti Allah. Ri Ta mencibir kalau Ji Sang itu ateis sejati. Namun, Sylvia tidak setuju dengan tudingan Ri Ta. Dia justru menganggap Ji Sang sangat mencintai Gusti Allah.


Ji Sang berpapasan dengan Jae Wook, yang berharap pikiran Ji Sang bisa lebih tenang sekarang. Dia mengiyakan, setelah Jae Wook mengungkapkan kebenarannya. Dia berjanji akan membalas budi apa yang sudah Jae Wook lakukan.


Woo Shik makan dengan lahap suapan dari istrinya. Sementara Soo Yun duduk di sisi tempat tidur dalam pangkuan Ga Yun. Mereka juga terlihat senang. Tapi mendadak, istri Woo Shik menumpahkan bubur suapannya.

__ADS_1


__ADS_2