DARAH

DARAH
bab 135


__ADS_3

Ri Ta menemui Presdir Yoo di ruangannya untuk menanyai kondisinya. Tanpa menatap Ri Ta, Presdir Yoo mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Pun ketika Ri Ta telah mempersiapkan semuanya supaya mendapatkan pemeriksaan medis, Presdir Yoo hanya mengangguk. Presdir Yoo menyuruh Ri Ta pergi. Terdengar sekretaris menghubungi Presdir Yoo untuk mengatakan bahwa Kyung In datang.


Ketika Presdir Yoo mengizinkannya masuk, Ri Ta memutuskan keluar. Didekat pintu, Ri Ta berpapasan dengan Kyung In yang mempertanyakan alasan Ri Ta menemui Presdir Yoo pagi-pagi buta? Ri Ta menjawab hanya ingin mengetahui kondisi pamannya.


Kyung In kemudian mendekati Presdir Yoo yang masih sibuk dengan berkas laporan. “Apa yang mau kau laporkan?” tanya Presdir. Belum menjawab, Kyung In kaget ketika menemukan Presdir Yoo membaca laporan keuangan – atau melihat tangannya yang tak lagi gemetaran?

__ADS_1


Seorang perawat mengambil sampel darah dari salah seorang pasien di bangsal 21A. Seorang pasien yang tengah tertidur pulas, tiba-tiba membuka matanya. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati perawat yang sedang mengambil sampel darah.


Di luar, Ji Sang baru saja masuk ke bangsal 21A untuk menanyakan perkembangan gejala pasien – adakah yang bertindak aneh-aneh atau menunjukkan tindak kekerasan – ketika terdengar suara teriakan perawat yang tadi mengambil sampel darah. Ji Sang segera ke ruangan tersebut dan menemukan pasien yang berdiri di dekat perawat sedang mengisap darah dari selang.


Kyung In masuk ke ruangan Jae Wook untuk mengkonfirmasikan apa yang sudah dilakukannya terhadap Presdir Yoo? Dengan tenang, Jae Wook menjawab melepaskan rasa sakitnya. Jawaban itu tak memuaskan Kyung In yang berteriak menuntut jawaban yang jelas. Pada akhirnya, Jae Wook mengaku Presdir Yoo telah divaksin tanpa izinnya. Untuk itulah, dirinya membawanya kembali dan memberikan vaksin baru supaya Presdir Yoo tidak kesakitan. Tapi... Presdir Yoo akan meninggal dunia dalam waktu 72 jam.

__ADS_1


Jae Wook menambahkan, “Aku memberimu waktu menata situasi. Lebih baik beraksi sekarang, dibandingkan setelah kematian Presdir. Dia akan mati tanpa pernah menyadari dirinya telah mati.” Penjelasan Jae Wook membuat Kyung In terperangah. Dia merasa ini bukan plot yang diinginkannya, tapi Jae Wook menegaskan hanya dengan begini Kyung In akan mendapatkan keinginannya. Jae Wook menyuruh Kyung In pergi untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sementara dirinya duduk dan menonton.


Di ruangannya, Presdir Yoo berdiri dan langsung kolaps di atas meja. Sementara Presdir Yoo kolaps, Ri Ta menemui Kyung In untuk mengungkapkan pemikirannya bahwa Presdir Yoo perlu dirawat. Tidak mau, Kyung In berdalih harus meminta pendapat Presdir Yoo dulu. Ri Ta tetap bersikukuh ingin mengurus pamannya, sendirian! Dia pamit.


Sebelum benar-benar pergi, Kyung In meminta Ri Ta mendengarkan ucapannya. “Dengarkan aku,” pintanya, “Dalam hidupku, aku tak lagi memiliki siapapun selain kau dan Presdir Yoo...” Belum kata-kata itu selesai diucapkan, Ri Ta memotong dengan pernyataan yang lebih keras: “Kenapa kau tidak pergi dari Taemin? Aku dengar kau minta diadakan pertemuan darurat dengan para direktur. Aku akhirnya tahu apa yang terpenting bagimu!”

__ADS_1


__ADS_2