
Malam itu, Daniel pun memutuskan untuk tidak pulang ke mansiom dan lebih memilih menginap dia apartemennya. Selama berada di apartemen Daniel habiskan dengan termenung sambil membayangkan banyaknya kejadian yang dulunya pernah ia lalui bersama Naina hingga saat itu tiba Naina mengetahui jika dirinya hanya dijadikan sebagai bahan taruhan olehnya dan teman-temannya.
"Apa karena mengetahui dia adalah bahan taruhan sehingga dia menyembunyikan status Zeline dan menukarnya sebagai adiknya?" Beribu pertanyaan kembali memenuhi pikiran Daniel.
Deringan di ponselnya tak membuat Daniel menghentikan lamunan. Hingga ponselnya terus berdering membuat lidah Daniel berdecak lalu segera mengambil ponselnya.
"Queen?" Gumam Daniel melihat nama kekasihnya di sana. Daniel pun kembali menutup layar ponselnya. Ia sungguh tidak ingin diganggu oleh siapa pun malam ini.
"Maafkan aku, Queen." Perasaan bersalah pada Queen pun turut menghantui pemikiran Daniel.
Malam semakin larut, Daniel yang sudah merasan lelah di tubuhnya dan pemikirannya itu pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan hati dan tubuhnya.
*
Rumah sakit.
Pagi itu, Dara nampak berjalan tergesa-gesa keluar dari dalam ruangannya setelau meletakkan tas kerjanya. Kakinya pun melangkah menuju ruangan tes laboratorium untuk mengambil hasil tes darah pasiennya kemarin. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Dara pun melangkah menuju ruangan rawat pasiennya.
Ceklek
__ADS_1
Suara bunyi pintu yang terbuka membuat Naina yang sedang mengelap wajah putrinya itu menghentikan aktivitasnya.
"Dokter Dara..." Naina tersenyum menatap pada dokter cantik yang kini berjalan ke arahnya.
Dara tersenyum membalas sapaan Naina. Dara pun melangkah lebih dekat ke arah ranjang Zeline.
"Saya sudah mendapatkan hasil dari tes sampel darah Zeline kemarin." Ucap Dara. menunjukkan sebuah amplop berlogo rumah sakit di tangannya.
"Bagaimana hasilnya dokter? Apa Zel baik-baik saja?" Naina menatap penuh harap pada hasil di tangan dokter Dara.
Dara pun mulai membuka amplop di tangannya. "Dari hasil yang saya dapatkan, Zeline hanya terkena demam bisa dan tidak ada penyakit lain yang perlu dikhawatirkan." Ucap Dokter Dara membuat senyuman terbit di bibir Naina.
"Syukurlah..." Naina menghela nafas lega.
"Doktel tantikna ini..." Ucap Zeline yang sejak tadi ingin bersuara.
"Eh." Dokter Dara nampak terkejut sekaligus merasa lucu mendengar suara Zeline. "Kau juga sangat cantik gadis kecil..." Dokter Dara mengelus rambut pirang Zeline.
"Tentu saja... Zel tantik ini..." Ucap Zeline dengan polosnya.
__ADS_1
"Huh, anak kecil ini sungguh pede sekali." Sahut Amara merasa gemas mendengar ucapan keponakannya.
Dokte Dara dan Naina pun tersenyum mendengar ucapan Amara.
"Saya akan melakukan pengecekan lagi nanti siang, jika demamnya sudah kembali menurun dan kondisi Zeline sudah kembali stabil, besok Zel sudah boleh pulang." Ucap Dokter Dara yang diangguki paham oleh Naina. "Kalau begitu saya pamit keluar dulu." Pamitnya yang diangguki kembali oleh Naina dan Amara setelah mengucapkan terimakasih.
"Syukurlah... Zel sudah membaik." Naina yang sejak kemarin begitu mengkhawatirkan keada putrinya akhirnya bisa bernafas lega.
"Iya Kak... Semoga saja besok Zel sudah boleh pulang." Harap Amara yang diangguki oleh Naina.
Di luar ruangan rawat Zeline, Dokter Dara tidak benar-benar pergi dari sana karena pemikirannya kembali tertuju pada warna mata Zeline yang menarik perhatiannya. "Siapa ayah dari gadis kecil itu? Kenapa warna matanya persis seperti warna mata keluargaku dan aku belum menemukan satu orang pun yang memiliki warna mata yang sama dengan kami di negara ini." Dokter Dara kembali dibuat bertanya-tanya. "Tapi tidak mungkin—" Tiba-tiba saja Dokter Dara dibuat tertegun saat mengingat sesuatu.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
__ADS_1
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)