
Tak berbeda jauh dengan Naina yang tertegun, Daniel pun turut tertegun sambil menatap pada wajah Naina.
"Tak..." Suara kecil Zeline akhirnya berhasil menghentikan keheningan di antara mereka.
Naina pun tersadar dari lamunannya. "Zeline... Kau tidak apa-apa?" Tanya Naina kembali cemas.
Zeline yang berada di dalam gendongan Daniel pun kembali menangis. "Jatuh loh... Atit ini..." Adunya semakin menangis kencang.
Naina pun segera mengambil alih tubuh Zeline dari gendongan Daniel tanpa satu kata pun.
"Nai..." Tingkah Naina pun berhasil membuat Sasa menegurnya karena menurut Sasa Naina bersikap tidak sopan pada Presdir mereka.
Namun Naina menulikan telinganya dan lebih memilih mengecek keadaan kaki putrinya yang sakit.
"Zeline..." Suara berat Aga mulai terdengar hingga Naina dan Zeline mengalihkan pandangan mereka pada Aga yang kini sudah berada di dekat mereka.
Suara Aga pun hilang begitu saja sebab pria itu kini tengah beradu tatap dengan Daniel yang kini juga tengah menatapnya. Tanpa mengatakan apa pun, Daniel pun pergi begitu saja dari tempat itu menuju ke arah teman-temannya yang tengah berdiri sambil menatap heran pada mereka.
"Sakit, kan... Makanya jangan lari-lari lagi, ya..." Ucap Naina sambil menghembus lutut Zeline.
"Main, Tak..." Ucap Zeline disela tangisannya.
__ADS_1
"Tapi kakinya sakit, kok mau main..." Ucap Naina sambil mengelus rambut putrinya.
"Main... Hua..." Zeline merengek. Mengarahkan jari telunjuknya pada ayunan.
"Sudahlah, lagi pula hanya luka kecil. Biarkan dia bermain." Ucap Aga pada Naina.
"Benar, Nai. Dari pada nanti makin nangis." Tambah Sasa.
Naina menghela nafasnya lalu mengangguk. Melihat respon Naina, Aga pun segera menggendong tubuh Zeline lalu berjalan menuju ayunan.
"Apa kau sudah sadar siapa wanita itu?" Tanya Kevin pada Daniel sambil memperhatikan Naina dari kejauhan.
"Aku sudah lama mengenalinya." Balas Daniel dengan datar lalu berjalan meninggalkan Kevin, Marvel dan Dio yang masih menatap takjub pada wanita cantik yang kini sedang berbicara dengan temannya.
*
"Zel mau sarapan apa?" Tanya Sasa saat sudah mendaratkan bokongnya di atas kursi.
"Bubur ayam saja, Sa." Balas Naina.
Sasa mengangguk lalu memesankan menu sarapan pagi untuk mereka.
__ADS_1
"Setelah ini kita akan kemana?" Tanya Dimas setelah mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Sasa.
"Ke rumah Thoriq dulu untuk bersih-bersih dan ganti baju lalu lanjut ke mall." Ucap Sasa begitu antusias.
"Kok jadi rumah aku sih? Bukannya biasanya di rumah Aga?" Tanya Thoriq merasa bingung.
"Emh... Untuk kali ini di rumah kau saja." Ucap Sasa sambil melebarkan matanya pada Thoriq seolah menyiratkan sesuatu.
Thoriq yang langsung paham maksud Sasa pun akhirnya mengangguk.
Tak lama pesanan mereka pun datang.
"Ayo buka mulutnya..." Ucap Naina pada Zeline sambil mengarahkan sendok berisi bubur ayam ke mulut Zeline.
"Ditit ja, Tak. Banak ini." Keluh Zeline melihat isi sendok yang diberikan Naina cukup banyak.
"Gak banyak kok. Biar perutnya kenyang dan bisa lanjutin main lagi sama kakak-kakak ini." Balas Naina memberi pengertian. Naina sangat paham, jika putrinya itu sedang terlihat malas untuk makan.
Wajah Zeline cemberut. Namun tetap menerima suapan Naina. "Nak loh, Tak!" Wajah Zeline yang awalnya cemberut seketika berubah senang saat sesuap bubur ayam itu telah masuk ke dalam mulutnya.
***
__ADS_1
Komen yang banyak dulu... Nanti aku lanjut lagi...