
"Ibu... main sana yuk!" Di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di kotanya, Ibu Fatma dan Zeline nampak berjalan sambil mendorong keranjang belanjaan mereka.
Ibu Fatma mengalihkan pandangan menatap pada tempat yang Zeline tuju. "Zel mau main bola itu?" Tanya Ibu menunjuk pada permainan bola anak yang berada tak jauh dari mereka berdiri.
"Ya Bu... mau lo..." ucapnya sambil meloncat-loncat.
"Nanti saja ya... Ibu kan belum selesai belanja." Ucap Ibu memberi pengertian cucunya.
Wajah Zeline seketika berubah. "Ya deh." Balasnya lalu kembali berjalan mengikuti langkah Ibu. "Bu..." Suara Zeline terdengar mengalun.
Ibu pun menghentikan langkahnya. "Ada apa Zel?" Tanya Ibu menatap lucu pada cucunya yang kini berkedip-kedip.
"Mau es klim bole?" Tanyanya penuh harap. Pandangan Zeline lalu mengarah pada etalase eskrim.
Ibu dengan cepat menggeleng. "Tidak boleh... Zel kan baru sembuh... nanti kalau sakit lagi bagaimana?" ucap Ibu dengan lembut.
"Sikit ja kok." Ucapnya lagi meminta.
"Untuk saat ini tidak dulu ya... kalau Kak Nai dan Ayah tahu dan marah bagaimana?" Ibu berusaha membujuk.
"Ya deh..." balasnya dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Ibu nampak menahan senyumannya. Walau pun merasa tak tega, namun Ibu tak ingin mengambil resiko bila cucunya sakit kembali.
Mereka pun terus berjalan sambil melihat kebutuhan apa lagi yang dibutuhkan dan sudah habis di rumah.
Saat sedang asik memilih buah-buahan di rak buah, Ibu tak menyadari jika Zeline sudah pergi berjalan-jalan seorang diri karena merasa bosan.
"Loh, Zel mana?" Wajah Ibu nampak begitu panik saat tak melihat keberadaan cucunya di sampingnya. Ibu pun mendorong keranjangnya dengan cepat sambil mencari keberadaan Zeline. "Zeline... kau dimana?" Ibu mulai cemas karena tak kunjung melihat keberadaan cucunya.
"Ibu..." mendengar suara bocah kecil yang sejak tadi dicarinya memanggil namanya membuat Ibu menatap ke sumber suara.
"Zeline..." ucap Ibu dengan sedikit kuat lalu menodorong keranjangnya ke arah Zel. "Kau kemana saja? Ibu sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Ibu lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Zeline.
Zel jalan-jalan dikit ja kok. Ini lni loh Ibu doktel cantik." Ucap Zeline sambil menunjuk wajah wanita muda yang kini berdiri di sampingnya.
"Iya lo... doktel cantik ini... doktel Dala..." Ucap Zeline lagi.
"Saya dokter yang menangani Zeline saat dirawat di rumah sakit, Bu. Perkenalkan nama saya Dara" Ucap Dara sambil mengulurkan tangannya pada Ibu Fatma.
Ibu Fatma menerimanya. "Oh... maaf saya tidak tahu." Ucapnya begitu sungkan. "Saya Ibu Fatma. Ibu Zeline." Lanjut Ibu sedikit ragu.
"Oh..." kepala dokter Dara mengangguk. Namun ia tidak percaya begitu saja. "Dan ini adalah Mama saya." Lanjutnya sambil mengarahkan pandangan pada wanita paruh baya di sampingnya.
__ADS_1
"Saya Hasna, Mamanya Dara." Mama Hasna mengulurkan tangan pada Ibu Fatma.
"Fatma..." balas Ibu dengan sopan.
Pandangan Mama Hasna dan Dara beradu beberapa saat seperti menyiratkan sesuatu.
"Doktel... apa doktel tidak bekelja?" Tanya Zeline.
"Hari ini Dokter tidak bekerja." Balas Dara yang diangguki paham oleh Zeline.
"Apa Ibu sudah siap memilih buah?" Tanya Zeline pada Ibu.
"Belum, Ibu sangat panik saat menyadari Zel tidak ada di samping Ibu." Balas Ibu dengan jujur.
Zel tertawa tanpa merasa bersalah membuat Ibu, Dara dan Mama Hasna gemas melihatnya.
"Kalau begitu kami pamit pergi dulu." Ucap Ibu yang diangguki oleh Dara dan Mama Hasna.
"Jadi gadis kecil itu yang kau maksud waktu itu?" Tanya Mama Hasna yang diangguki oleh Dara.
"Kenapa Mama merasa tidak asing dengan wajahnya?" Gumam Mama Hasna sambil mengingat-ngingat sesuatu.
__ADS_1
***
Buat beberapa hari kedepan aku bakalan slow update ya teman-teman. Karena saat ini aku sedang berada di luar kota. Jangan ditunggu ya updatenya😊