
"Naina, kau ingin kemana?" Tanya Aga saat Naina hendak pergi meninggalkan ruangan kerja mereka siang itu.
"Ada hal penting yang ingin aku urus sebentar di luar, Kak." Balas Naina dengan sedikit gugup.
Aga dapat menangkap ekspresi gugup Naina. "Urusan penting dengan siapa?" Tanya Aga kemudian.
"Dengan salah satu staff keuangan di lantai sembilan, Kak."
Aga mengangguk saja. "Pergilah dan jangan terlalu lama. Kau ingat bukan setelah jam istirahat kita ada rapat dengan Mbak Wiwin?"
"Aku mengingatnya, Kak. Dan aku pergi tidak akan lama." Balas Naina meyakinkan.
Aga kembali mengangguk lalu membiarkan Naina pergi begitu saja. Walau pun Naina tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya, namun Aga cukup tahu kemana Naina akan pergi saat ini.
*
Ceklek.
Daniel menghentikan kegiatannya yang sedang memeriksa beberapa dokumen di depannya saat mendengar suara langkah mendekat ke arah mejanya.
__ADS_1
"Naina?" Daniel bangkit dari duduknya sambil menatap dengan tatapan tak terbaca.
"Maaf sudah mengganggu waktumu." Ucap Naina menatap Daniel sekilas lalu menunduk.
"Tak masalah. Duduklah." Ucap Daniel.
Naina menggeleng. "Aku di sini saja." Tolaknya yang seperti tak ingin berdekatan dengan Daniel.
Daniel mengangguk dan memutuskan untuk tetap berdiri di tempatnya. "Ada apa kau datang ke ruanganku?" Tanya Daniel. Pandangannya kini terisi penuh dengan wajah Naina yang nampak semakin cantik dari hari ke hari.
Naina mengangkat wajahnya yang tertunduk. Ia sadar dengan sikapnya yang tidak sopan jika berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. "Aku hanya ingin membahas beberapa hal denganmu." Balas Naina membalas tatapan intens Daniel kepadanya.
Naina kembali tertunduk. Agh sial sekali. Matanya memang tidak sanggup menatap mata Daniel berlama-lama. "Baiklah." Balasnya kemudian.
Daniel pun berjalan lebih dulu menuju sofa diikuti Naina.
"Jadi hal apa yang ingin kau bahas denganku?" Tanya Daniel saat mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Apa kau yang membelikan ranjang untukku di rumah?" Tanya Naina tanpa basa-basi lagi. Walau pun Zeline sudah meyakinkannya jika bukan Daniel yang membelikan ranjang untuknya, namun Naina tak percaya begitu saja.
__ADS_1
Wajah Daniel nampak terkejut. "Ranjang?" Tanya Daniel.
Naina mengangguk. "Kemarin sore sopir dari mall datang mengantarkan ranjang ke rumahku. Apa kau yang membelikan ranjang itu? Mengingat kemarin kau baru saja pergi dengan Zeline." Ucap Naina.
"Aku memang pergi dengan Zeline kemarin, tapi aku tidak membelikan ranjang untukmu." Balas Daniel dengan sungguh-sungguh. Pemikiran Daniel pun melayang pada kejadian siang kemarin di mall.
Agh sial! Apa mereka yang membelikan ranjang untuk Naina? Tanya Daniel dalam hati mengingat sikap mencurigakan ketiga sahabatnya kemarin bersama putrinya.
"Jika bukan kau, siapa lagi yang membelikan ranjang itu? Lagi pula harga ranjang itu sangat mahal jika dibeli oleh keluargaku."
Daniel memijit pangkal hidungnya. Menghembuskan nafas bebas di udara lalu menatap pada Naina. "Maaf, sepertinya itu ulah ketiga sahabatku. Karena mereka kemarin ikut bersama kami menemani Zeline bermain di mall." Terang Daniel.
"Ketiga sahabatmu?" Wajah Naina nampak terkejut.
"Ya. Kemarin Zeline sangat ingin masuk melihat ranjang di dalam toko furniture di dalam mall. Di sana Zeline terlihat sangat ingin memilikinya dan waktu itu Zeline melihat-lihat ranjang bersama ketiga sahabatku karena aku dan Ibu sedang berbicara dengan pemilik toko di sana." Terang Daniel.
***
Lanjut? Berikan votenya dulu di hari senin yuk🌹
__ADS_1