
"Aga... Naina..." Sapa Mama Hasna sambil tersenyum.
"Bibi Hasna..." Naina membalas sapaan Mama Hasna lalu menyalimi Mama Hasna.
"Bibi..." Aga pun turut melakukan hal yang sama.
"Kalian baru saja sampai?" Tanya Mama Hasna.
Aga dan Naina mengangguk.
"Mama... ayo masuk." Ajak Daniel pada Mama Hasna karena saat ini beberapa karyawan nampak menatap bingung pada interaksi mereka.
Mama Hasna yang mengerti keadaan pun mengangguk. "Kalau begitu Bibi masuk dulu." Pamit Mama Hasna yang diangguki oleh Aga dan Naina.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Aga dan Naina, Daniel menatap sejenak wajah Naina dengan tatapan tak terbaca lalu beranjak pergi dari hadapan mereka.
"Naina. Ayo masuk!" Ajak Aga yang diangguki oleh Naina.
*
"Jadi kapan kau akan membawa Zeline ke mansion kita?" Tanya Mama Hasna setelah masuk ke ruangan Daniel.
"Aku belum bisa memastikannya. Untuk saat ini biarkan aku dan Naina mencoba memberi pengertian pada Zeline jika kami adalah orang tua kandungnya."
__ADS_1
"Zeline masih sangat kecil. Dia pasti akan sangat bingung dengan penjelasan kalian nantinya." Balas Mama Hasna.
Daniel mengangguk paham. Kakinya pun melangkah menuju sofa lalu menjatuhkan bokongnya di sana. "Aku dan Naina akan berusaha semampu kami memberitahunya dengan perlahan."
"Apa Naina sudah benar-benar memaafkanmu?" Tanya Mama Hasna setelah turut menjatuhkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Daniel.
"Dari mulutnya dia sudah memaafkanku. Namun dari matanya aku dapat melihat jika dia masih menyimpan rasa sakit atas perbuatanku."
"Memaafkanmu bukan berarti ia bisa melupakan perlakuanmu kepadanya begitu saja." Pungkas Mama Hasna.
Daniel mengangguk paham. "Aku tahu. Tidak mudah baginya melupakan itu semua."
"Apa kau sudah memberitahu masalah ini pada Queen?" Tanya Mama Hasna.
"Aku akan memberitahukannya di waktu yang tepat. Untuk saat ini aku ingin menyelesaikan permasalahanku dan Naina lebih dulu."
Daniel terdiam beberapa saat. "Aku sudah memikirkan itu semua."
"Apa keputusanmu?" Tanya Mama Hasna tak sabar.
"Mama akan mengetahuinya sebentar lagi." Balas Daniel tak ingin menjelaskan niatnya.
Mama Hasna menghembuskan nafas bebas di udara. Ia tidak mungkin memaksa Daniel menjawab pertanyaannya saat ini. "Apa kau sudah memberitahu Marko untuk membawa Naina nanti siang ke sini?" Tanya Mama Hasna.
__ADS_1
"Sudah. Naina akan datang ke ruangan ini di saat aku rapat siang nanti." Terang Daniel.
"Baguslah jika begitu. Mama sudah tidak sabar untuk meminta maaf padanya atas perlakuan burukmu."
*
"Ada apa aku dipanggil ke ruangan Daniel?" Selama dalam perjalan menuju ruangan Daniel, Naina dibuat bertanya-tanya atas intruksi Marko yang menyuruhnya datang ke ruangan Daniel. "Bukankah kami sudah berbicara tadi malam? Apa belum cukup?" Naina kembali bertanya-tanya.
"Langsung masuk saja, Nona." Ucap sekretaris Daniel yang memang sudah diperintahkan menunggu kedatangan Naina.
Naina tersenyum kaku. "Terimakasih."
Ceklek
"Naina... kau sudah datang..." melihat Naina masuk ke dalam ruangan Daniel, Mama Hasna pun buru-buru berjalan mendekat ke arah Naina.
"Bibi Hasna..." Naina dibuat terkejut sekaligus bingung dengan keberadaan Mama Hasna di dalam ruangan Daniel seorang diri.
"Naina..." Mama Hasna yang sudah berada dekat dengan Naina menatap Naina dengan mata berkaca-kaca.
"Bibi... ada apa?" Tanya Naina semakin bingung melihat kedua mata Mama Hasna yang mulai tergenang.
Bukannya menjawab, Mama Hasna lebih memilih memeluk erat tubuh Naina.
__ADS_1
"Maafkan putra Bibi, Naina..." lirih Mama Hasna sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Naina.
***