
"Kak Aga... Kakak sudah datang?" Kedatangan Naina di teras rumah menghentikan percakapan Aga dan Zeline.
Aga menolehkan kepala ke belakang begitu pula dengan Zeline. "Naina." Aga tersenyum tipis. Bangkit dari duduknya sambil menggendong Zeline.
"Maaf sudah membuat Kakak menunggu." Naina mengembangkan senyuman manisnya.
Aga menangkap senyuman manis itu yang selalu menghangatkan hatinya. "Tak masalah. Apa kau sudah siap?" Melihat penampilan Naina dari atas sampai bawah.
Naina mengangguk. Pandangannya menatap pada Zeline yang kini turut menatapnya dari atas sampai bawah.
"Mama tantik ini mau pelgi." Puji Zeline.
Naina tersenyum. "Anak Mama juga cantik walau pun tidak pergi." Mendekat ke arah Aga lalu mengelus rambut putrinya. "Ayo masuk ke dalam. Zel tidur sama Nenek dulu ya." Mengambil alih Zeline dari gendongan Aga.
"Ya, Ma." Balas Zeline lalu mengecup pipi Naina.
"Kak Aga, aku bawa Zeline masuk ke dalam dulu." Ucap Naina yang diangguki oleh Aga.
Setelah menitipkan Zeline pada Ibu dan berpamitan untuk pergi, Naina dan Aga pun masuk ke dalam mobil.
"Kau cantik sekali malam ini." Puji Aga menatap Naina tanpa berkedip.
__ADS_1
Naina membalas tatapan Aga. Bibirnya sedikit melengkung mendapat pujian dari kekasihnya. "Kakak juga tampan." Balasnya kemudian.
Aga tersenyum tipis. Mengalihkan pandangannya dari Naina dan menatap lurus ke depan. Mobil pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah Naina.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Aga memasuki kawasan salah satu perumahan elit di kotanya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang melawati beberapa rumah mewah yang tak kalah mewah dari perumahan orang tua Aga.
Mobil pun berhenti di depan rumah yang berdiri megah. Dari setiap rumah yang sudah mereka lewati, rumah di depannya saat ini adalah rumah yang paling besar dari rumah yang lainnya.
Aga terus melajukan mobilnya hingga sampai di depan rumah. Naina hanya bisa menelan ludah saat melihat betapa mewahnya kediaman keluarga Alexander yang tak berbeda jauh dengan kediaman orang tua Aga. Naina tak dapat membayangkan betapa kayanya kelurga Aga dan keluarga Daniel yang membuatnya merasa kerdil.
"Ayo turun." Suara lembut Aga berhasil membuyarkan lamunan Naina.
Di depan rumah seorang pelayan nampak sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan Aga, Nona Naina." Sapanya sambil membungkukkan badannya.
Aga dan Naina mengangguk seraya tersenyum.
"Apa Papa saya sudah datang?" Tanya Aga.
Pelayan itu mengangguk. "Tuan Andrew dan Nona Agatha sudah datang sejak lima belas menit yang lalu Tuan." Jelasnya.
__ADS_1
Aga mengangguk paham.
"Silahkan masuk, Tuan, Nona." Memberikan ruang agar Aga dan Naina masuk ke dalam rumah.
"Ayo." Ajak Aga yang diangguki Naina. Melihat Naina yang nampak gugup, Aga pun menggenggam sebelah tangan Naina.
"Kak Aga..." lirih Naina yang dibalas Aga dengan senyuman. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan tangan saling menggenggam.
Saat sudah berada dekat dengan ruangan keluarga, pandangan semua orang yang berada di sana pun tertunu pada Aga dan Naina.
"Aga... Naina... kalian sudah datang." Mama Hasna mengembangkan senyumannya lalu beranjak menghampiri Aga dan Naina. "Bibi sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi." Mama Hasna memeluk Naina dan Aga barang sejenak.
Aga dan Naina tersenyum.
"Ayo duduk dulu." Mama Hasna menarik lembut tangan Naina menuntunya menuju sofa yang tadi ia duduki.
"Bibi, dimana Daniel?" Tanya Aga saat tidak melihat keberadaan Daniel di sana.
***
Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk agar SHy semangat nulisnya ini🤗
__ADS_1