Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Menyadari ada yang hilang


__ADS_3

"Dia..."


"Zeline Bibi..." Zeline mengulurkan tangannya pada Mama Hasna untuk memperkenalkan dirinya.


Mama Hasna tersenyum lalu menerima uluran tangan Zeline. "Seharusnya kau memanggil Nenek." Ucap Mama Hasna lalu mengelus rambut Zeline.


"Inda Bibi? Milip lo sama Ibu Zel." Ucap Zeline mengamati wajah wanita yang masih nampak cantik dan muda di depannya sama seperti Ibunya.


*"Zel panggil Nenek saja, ya." *Timpal Daniel turut mengelus kepala putrinya.


Karena wanita ini adalah nenek kandungmu. Daniel hanya bisa membatin dalam hati.


"Ya deh. Nenek ini." Ucap Zeline sambil menunjukkan deretan giginya.


"Zeline, kau dengan siapa di sini?" Tanya Daniel setelah menyadari jika tidak ada siapa-siapa di dekat putrinya. Apa lagi saat ini Naina sedang bekerja di perusahaannya dan tidak mungkin wanita itu menemani Zeline.


"Sama Ibu dan Tak Mala." Balas Zeline sambil menununjuk toko baju.


"Lalu kenapa Zel pergi sendirian? Apa Ibu tau kalau Zel pergi?" Tanya Daniel.


"Inda. Ibu lama itu pilh baju sama Tatak. Zel cuekin itu." Adu Zeline.

__ADS_1


Daniel menggelengkan kepalanya. "Pasti saat ini Ibu sedang mencari keberadaanmu." Ucap Daniel.


"Inda kok. Pilih baju masih itu." Ucap Zeline.


"Ayo Kakak antar kembali ke tempat Ibu. Ibu pasti nyariin Zeline." Ucap Daniel lagi tak percaya dengan ucapan putrinya.


"Kau ingin mengantarkannya kemana Niel?" Tanya Mama Hasna.


Daniel pun menunjuk toko yang ditunjuk Zeline tadi. Sepertinya sejak tadi Mama Hasna termenung hingga tak mendengar ucapan Zeline.


"Mama tunggulah sebentar. Aku ingin mengantar Zeline dulu." Ucap Daniel.


"Gendong Nenek?" Tanya Zeline melihat tangan Mama Hasna.


Mama Hasna mengangguk seraya tersenyum.


"Zel mau digendong Nenek." Zeline pun ikut mengulurkan kedua tangannya pada Mama Hasna.


Mama Hasna pun mengambil alih tubuh Zeline lalu menggendongnya.


*

__ADS_1


Di dalam toko, Ibu yang masih dibuat bingung oleh Amara yang terus menunjukkan beberapa baju kepadanya lalu memintanya untuk mengomentarinya pun terdiam saat menyadari ada yang kurang disisinya.


"Zeline? dimana Zeline?" Ucap Ibu tersadar jika cucunya sudah tak lagi berada di sisinya. Ibu pun meletakkan begitu saja baju di tangannya lalu menghampiri Amara yang masih sibuk memilih baju didepannya. "Amara dimana Zeline?" Wajah Ibu nampak cemas sambil menatap keselilingnya.


"Zeline? Bukankah tadi didekat Ibu?" Tanya Amara sambil turut memperhatikan sekitarnya.


"Tidak ada. Zeline dimana?" Ibu semakin cemas. "Ayo cari Zeline!" Titah Ibu yang diangguki oleh Amara. Wajah Amara pun tak kalah cemas. Ibu dan Amara pun mencari keberadaan Zeline lebih dulu di dalam toko lalu keluar saat memastikan Zeline tidak ada di sana.


"Bagaimana ini Mara? Dimana Zeline?" Ibu semakin cemas.


"Mara juga tidak tahu, Bu." Balas Amara dengan wajah yang sudah hampir menangis.


"Ibu... Tatak.." Zeline yang melihat Ibu dan Kakaknya baru keluar dari dalam toko pun memanggil mereka.


Ibu dan Amara pun menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Zeline yang kini sedang berada dalam gendongan wanita paruh baya.


"Zeline..." Amara berjalan lebih dulu ke arah Zeline diikuti oleh Ibu. "Astaga Zeline... kau dari mana?" Amara menatap adiknya dengan wajah cemas lalu menatap bergantian pada wanita paruh baya yang sedang menggendong Zeline.


****


Lanjut? Berikan dukungannya dulu yuk. Like, komen, vote dan giftnya😉

__ADS_1


__ADS_2