
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya mata Zeline pun perlahan terpejam setelah Daniel mengusap lembut kepalanya.
"Dia sangat mirip dengan Naina." gumam Daniel menatap wajah Zeline yang sudah terlelap. Daniel menarik selembar selimut hingga menutupi tubuh putrinya. Perasaan bahagia kini memenuhi relung hati Daniel karena untuk pertama kalinya ia dapat merasakan tidur dengan buah hatinya. "Papa tidak akan menyia-nyiakanmu dan akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Papa benar-benar mencintaimu." Daniel mencium lama kening putrinya untuk menyalurkan rasa sayangnya pada Zeline.
Malam itu Daniel tidak benar-benar tidur. Pria itu lebih memilih menatap lama wajah putrinya yang sedang terlelap seakan tak ingin memutus tatapannya. Racauan Zeline dalam tidurnya yang terus memanggil namanya membuat Daniel begitu terenyuh. Bagaimana tidak, Daniel dapat merasakan kasih sayang yang sangat besar dari Zeline untuknya walau hanya lewat racauannya saja. Bahkan tak sekali pun Zeline menyebutkan nama Naina dalam tidurnya.
"Papah danteng..." Racau Zeline untuk ke sekian kalinya sambil tersenyum.
"Anakku..." Daniel dibuat tak dapat berkata-kata dan lebih memilih memeluk erat putrinya. Pemikiran Daniel pun melayang pada kebiasaan yang selalu terjadi padanya setiap tertidur belakangan ini. Bagaimana ia tidak tenang dalam tidurnya dan selalu memikirkan sosok putrinya. "Apakah kegelisahanku selama ini karena efek kerinduan putriku kepadaku?" Lirih Daniel berkaca-kaca.
Terlalu larut dalam pemikirannya membuat Daniel tanpa sadar menutup matanya secara perlahan. Daniel pun mulai terlelap menyusul Zeline ke alam mimpi sambil berpelukan dengan Zeline.
*
"Naina, apa Daniel belum bangun?" Tanya Bibi Ajeng pada Naina yang baru saja masuk ke dalam dapur.
__ADS_1
Naina menggelengkan kepalanya. "Sepertinya belum, Bibi. Sejak tadi Daniel belum keluar dari dalam kamar." Balas Naina.
"Nai, lebih baik sekarang kau membangunkan Daniel dan Zeline karena sudah waktunya sarapan pagi."
Naina nampak berpikir. "Tapi..." Naina meragu masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Naina... ayo cepat bangunkan Daniel." Timpal Ibu melihat Naina terlalu lama berpikir.
"Baiklah Bu." Balas Naina lalu keluar dari dalam dapur.
"Daniel... Zeline..." lirih Naina sambil berjalan dengan langkah pelan ke arah ranjang.
Pemandangan di depannya membuat Naina tak dapat berkata-kata. Naina menatap penuh rasa haru pada wajah putrinya yang begitu damai dalam pelukan Daniel.
Zeline... putriku... apa saat ini Zel sudah bahagia karna dapat merasakan tidur dalam dekapan seorang ayah? Pandangan Naina mulai buram karena matanya yang sudah tergenang. Selama ini ia selalu menutup diri dari kenyataan jika putrinya sangat merindukan sosok ayahnya walau bibir mungil itu tak dapat berucap. Dan sekarang ia sadar, jika ia tidak dapat menutupi peran seorang ayah dalam hidup Zeline dengan perannya sebagai ibu sekaligus sebagai ayah.
__ADS_1
Naina mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Dengan ragu tangannya terulur menepuk pundak Daniel guna membangunkannya.
"Daniel..." ucap Naina dengan pelan sambil menepuk pundak Daniel.
"Daniel..." untuk kedua kalinya Naina menepuk pundak Daniel kerena Daniel tak memberikan respon. Saat hendak menepuk untuk ketiga kalinya, niat Naina terhenti saat mata Daniel terbuka perlahan hingga kini kedua pandangan mereka saling beradu.
Deg
***
Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
Terimakasih☺️
__ADS_1