Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Dari Zeline untuk Mamah


__ADS_3

"Hadiah apa?" Naina dibuat bingung dengan ucapan putrinya.


"Ada deh. Lahasia itu loh." Ucap Zeline memasang wajah menggemaskan.


Naina tak kuasa menahan bibirnya untuk tak mencium wajah putrinya. "Sejak kapan sih tahu rahasia segala?" Tanya Naina lalu menarik hidung Zeline.


"Mamah sakit ini!" Ucap Zeline sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah.


Naina tertawa. "Memangnya Zel tahu apa itu rahasia?"


Zeline mengangguk. "Lahasia inda boleh bilang itu sama Mamah." Terang Zeline.


"Tidak boleh bilang sama Mama saja?" Sebelah alis Naina terangkat.


Zeline mengangguk polos. "Mamah inda boleh tahu itu." Balasnya lalu menaruh jari telunjuknya di bibir.


Naina tertawa. "Anak Mama lucu banget sih." Mengecup pipi bulat Zeline bergantian.


"Hahaha..." Zeline tertawa-tawa saat Naina menciumnya di area yang membuatnya geli.


"Mama masuk ke kamar dulu mau mandi dan ganti baju. Apa Zel mau ikut?"

__ADS_1


Zeline menggeleng. "Zel duduk sini ja Ma." Balasnya sambil mengayunkan kaki mungilnya.


"Baiklah. Kalau begitu Mama masuk dulu." Naina pun bangkit lalu memberikan usapan lembut di kepala putrinya sebelum melangkah ke kamarnya.


*


"Lama ini datang hadiah Mamah!" Bibir Zeline mulai mengkerut. Pandangannya tak henti menatap ke luar rumah menanti hadiah untuk Mamanya diantar ke rumah. "Om danteng benel ada uang itu? Mamah nanti bohongin itu." Ucapnya ragu.


Zeline pun memilih menunggu di teras rumahnya menanti hadiah Mamanya datang. Wajahnya mulai memerah menahan tangis saat hari sudah hampir gelap namun hadiahnya belum datang juga.


"Oom inda ada uang itu. Mamah kasian itu mau hadiah." Lirihnya lalu menangis kencang. "Hua..." suara tangisan Zeline yang cukup keras pun akhirnya membuat Ibu berlari keluar rumah.


"Nenek... hadian Mamah belum—" ucapan Zeline terputus saat melihat sebuah mobil pick up bewarna putih berhenti di depan rumahnya.


"Hadiah Mamah itu!" serunya lalu memberontak untuk diturunkan.


Tak ingin Zeline terjatuh, Ibu pun segera menurunkan Zeline. Zeline pun segera berlari ke arah mobil pick up hingga membuat Ibu turut mengejarnya.


"Oom... apa ini hadiah Mamah?" Tanya Zeline pada sopir pick up.


"Adik kecil... ini pesanan dari Tuan Marvel." Balas sang sopir yang kurang paham siapa Mama yang Zeline maksud.

__ADS_1


"Ya Om sopil. Hadiah Mamah ini!" Seru Zeline sambil menunjuk bak mobil. "Ayo cepat tulunkan... ayo Om..." pintanya penuh harap dan tanpa sadar jika saat ini wajahnya masih basah oleh air mata.


Sang sopir tersenyum lebar melihat betapa menggemaskannya Zeline. Ia pun segera meminta bantuan pada rekan kerjanya untuk menurunkan barang bawaan mereka.


"Zeline..." Ibu mengusap rambut cucunya. Ibu nampak tak percaya jika hadiah yang dibisikkan Marvel di mall tadi adalah sebuah divan dan kasur berukuran besar untuk Naina putrinya.


"Nenek... mana taluh kasul ini? Kasul kamal belum Mamah kelualin itu?" Wajah Zeline nampak bingung melihat sopir sudah mau menurunkan kasur dari pick up.


"Zeline... Ibu..." Naina berjalan dengan cepat ke arah Ibu dan putrinya.


"Mamah..." Zeline segera memeluk kaki Naina saat Naina sudah berada di dekatnya.


"Zeline... Ibu... divan dan kasur siapa ini?" Tanya Naina dengan wajah bingung.


"Mamah... ini hadiah untuk Mamah dali Zel..." balas Zeline semakin mengeratkan pelukannya di kaki Naina. "Kasul besal ini bial kita bisa tidul sama Papah di kamal Mamah..." ucap Zeline dengan suara penuh harap.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasihšŸ¤šŸ¤


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi🌹

__ADS_1


__ADS_2