
"Bagaimana Naina?" Tanya Aga melihat Naina yang hanya diam saja.
"Emh... Boleh saja, Kak. Tapi Kakak harus izin dulu pada ayah dan ibuku." Balas Naina dengan kaku.
"Tak masalah. Aku akan meminta izin pada mereka saat menjemputmu." Balas Aga dengan santai.
Pintu lift pun terbuka sehingga memutuskan interaksi diantara mereka. Saat sudah berada di dalam kantin, baik Aga mau pun Naina nampak lebih banyak diam saat Sasa, Dimas dan Thoriq saling melempar candaan satu sama lain.
Kak Aga ingin mengajakku jalan-jalan? Batin Naina selalu terngiang akan ajakan Aga. Cobalah buka hatimu, Nai... Ucapan Ibunya tiba-tiba terlintas di benak Naina. Baiklah, aku rasa tidak masalah jika hanya pergi jalan-jalan saja. Tapi... Bagaimana kalau Zel minta ikut... Huh, sebaiknya aku menidurkannya lebih cepat nanti malam. Batin Naina terus berpikir.
*
Ruangan Presdir.
Saat ini di ruangan Daniel tengah terjadi ketegangan saat sebuah map hasil penyelidikan Marko telah berada di atas mejanya.
"Bukalah." Titah Daniel menatap Marko tajam.
Marko menurutinya.
"Dan bacalah!" Titahnya kemudian yang kembali dituruti oleh Marko.
__ADS_1
"Dari hasil yang saya dapatkan, gadis kecil itu adalah adik dari wanita yang anda maksud." Ucap Marko sambil membaca setiap keterangan tentang tanggal dan tempat lahir gadis kecil yang ia maksud.
"Jadi gadis kecil itu lahir bukanlah di kota ini?" Tanya Daniel sedikit terkejut.
"Ya. Maka dari itu saya sangat sulit mendapatkan informasi tentang kelahiran gadis kecil itu karena tempat lahirnya bukanlah di kota ini, Tuan." Terang Marko.
"Aku rasa informasimu belum cukup jelas!" Ucap Daniel yang merasa tidak puas.
"Saya masih mencari infromasi lebih rincinya, Tuan. Namun saya merasa ada yang janggal dari informasi yang saya dapatkan. Dan saya akan berusaha mendapatkan kebenarannya secepat mungkin."
"Apa maksudmu?" Tanya Daniel merasa bingung.
"Sepertinya di rumah sakit tempat gadis kecil itu lahir ada salah satu pihak yang berusaha menyembunyikan identitas asli dari gadis kecil itu." Terang Marko lalu menjelaskan hal yang mengganjal yang dapat ia rasakan saat penyelidikan.
"Baik, Tuan." Balas Marko patuh.
Tak lama suara pintu yang terbuka dari luar pun mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.
"Queen..." Ucap Daniel sedikit terkejut saat melihat wajah kekasihnya.
"Daniel..." Queen tersenyum manis sambil melangkahkan kakinya lebih dekat pada Daniel.
__ADS_1
Asisten Marko pun dengan cepat membereskan lembaran kertas yang ada di depannya berisi informasi gadis kecil yang dimaksud Daniel sebelum Queen melihatnya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan." Pamit Marko yang diangguki oleh Daniel.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat terburu-buru sekali?" Tanya Queen sambil mendaratkan tubuhnya di kursi depan Daniel.
"Tidak usah memikirkannya. Katakan, angin apa yang membawamu datang kemari?" Tanya Daniel tak ingin basa-basi.
Queen nampak cemberut dengan sikap dingin kekasihnya. "Aku hanya ingin mengajakmu untuk makan siang bersama." Ucap Queen.
Daniel menghela nafas berat. "Bukankah aku sudah bilang jika saat ini aku sangat sibuk, Queen. Bahkan Marko mengantarkan makan siang untukku di dalam ruangan." Decak Daniel menahan kekesalannya.
"Sebentar saja. Aku sangat rindu makan siang bersamamu. Lagi pula besok aku sudah berangkat kembali ke Jepang untuk mengurus dokumenku yang hilang." Ucap Queen dengan memelas.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
__ADS_1
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺