
"Tidak diubah. Hanya ditambah saja kok." Balas Papa Alexander.
"Napa ditambah?" Tanya Zeline lagi dengan kening mengkerut.
"Bu Hasna... anda sudah datang." Kedatangan Ibu membuat perhatian Papa Alexander teralihkan dari Zeline.
Mama Hasna tersenyum. "Ya. Kami baru saja sampai." Balas Mama Hasna. Ibu dan Mama Hasna pun bersalaman.
"Perkenalkan suami saya, ayah dari Daniel." Ucap Mama Hasna mengarahkan pandangan pada Papa Alexander.
Ibu mengulurkan tangannya pada Papa Alexander. "Fatma."
"Alexander."
Ibu tersenyum ramah. "Ayo silahkan masuk Bu Hasna, Tuan Alexander."
"Terimakasih Bu Fatma." Mama Hasna pun masuk ke dalam rumah diikuti Papa Alexander dan Daniel.
"Danteng ya, Bu." Ucap Zeline yang kini sudah berada di gendongan ibu.
"Siapa yang ganteng?"
"Kakek Alex dan Tak Niel loh." Bisiknya malu-malu.
Ibu menggelengkan kepalanya lalu mencubit gemas hidung Zeline. "Jangan berbicara sembarangan. Memangnya Zel tahu arti ganteng itu seperti apa?" Tanya Ibu.
__ADS_1
"Tahu, danteng sepelti Tak Mala bilang." Balasnya mengingat wajah pria yang sering ditonton Amara.
"Sudahlah." Tak ingin Zeline semakin sembarangan bicara, ibu pun melangkah cepat masuk ke dalam rumahnya.
*
Suasana di ruang tamu mulai tegang saat Papa Alexander menyampaikan permohonan maafnya atas sikap putranya. Papa Alexander memasang wajah kecewanya atas prilaku buruk putra yang sangat disayanginya itu.
Naina menatap sekilas wajah Daniel yang nampak masih lebam dan seperti ada luka baru di wajahnya.
Apa Tuan Alexander juga memukul Daniel? Wajah Naina nampak bersalah. Sudah beberapa kali Daniel mendapatkan pukulan atas kesalahannya di masa lalu. Padahal kesalahan itu bukan sepenuhnya kesalahan Daniel karna Naina juga menginginkannya.
Naina menghela nafas panjang. Maafkan aku. Ucapnya dalam hati.
Suasana tegang di ruang tamu pun mulai mencair saat Ayah dengan lapang dada sudah memaafkan kesalahan Daniel dan hanya meminta kebahagiaan untuk cucu pertamanya.
Daniel menatap tajam Papanya. Walau pun sudah membahas masalah ini di mansion mereka, namun entah mengapa Daniel merasa papanya tengah menyusun rencana berbeda.
"Sapa cucu ayah, Tak?" Tanya Zeline pada Amara.
Amara menggaruk keningnya yang tidak gatal. Ia pun turut bingung menjelaskannya pada Zeline.
"Kita dengarkan saja dulu, ya." Balas Amara.
Bibir Zeline mengerucut. "Ya deh." Balasnya walau masih penasaran.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu setelah pembahasan penting mereka telah selesai, Daniel dan Naina pun berpamitan untuk membawa Zeline pergi.
"Jelaskan dengan pelan-pelan saja, Zel pasti masih sangat bingung dengan penjelasan kalian nantinya." Pesan Ibu.
Naina menganggukkan kepalanya. Detak jantungnya bekerja tidak normal karena sebentar lagi harus mengungkapkan rahasia yang ia pendam selama ini pada putrinya.
"Mau kemana ini, Tak?" Tanya Zeline yang kini sudah duduk di pangkuan Naina ddalam mobil.
"Kita main di taman sebentar, ya." Balas Naina.
"Napa main taman? Malam ini Tak." Zeline nampak bingung.
"Kita bermain di sana sebentar dengan Kak Daniel." Ucap Naina sambil engelus rambut putrinya.
"Ya deh." Balas Zeline tak ingin bertanya lagi.
Sepuluh menit berlalu, mobil pun telah sampai di taman. Untung saja suasana taman malam itu tidak begitu ramai hingga Naina dan Daniel bisa membicarakan status Zeline dengan tenang.
"Ayo turun." Ucap Daniel pada Naina yang masih terdiam dengan pandangan kosong.
Naina menolehkan wajahnya pada Daniel lalu mengangguk.
"Biar aku saja yang menggendong Zeline." Ucap Daniel dengan lembut lalu mengambil alih Zeline ke dalam gendongannya.
***
__ADS_1
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi☺️