
Mama Hasna tersenyum. "Sepertinya tidak untuk kali ini Bu Fatma. Selain karena Pak Arif tidak ada di rumah, saya juga memiliki niat lain." Ungkap Mama Hasna sambil mengarahkan pandangannya pada Zeline.
Ibu yang mengerti arti ucapan Mama Hasna pun mengangguk. "Apa Bu Hasna ingin membawa Zel jalan-jalan?" tawar Ibu.
"Apa boleh?" Mendengar tawaran Ibu, Mama Hasna pun melebarkan senyumannya.
"Tentu saja boleh. Amara bisa menemani Bu Hasna untuk membawa Zel jalan-jalan." Balas Ibu.
Mama Hasna semakin melebarkan senyumannya. Ia sungguh tidak menyangka dengan kebaikan Ibu yang mau memberi kesempatan padanya untuk dekat dengan cucunya.
"Amara, kau tidak keberatan bukan membawa Zel jalan-jalan bersama Bibi Hasna?" Tanya Ibu pada putrinya.
Amara menggeleng. "Kebetulan Amara sangat ingin keluar saat ini, Bu." Balas Amara tersenyum.
"Jalan-jalan ma Nenek?" Tanya Zeline yang sejak tadi hanya diam.
Mama Hasna mengangguk. "Apa Zel mau?" Tanya Mama Hasna.
Zeline dengan cepat mengangguk. "Mau... main mana ini Nek?" Tanyanya tak sabar.
__ADS_1
"Bagaimana ke playground di mall saja?" Tawar Mama Hasna.
Walau pun tidak paham ucapan Mama Hasna, Zeline tetap mengangguk. "Main mana ja boleh!" Balasnya lalu turun dari kursi. "Ayo Tak Mala belsiap. Kita mau main sama Nenek!" Seru Zeline lalu merentangkan kedua tangannya pada Amara.
Melihat Zeline yang terlihat begitu senang diajak bermain membuat Ibu dan Mama Hasna melebarkan senyumannya.
"Awas saja kalau hilang lagi seperti kemarin!" Ucap Amara menarik hidung Zeline."
"Inda... janji deh!" Balasnya lalu mengecup pipi Amara.
*
Di dalam ruangan kerjanya, Daniel nampak termenung dengan pandangan kosong sambil mengetuk bolpoin di tangannya di atas meja. Cukup lama Daniel larut dalam lamunannya. Entah apa yang Daniel pikirkan. Bahkan kedatangan Marko yang masuk ke dalam ruangannya pun tak berhasil membuat lamunan Daniel terhenti.
"Tuan..." ucap Marko yang sudah berada di hadapan Daniel.
Daniel menegakkan tubuhnya. Menatap kesal pada Marko yang sudah mengagetkannya. "Ada apa?" Tanyanya dengan datar.
"Saya sudah membawa apa yang anda minta." Ucap Marko sambil mengulurkan tangannya yang berisi ponsel pada Daniel.
__ADS_1
Daniel segera mengambil ponsel di tangan Marko. "Apa kau sudah memeriksa kondisinya?" Tanya Daniel.
Marko mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus. Kalau begitu kau boleh keluar!" Titah Daniel yang diangguki oleh Marko.
Setelah tubuh Marko lenyap dari balik pintu, Daniel pun segera menghidupkan ponsel di tangannya. Kondisi ponsel ditangannya itu nampak sudah tidak memprihatinkan dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Naina." Daniel begitu tertegun saat melihat gambar walpaper ponselnya adalah foto Naina yang masih menggunakan kaca mata tebalnya. Lidah Daniel berdecak. Ia sudah tahu siapa pelakunya. Siapa lagi jika buka Marko asistennya yang selalu mengerti apa yang ia inginkan.
Jari jempol Daniel nampak mulai bergetar saat membuka galery ponselnya. Banyaknya foto yang memperlihatkan kebersamaannya dan Naina kini mengisi penuh penglihatannya.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Daniel tertarik. Ingatan masa lalu itu kembali berputar di benaknya. Bagaimana waktu itu Naina si gadis cupu berkaca mata tebal itu selalu menurut padanya. Jari jempol Daniel pun membuka salah satu foto yang menarik perhatiannya lalu menggeser foto demi foto hingga jarinya tertahan saat sebuah foto yang memperlihatkan bagaimana Naina nampak begitu manis tanpa kaca mata tebalnya saat mengerjakan tugas kuliahnya.
"Kau terlalu baik untuk pria berengsek seperi diriku." Gumam Daniel sambil mengelus foto wajah Naina.
***
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.
__ADS_1
Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗