
"Kak Niel?" Ekspresi wajah Naina nampak berubah terkejut. Ibu yang dapat menangkap mimik wajah putrinya pun kembali angkat bicara.
"Daniel... nama pria itu adalah Daniel." Jelas Ibu menekan setiap kata-katanya.
Daniel? Batin Naina dibuat tidak tenang. Pandangan Naina pun tertuju pada Ibu seolah meminta penjelasan.
"Kenapa wajahmu seperti orang bingung, Nai? Bukankah kau sudah mengenalnya sebagai rekan kerjamu?" Ibu memasang wajah ikut bingung.
"Agh, ya. Tapi ... Daniel yang mana yang Zel maksud, Bu? Nai bukan hanya memiliki satu orang teman bernama Daniel."
"Tak Danteng loh, Tak. Masa inda tahu si Tak!" Wajah Zeline berubah masam.
"Daniel... pria itu terlihat sangat tampan dan memiliki wajah keturunan bule. Dan yang pasti..." ibu menggantungkan ucapannya di udara. Menatap pada Naina yang kini tengah menatapnya.
"Yang pasti apa, Bu?" Naina berusaha masih tetap tenang walau hatinya sudah berdetak cukup kuat.
"Yang pasti pria itu terlihat memiliki warna mata yang sama dengan Zel."
Deg
__ADS_1
Detak jantung yang sudah bekerja di luar batas normal itu pun kembali berdetak bertambah kencang.
"Tak Nai... kenapa Tatak diam saja? Ibu bicala itu loh." Tangan Zeline yang sedang menggoyang tubuhnya membuat Naina tersadar dari keterkejutannya.
"Ada apa denganmu, Naina?" Ibu memasang wajah penuh pertanyaan. Gerak-gerik Naina kini terlihat mencurigakan di matanya.
"Nai tidak apa-apa, Bu." Balasnya dengan raut wajah gugup yang tak dapat ia sembunyikan.
Amara yang tadi hanya diam sambil memainkan kini menghentikan kegiatannya dan lebih memilih melihat interaksi Ibu dan Kakaknya yang terlihat cukup menegangkan.
Sedangkan Ibu, melihat ada yang tidak beres pada putrinya saat mengatakan nama Daniel, lebih memilih untuk tak lagi
berbicara. Ia tak ingin Naina bertambah tertekan akan perkataannya yang biasa saja namun membuat Naina memberikan ekspresi yang tak biasa atas ucapannya.
"Sudah. Ayah baru saja dibangunkan oleh Ibu." Balas Ayah menatap sebal pada istrinya yang tadi sempat mengganggu tidurnya.
Ibu tersenyum kecil.
"Zel sudah pulang dari jalan-jalannya? Senang tidak pergi sama Ibu?" Ayah menggendong tubuh Zeline lalu mengecup kedua pipinya.
__ADS_1
"Senang, Yah. Besok pelgi sama Ayah ke toko boleh?" Pinta Zeline.
"Tentu saja boleh. Besok Ibu juga ikut ke toko membantu Ayah." Balas Ayah yang membuat Zeline tersenyum senang.
"Asik... bisa main depan toko Ayah nanti itu loh!" Ucapnya lalu mengecup pipi Ayah.
"Iya, iya." Balas Ayah lalu kembali meletakkan tubuh Zeline di atas sofa.
"Dimakan dulu martabaknya, Yah." Ucap Naina lalu menyerahkan piring berisi martabak pada Ayah.
"Terimakasih, Nai." Balas Ayah yang diangguki oleh Naina.
Sore hari itu, keluarga kecil bahagia itu pun menghabiskan waktu mereka dengan memakan sekotak martabak berukuran besar yang dibelikan Ibu sambil bercerita ringan. Namun selama pembicaraan berlangsung, Naina nampak tidak fokus pada apa yang dibahas keluarga. Karena pemikirannya saat ini melayang pada sosok ayah kandung anaknya yang membuat hidupnya mulai tak tenang.
*Apa maksud Daniel menemui Zeline dan Ibu? *Pertanyaan itu mulai menghantui pemikiran Naina membuat Naina tidak tenang. Besok aku harus menemuinya dan menanyakan maksud dan tujuannya menemui Zel. Aku tidak ingin dia berniat yang tidak-tidak pada putriku. Batin Naina mulai resah.
Dari tempat duduknya, Ibu yang sejak awal sudah curiga dengan sikap putrinya pun tak henti memperhatikan pergerakan Naina secara diam-diam.
Ibu rasa kau dan Daniel memiliki masalah yang membuatmu takut seperti ini, Nai. Batin Ibu sambil menimbang-nimbang sesuatu.
__ADS_1
***
Tolong berikan vote, komen dan likenya dulu yuk baru lanjut. Sebagai dukungan atas karya author. Terimakasih🙂