Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Awal mula kisah itu terjadi


__ADS_3

Hujan deras sore itu menemani sepasang kekasih yang sedang mengerjakan tugas kuliah mereka bersama. Sejak tadi Daniel tak henti-hetinya menatap pada wajah Naina yang terlihat begitu fokus mengerjakan tugas mereka dari balik kaca mata tebalnya.


"Huh, akhirnya siap juga." Ucap Naina sambil menaikkan kedua tangannya di udara karena pegal.


"Daniel..." Panggil Naina saat menyadari jika kekasihnya itu sudah tidak ada di ruang tamu akibat ia yang terlalu fokus mengerjakan tugas mereka berdua.


"Sepertinya hujan di luar lebat sekali." Gumam Naina sambil berjalan menuju arah balkon. "Kalau begini, bagaimana aku bisa pulang?" Decak Naina sambil memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Bahkan langit sudah nampak mulai gelap.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya seseorang yang secara tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Daniel... Kau mengagetkanku!" Cetus Naina sambil mengelus dadanya.


Daniel terpaku. Menatap pada wajah Naina yang terlihat terkejut namun entah mengapa terlihat lucu di matanya.


"Hujanya semakin deras. Sepertinya kau akan sulit untuk pulang malam ini." Ucap Daniel namun tak melepaskan pandangannya dari wajah polos Naina.


Siall... Ternyata gadis cupu ini cantik juga! Amuk batin Daniel saat memperhatikan dengan intens wajah Naina saat Naina melepas sejenak kaca matanya.


"Sepertinya begitu... Huh... Bagaimana ini..." Ucap Naina semakin bingung.

__ADS_1


"Mundurlah, aku akan menutup pintu balkonnya." Ucap Daniel saat cerpikan air hujan mulai masuk ke dalam apartemennya.


Naina menurutinya. Pintu pun tertutup hingga membuat suasana cahaya di dalam apartemen mulai redup.


"Naina..." Daniel mendekat ke arah Naina yang masih terdiam sambil menatap gelapnya malam dari kaca jendela apartemennya.


"Daniel..." Naina begitu terkejut saat merasakan tangan Daniel sudah melingkar di pinggangnya. "A-apa yang lakukan?" Tanya Naina sedikit terbata.


"Memelukmu..." Bisik Daniel di daun telinga Naina.


Naina merinding. Menikmati sensasi yang diberikan Daniel saat pria itu mulai meniup leher jenjangnya.


Daniel membalikkan tubuh Naina. Menatap dalam pada kedua bola mata yang terhalang oleh kaca mata tebal yang bertengger di hidung Naina.


"Naina..." Panggil Daniel dengan lirih setelah melepas ciuman di leher jenjang Naina hingga meninggalkan jejak merah di sana. "Aku..." Daniel tak lagi melanjutkan ucapnnya karena pria itu lebih memilih membenamkan bibirnya di bibir tipis Naina.


Naina terbelalak. Merasakan hangatnya sapuan bibir Daniel di bibirnya. Ini ciuman pertamanya. Dan Daniel tanpa izin mengambilnya begitu saja.


Bibirnya manis juga. Batin Daniel lalu memperdalam ciumannya.

__ADS_1


"Daniel..." Naina nampak ingin marah akan kelakuan lancang kekasihnya itu. Namun melihat wajah tampan Daniel, membuatnya luluh begitu saja.


"Apa kau belum pernah berciuman sebelumnya?" Tanya Daniel saat melihat wajah terkejut dan kekesalan di wajah Naina.


Naina dengan cepat menggeleng. "Tadi adalah ciuman pertamaku." Ucap Naina dengan jujur.


Daniel menarik bibir ke samping. Sudah ku duga. Lagi pula siapa pria yang mau dengan wanita cupu sepertimu. Ucap Daniel dalam hati.


"Apa kau tahu sebenarnya kau itu sangat cantik?" Ucap Daniel sambil menarik pinggang Naina mendekat ke arah tubuhnya. Daniel pun mulai melepas kaca mata yang terus menutupi wajah cantik Naina.


"Kau sangat cantik, Naina..." Ucap Daniel pelan sambil membelai lembut pipi Naina.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺

__ADS_1


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺


__ADS_2