
"Tentu saja. Memangnya ada apa?"
"Tapi apa Kakak tidak takut dibicarakan yang tidak-tidak oleh karyawan yang lainnya karena Kakak membawa kendaraan mewah ke perusahaan?" Naina mencoba mengeluarkan pemikirannya.
Aga tertawa kecil. "Untuk apa aku memikirkan mereka? Lebih baik aku memikirkanmu yang semakin cantik setiap harinya." Ucap Aga dengan nada menggoda.
"Kak Aga..." Naina menepuk lengan Aga. "Aku ini sedang tidak bercanda." Lanjutnya dengan bibir mengerucut.
"Sudahlah... aku tidak lagi memikirkan apapun itu. Lebih baik sekarang kita berangkat atau kita akan terlambat datang ke perusahaan." Ajak Aga lalu mengulurkan tangannya pada Naina.
Naina menerimanya. Setelah berpamitan pada Ayah, Ibu, Amara dan Zeline, Naina dan Aga pun segera berangkat menuju perusahaan.
"Amara... kenapa kau termenung?" Ibu menepuk pundak Amara yang sedang termenung sambil menatap kepergian mobil Aga.
"I-ibu... Ibu mengagetkan Mara saja." Amara mengelus dadanya.
"Kalena Tak Mala menung itu." Balas Zeline lalu menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.
"Kenapa kau termenung Amara?" Ibu mengulang pertanyaannya.
"Amara tidak termenung Ibu. Amara hanya memperhatikan kendaraan yang lewat saja." Kilah Amara.
Ibu yang hendak bicara kembali menghentikan niatnya saat Zeline sudah lebih dulu berbicara.
"Ibu... Ayo bersiap untuk pelgi ke toko..." tangan mungil Zeline menarik tangan Ibu untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"Apa Ibu pergi ke toko Ayah pagi ini?" Tanya Amara yang diangguki oleh Ibu.
"Ibu... Ayo..." rengek Zeline.
"Iya... ayo masuk." Ibu pun memegang tangan Zeline lalu menuntunnya untuk masuk. Meninggalkan Amara yang nampak kembali menatap pada arah jalan sambil menghela nafas panjang.
*
Dua buah mobil mewah bewarna senada nampak memasuki gerbang perusahaan Alexander. Kedatangan mobil mewah itu pun sontak menarik perhatian para karyawan yang sedang berlalu-lalang di depan perusahaan.
"Naina, ayo keluar." Ajak Aga pada Naina yang terlihat termenung.
"Agh, iya Kak." Naina pun membuka pintu mobilnya diikuti Aga.
Saat baru saja keluar dari dalam mobil, Naina dikejutkan oleh kehadiran sosok Daniel yang sedang berjalan melewatinya sambil menatapnya dengan dingin.
"Naina... kenapa kau suka sekali termenung, hem?" Aga menepuk pundak Naina.
"Agh, iya Kak."
"Ayo pergi. Apa kau masih ingin berada di sini?" Ucap Aga yang dibalas Naina dengan menggeleng.
"Kau ini..." Aga mengelus kepala Naina lalu mereka pun berjalan beriringan.
Daniel... aku harus menemuinya nanti untuk melarangnya menemui Zeline kembali! Ucap Naina dalam hati.
__ADS_1
*
Di depan pintu lift khusus petinggi perusahaan, Marko nampak menunggu kedatangan Daniel di sana.
"Apa kau melihat Aga datang bersama Naina?" Tanya Daniel setelah mereka masuk ke dalam lift.
Marko mengangguk. "Saya sempat melihat mobil Tuan Aga sebelum masuk ke lobby, Tuan."
"Sepertinya Aga sudah mulai menunjukkan jati dirinya."
"Sepertinya begitu, Tuan. Dari informasi yang saya dapatkan, Tuan Aga sudah menerima tawaran Tuan besar Andrew untuk memimpin perusahaannya."
Daniel dibuat terdiam. "Jika Aga sudah menerima tawaran itu, berarti kau sudah paham bukan apa maksudnya Marko?" Tanya Daniel dengan tatapan tajamnya.
"Berarti Tuan Aga sudah berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini, Tuan." Balas Marko.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak yaa☺
Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Hanya Sekedar menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
__ADS_1
- Oh My Introvert Husband (End)