Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Luka yang disembunyikan


__ADS_3

"Merusak masa depan putri saya?" Wajah Ayah nampak mulai memerah. "Merusak seperti apa yang kau maksud?" Tanyanya lagi dengan tangan yang sudah terkepal erat.


"Merusak masa depan Naina karena saya telah menodainya dan membuatnya hamil di luar nikah."


Brak


Gumpalan tangan Ayah mendarat kuat di atas meja sofa hingga membuat kaca meja sedikit retak.


"Ayah..." Ibu menggelengkan kepalanya. Berharap Ayah dapat mengontrol emosinya saat ini.


"Jadi kaulah pria yang telah merusak putriku?" Tanya Ayah sambil menatap nyalang pada Daniel.

__ADS_1


Daniel mengangguk. Tanpa gentar ia pun kembali berbicara. "Dan saya adalah ayah kandung dari Zeline."


"Tutup mulutmu! Zeline tidak memiliki Ayah yang tidak bertanggung jawab sepertimu!" Suara Ayah terdengar mulai meninggi.


Amara dan Zeline yang berada di dalam kamar pun turut terkejut mendengar suara keras Ayah untuk pertama kalinya.


"Tak... hua..." Zeline memeluk erat tubuh Amara merasa ketakutan.


"Apa kau tahu bagaimana tersiksanya putriku selama ini? Putriku hidup dalam ketakutan karena hamil di luar nikah walau pun kami sebagai keluarganya selalu menyemangatinya. Putriku harus menanggung rasa sakit karena harus mengakui putri kandungnya menjadi adiknya. Dan lebih menyakitkan lagi, putriku sampai saat ini tidak pernah dipanggil Ibu oleh anak kandungnya sendiri. Apa kau tahu rasa sakit yang dirasakan putriku selama ini? Dan sekarang setelah empat tahun berlalu, kau baru muncul di hadapan kami untuk meminta maaf. Pria seperti apa dirimu!" Bentak Ayah. Ayah masih berusaha menahan emosinya agar gumpalan tangannya tidak melayang di pipi pria berengsek di depannya saat ini.


Ibu mulai menangis. Turut merasakan rasa sakit yang putrinya lewati selama ini walau pun putrinya selalu berusaha terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Kau tidak tahu rasa sakitnya saya dan istri saya saat tengah malam selalu mendengar putri kami menangis seorang diri sambil menghakimi dirinya sendiri. Dia selalu merasa dirinya adalah wanita kotor yang membawa keburukan untuk keluarga kami. Bahkan putri kami selalu mengkerdilkan dirinya sendiri jika tidak akan ada pria yang mau menerima kondisinya sebagai ibu dari satu anak yang lahir tanpa adanya ikatan pernikahan." Ayah berbicara panjang lebar sambil berkaca-kaca.


Selama ini Ayah dan Ibu selalu berusaha berpura-pura tidak mengetahui apa yang dirasakan Naina walau pun mereka sangat sakit saat melakukannya. Ayah dan Ibu hanya bisa selalu berusaha menyalurkan kekuatan pada Naina dengan memberikan kasih sayang tiada henti pada Naina dan cucu mereka setiap harinya. Ayah dan Ibu pun tidak pernah ingin bertanya siapakah ayah dari cucu mereka karena ingin menjaga perasan Naina. Mereka sangat paham, jika apa yang menimpa putrinya menimbulkan rasa trauma di dalam diri putrinya.


"Tatak... Ayah malah itu..." Zeline semakin ketakutan saat mendengar suara Ayah yang meninggi.


"Tenanglah... Ayah tidak marah." Amara hanya bisa menenangkan Zeline. Walau pun saat ini ia cukup terkejut saat mendengarkan pengakuan yang cukup jelas terdengar oleh telinganya. Air mata Amara pun turut menetes. Ternyata selama ini Ayah dan Ibunya turut terluka atas apa yang menimpa Kakaknya.


Daniel semakin tertunduk. Matanya pun turut tergenang menyadari seberapa berengsek dirinya yang sudah membuat sebuah keluarga terluka karena dirinya.


Ayah kembali menarik nafas panjang. "Sekarang apa bisa kau jelaskan, ada hubungan apa kau dan putriku di masa lalu hingga membuat putriku hamil di luar nikah?" Tanya Ayah dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


***


__ADS_2