
Mendengarkan ucapan Ibunya membuat Naina terdiam. Apa benar jika putrinya itu merindukan sosok ayahnya? Apa ia sudah bersikap egois jika berniat menjauhkan Zeline dari ayah kandungnya? Bagaimana pun gadis kecilnya tidak bersalah bukan jika ingin merasakan kasih sayang dari pria yang berstatus ayah kandungnya?
"Berikanlah Zeline kesempatan untuk berada dekat dengan ayahnya, Nai. Dia berhak merasakan kasih sayang Daniel." Ucap Ibu menutup percakapan mereka sore itu saat melihat Amara dan Zeline yang baru saja pulang dari warung berjalan mendekat ke arah mereka.
Naina memperhatikan wajah polos putrinya. Apa sudah saatnya ia benar-benar berdamai dengan masa lalu demi kebaikan putri kecilnya? Mengorbankan perasaannya untuk melihat putrinya bahagia? Lagi pula Daniel tidak melakukan hal yang ia takutkan bukan? Naina terus membatin.
*
"Apa anda tidak pulang, Tuan?" Tanya Marko saat melihat Daniel hanya terdiam di kursi kerjanya sambil menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong.
"Sebentar lagi. Saya akan pulang ke rumah Kak Dara sore ini." Ucap Daniel.
"Nona Dara?" Marko kemudian terdiam. Melihat wajah Daniel yang nampak berbeda membuat Marko menebak jika Daniel sedang berada dalam masalah saat ini.
__ADS_1
"Mama sudah mulai curiga jika saya menyimpan sebuah rahasia di belakangnya. Begitu pula dengan Kak Dara."
"Tuan..." Marko nampak ragu saat ingin mengatakan sesuatu yang belum sempat ia sampaikan.
Daniel memiringkan tubuhnya. Menatap tajam pada Marko seolah memerintah agar asistennya kembali melanjutkan ucapannya.
"Beberapa hari yang lalu saya baru mengetahui jika Nona Dara menyewa seseorang untuk menyelidiki masa lalu Nona Naina dan anda."
"Apa yang sudah dia dapatkan?" Tanya Daniel pada intinya.
Daniel menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Hal yang ia rahasiakan akhirnya perlahan terbongkar juga.
"Saya pulang sekarang juga." Ucap Daniel lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Marko mengangguk paham. Marko segera keluar dari ruangan Daniel menuju ruangannya untuk mengambil tas kerjanya dan kunci mobil.
"Apa kita langsung menuju rumah kakak anda, Tuan?" Tanya Marko saat mobil sudah berjalan di jalan raya. Sore itu Daniel memang meminta agar Marko mengantarkannya pulang ke rumah Kakaknya.
Daniel mengangguk tanpa bersuara. Pandangan pria itu nampak kosong menatap pada jalanan yang cukup padat sore itu. Hingga pandangannya pun terhenti melihat sepasang suami istri dan seorang gadis kecil yang ia perkirakan seumuran dengan Zeline nampak bercanda ria di atas motor mereka. Keluarga kecil itu nampak bahagia di dalam candaan mereka di atas motor mereka yang sudah nampak usang.
Pemikiran Daniel langsung melayang. Jika saja ia yang berada di posisi itu, ia pasti sangat bahagia bisa bercanda dengan putrinya sambil melewati jalanan padat seperti sore ini.
Mobil terus melaju hingga sampai di depan rumah Dara. Daniel menghela nafas panjang. Malam yang panjang akan ia lewati di rumah Kakaknya malam ini dengan berbagai pertanyaan yang pasti akan menyudutkan dirinya. Daniel tak memperdulikannya, dengan langkah tegap dan pasti ia turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah Dara.
Baru beberapa langkah kakinya menginjak rumah Dara, langkah Daniel terhenti saat melihat Mama dan Kakaknya sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri seperti sedang menunggu kedatangannya.
"Bersihkan tubuhmu. Mama menunggumu di sini untuk menjelaskan semuanya." Ucap Mama Hasna dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Daniel mengangguk. Ia sudah dapat menangkap apa yang ingin dibicarakan Mamanya saat ini.
*