
Tatapan yang saling beradu itu berhasil membuat detak jantung Naina dan Daniel berdetak begitu cepat. Seolah terhipnotis dengan tatapan Daniel, Naina tak memutus tatapan mereka walau saat ini tubuhnya begitu gugup.
"Ada apa?" Suara Daniel yang terdengar serak berhasil membuat Naina memutuskan tatapannya.
"Sudah saatnya sarapan. Aku hanya ingin membangunkanmu karena Ibu dan Bibi sudah mencari keberadaanmu dan Zeline."
Daniel dengan hati-hati melepas pelukan putrinyaa lalu bangkit dari pembaringan. Lalu mengusap rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang. Pergerakannya itu tak lepas dari tatapan Naina yang kembali memperhatikannya.
Daniel mengalihkan pandangan pada Zeline yang terlihat masih nyaman terlelap seakan tak terganggu dengan pembicaraan mereka. "Zeline... ayo bangun..." Daniel mengusap lembut rambut putrinya. "Zeline..." Daniel kembali memanggil nama putrinya.
"Eugh..." Zeline hanya melenguh sebagai jawaban namun tidak membuka matanya.
"Zeline..." melihat sikap menggemaskan putrinya, Naina pun mencondongkan tubuhnya pada Zeline hingga membuat beberapa helai rambutnya berjatuhan di wajahnya. "Ayo bangun... Mama sudah membuatkan ayam goreng untuk Zeline..." ucap Naina sambil mengusap pipi putrinya.
"Ayam goleng..." Perlahan mata Zeline pun terbuka. Zeline menatap wajah Naina yang kini sangat dekat dengan wajahnya. "Mana ayam goleng Ma? Zel mau ini." Ucapnya dengan suara serak.
"Ada di meja makan. Ayo sekarang bangun dulu." Naina menjauhkan tubuhnya saat melihat Daniel ingin membantu Zeline untuk bangkit.
"Papan danteng..." wajah Zeline seketika ceria saat menyadari ada Daniel di dekatnya.
__ADS_1
Daniel tersenyum. "Lupa ya kalau tadi malam tidur sama Papa?"
Zeline menggeleng lalu mengucek kedua matanya agar dapat melihat wajah Daniel dengan jelas. "Inda lupa kok." Ucapnya kemudian.
Naina memilih membiarkan Daniel berinteraksi sejenak dengan Zeline sembari membuka jendela kamarnya. Sinar matahari yang mulai masuk ke dalam kamarnya membuat suasana kamar menjadi terang. Naina membalikkan tubuhnya, kini ia dapat melihat wajah tampan Daniel dengan jelas. Tidak dapat ia pungkiri jika mantan kekasih yang kini berstatus sebagai tunangannya itu masih tetap tampan bahkan kadar ketampanannya semakin bertambah seiring bertambahnya usianya.
"Apa kau ingin mandi?" Tanya Naina setelah menormalkan ekspresi wajahnya yang tadi sempat mengagumi Daniel.
"Apa ada baju ganti untukku?" Tanya Daniel kembali.
Naina mengangguk. "Pakai baju ayah lagi apa tidak masalah?" Tanya Naina.
Naina mengangguk paham. "Zeline... ayo mandi. Nenek sudah menunggu di meja makan." Naina mengulurkan kedua tangannya pada Zeline.
Zeline hanya menatap uluran tangan Naina sambil menggeleng. "Mandi sama Papah ja Ma." Ucapnya.
"Mandi sama Mama saja ya. Papa tidak bisa memandikan Zel." Bujuk Naina.
"Inda mahu Ma." Tolaknya lagi.
__ADS_1
"Biar aku saja yang memandikan Zeline." Ucap Daniel.
"Apa kau bisa?" Naina meragu.
"Tentu saja. Memandikan Zeline bukan hal yang berat." Balas Daniel meyakinkan.
"Baiklah. Kalau begitu biar aku menyiapkan pakaian ganti untukmu dan Zeline dulu." Naina pun berjalan keluar kamar menuju kamar ayahnya untuk mengambil baju untuk Daniel.
*
"Jadi mereka sudah bertunangan?" Seorang wanita cantik nampak menatap nanar sebuah foto pertunangan Daniel dan Naina yang ia lihat di akun media sosial adik Aga. Walau pun Agatha tidak menutupi wajah Naina dan Daniel, namun wanita itu masih dapat mengenal jelas postur tubuh pria yang masih dicintainya itu. "Apa semudah itu dia melupakan hubungan kami begitu saja?" Wanita itu mulai terisak meratapi nasibnya yang buruk.
***
Lanjut? Mana ini komen, vote dan giftnya? Heehe🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
Terimakasih☺️
__ADS_1