
Saat masuk ke dalam apartemennya, detak jantung Daniel semakin bekerja dengan cepat saat ingatan demi ingatan masa lalunya bersama Naina mulai berputar di memorinya. Langkah Daniel pun semakin maju hingga ia sampai di dalam kamar pribadinya yang menjadi tempat hilangnya mahkota gadis polos dan culun bernama Naina.
Daniel menatap ke arah ranjang lalu menjambak rambutnya frustasi. Suara Naina yang menyebutkan dirinya Mama pada Zeline semakin terngiang di telinganya.
Dengan kepala yang sudah berat menahan banyaknya pradug, Daniel pun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kenapa kau menyebutkan dirimu Mama? Bukankah sejak awal dia adalah adikmu?" Daniel masih saja bertanya-tanya dalam kegelisahannya.
"Wajahnya sangat mencerminkan wajah Naina. Namun mata itu... Argh..." Daniel semakin frustasi.
Cukup lama Daniel berada di apartemennya untuk menenangkan pemikirannya sebelum hasil tes DNAnya dan Zeline keluar karena Marko sudah berhasil mendapatkan sampel rambut dari gadis kecil itu.
Ting
Suara deringan dari telefonnya yang terus berbunyi mengganggu Daniel yang masih terlelap dalam tidurnya. "Marko?" Gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Daniel setelah panggilan terhubung dengan Marko.
__ADS_1
Hasil tes DNA Tuan dan Nona kecil Zeline sudah keluar. Ucap Marko di seberang telefon.
"Baik. Tunggulah di sana. Aku akan segera kembali." Ucap Daniel lalu mematikan sambungan telefonnya.
Daniel pun segera bangkit dari pembaringannya. Sebelum kembali ke rumah sakit, Daniel menyempatkan mengganti pakaiannya lebih dulu dengan pakaian yang lebih santai.
*
Tap
Tap
Tap
"Marko... Bagaimana?" Tanya Daniel tanpa basa-basi.
"Ini hasil tes yang anda minta, Tuan." Ucap Marko sambil menyerahkan amplop berlogo rumah sakit ke tangan Daniel.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu dan tubuh yang mulai bergetar Daniel pun menerimanya. Daniel membaca setiap goresan tinta yang tertera di atas kertas berwaja putih itu dengan tubuh yang mulai menegang.
"Jadi benar dia adalah anakku?" Ucap Daniel dengan sangat pelan. Bahkan Marko dan Dokter itu pun tak dapat mendengar ucapannya.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya Marko merasa khawatir melihat wajah Daniel yang mulai memucat.
Daniel hanya diam. Karena saat itu pemikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa tahun lalu. Dimana saat itu menjadi hari terakhirnya menyentuh tubuh Naina. Saat itu Daniel merasa heran melihat bentuk perut Naina yang semakin membuncit hari demi hari. Namun saat Naina menjelaskan mungkin lemak di perutnya semakin bertambah sebah ia yang sangat suka makan malam membuat Daniel percaya begitu saja pada ucapan Naina tanpa berpikir panjang lebih dulu.
"Jadi selama ini Naina mengganti identitas Zeline menjadi adiknya?" Ucap Daniel menatap pada Marko.
Marko mengangguk membernarkan. "Apa anda sudah membaca isi amplop yang saya berikan, Tuan?" Tanya Marko.
Daniel menggeleng. Melihat itu Marko pun hanya bisa menghela nafas panjang. "Semua laporan yang anda minta sudah ada di dalam amplop itu, Tuan. Dan tanpa anda melakukan tes DNA sekali pun saat ini, saya yakin laporan itu sudah menunjukkan bukti yang anda inginkan."
"Rahasiakan hal ini dari siapa pun termasuk keluargaku. Biarkan aku menyelesaikan pemersalahan ini lebih dulu." Titah Daniel lalu berjalan meninggalkan Marko.
Aku harus menemui Naina dan meminta penjelasan padanya! Batin Daniel sambil melangkah lebih lebar menuju ruangan rawat Zeline.
__ADS_1
***