Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Status untuk anak kita


__ADS_3

"Kau boleh mengataiku apa saja, Naina. Namun saat ini aku sedang tidak bersandiwara." Balas Daniel dengan tenang.


Naina terdiam. Memejamkan kedua matanya lalu menarik nafas sesaat. Hampir saja ia kelepasan mengontrol emosinya. Bukankah niatnya datang ke tempat ini untuk membicarakan hal penting itu dengan baik-baik.


"Aku tidak ingin berlama-lama di sini." Ucap Naina mengalihkan pembicaraan.


Daniel mengangguk paham. Ia sadar jika Naina tidak ingin berada di dekat pria seperti dirinya yang telah begitu dalam menoreh luka di hatinya.


"Seharusnya aku yang mengajakmu lebih dulu untuk bertemu."


Naina diam. Ia lebih memilih menatap wajah Daniel sesaat lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Agh, sial sekali. Hanya menatap mata Daniel saja ia tidak bisa melakukannya. Apa lagi tatapan pria itu kini nampak berbeda dari tatapannya dulu saat mereka masih menjalin kasih. Tatapan Daniel terlihat begitu tulus dan wajah pria itu sangat tenang.


"Untuk apa kau mengajakku bertemu?" Tanya Naina.


"Tujuan yang sama dengan yang kau lakukan saat ini. Ada hal penting yang ingin aku bahas bersamamu." Balas Daniel.


Pandangan Naina tertuju pada seorang pria yang sangat dikenalinya tengah masuk ke dalam cafe bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Bisakah kita pindah tempat saja? Thoriq ada di sini." Ucap Naina tanpa membalas ucapan Daniel.


Daniel turut memperhatikan pandangan Naina. Kepalanya mengangguk. Lalu tanpa kata ia pun berdiri dari duduknya.


"Ayo ikut aku!" Ajak Daniel.


Naina mengangguk. Mengikuti langkah Daniel menuju ruangan VIP yang tadi sempat Daniel tawarkan dengan wajah tertunduk.


Cahaya redup di ruangan VIP menambah kecanggungan diantara Daniel dan Naina. Beberapa saat kedua insan manusia itu larut dalam pemikirannya masing-masing hingga deheman Daniel kembali memulai pembahasan diantara mereka.


"Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu." Balas Naina dengan datar.


"Tapi aku membutuhkannya." Pungkas Daniel. "Aku sadar betapa besar kesalahanku di masa lalu kepadamu. Menjadikan wanita baik-baik seperti dirimu menjadi bahan taruhan diantara kami. Aku memang pria berengsek seperti perkataanmu waktu itu. Namun kini aku benar-benar menyesal telah melakukannya." Ungkap Daniel.


Kedua bola mata Naina mulai tergenang. Mengingat kejadian masa lalunya yang menyakitkan benar-benar membuat hatinya kembali sakit. Naina mengalihkan wajahnya ke arah samping. Berharap Daniel tidak melihat matanya yang tergenang saat ini walau pun pada kenyataannya Daniel telah melihatnya.


"Apa hanya kata maaf dariku yang kau butuhkan saat ini?" Tanya Naina tanpa menatap wajah Daniel.

__ADS_1


"Bukan hanya itu. Aku juga membutuhkan kebaikan hatimu untuk aku bisa dekat dengan putri kita."


"Putri kita?" Naina menatap wajah Daniel dengan intens. "Untuk apa kau ingin dekat dengan anak yang tidak kau harapkan kehadirannya? Bahkan kau berniat melenyapkannya saat kau belum mengetahui dia sudah ada di rahimku." Tanya Naina dengan sinis. Mengulang kembali pertanyaannya beberapa waktu yang lalu.


"Ucapanku tidak sesuai dengan hatiku, Naina. Hatiku benar-benar tulus ingin berdekatan dengan Zeline dan memberikan kasih sayang yang selama ini tidak ia dapatkan dariku. Aku hanya ingin dia tahu jika aku adalah ayah kandungnya. Aku hanya ingin memberikan status yang asli kepada anak kita. Aku tidak ingin Zeline selamanya hidup dalam kebohongan." Ucap Daniel dengan suara yang mulai memelan. Menceritakan tentang nasib putri kecilnya yang hidup dalam kebohongan selama ini benar-benar membuat dadanya kian sesak.


***


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗


Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, teman-teman silahkan mampir di karya aku yang lainnya ya.


- Bukan Sekedar Menikahi (On Going)


- Hanya Sekedar Menikahi (End)


- Oh My Introvert Husband (End)

__ADS_1


__ADS_2