
Aga mengangguk. "Paman mengajak keluargaku datang makan malam di rumahnya karena dia baru saja kembali dari luar negeri. Apa kau keberatan ikut denganku nantinya?" Aga menatap Naina intens.
Naina menggeleng. "Aku akan menemani Kakak." Mencoba untuk tersenyum.
Aga tak mengalihkan pandangannya dari wajah Naina. "Baiklah. Kalau begitu nanti malam aku akan menjemputmu." tuturnya lembut.
Naina mengangguk. "Baik, Kak. Aku akan menunggu Kakak nanti malam." balasnya lalu melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya setelah tidak ada lagi yang ingin mereka bicarakan.
*
"Mama mau mana ini?" wajah Zeline nampak penasaran saat melihat Naina memilih baju di dalam lemari untuk pergi.
Naina membalikkan tubuhnya menatap pada putrinya yang kini nampak penasaran. "Mama mau pergi dengan Om Aga." Mengelus kepala Zeline. "Apa Zel tak masalah Mama tinggal sebentar?" Tanyanya meminta persetujuan.
Bibir Zeline mengkerut. "Om Aga? Inda Papah?" wajah Zeline berubah murung.
Naina menggeleng. "Mama ada janji dengan Om Aga malam ini."
"Papa inda sini?" Tanyanya tanpa memperdulikan ucapan Naina.
"Tidak. Mungkin besok Papa akan datang menemui Zel."
"Yah..." Wajah Zeline mulai lesu. "Papa inda sini? Kangen Zel tuh." keluhnya.
__ADS_1
Naina mengelus rambut putrinya. Mensejajarkan tingginya dengan Zeline agar dapat melihat jelas raut wajah putrinya. "Besok Mama akan meminta Papa datang ke sini." Ucapnya berharap Zeline kembali bersemangat.
Zeline mengangkat wajahnya. Mengulurkan jari kelingkingnya di wajah Naina. "Janji ya?" Pintanya penuh harap.
"Iya, Mama janji." Naina menautkan jari kelingkingnya dan kelingking Zeline sambil mengelus kepala Zeline lalu mengecup keningnya.
*
"Om Aga!" Seru Zeline saat melihat Aga sudah berdiri di pintu rumahnya. Kaki mungil Zeline melangkah ke arah Aga lalu merentangkan kedua tangannya pada Aga.
Aga yang mengerti maksud Zeline pun segera menggendong Zeline saat sudah berada di dekatnya.
"Om Aga mau pelgi sama Mamah, ya?" Tanya Zeline.
Zeline mengangguk. "Mama Naina loh."
Aga mengangguk saja. Ternyata Naina sudah memberitahukan status asli dirinya pada Zeline pikirnya.
"Ya. Om Aga akan pergi bersama Mama Nai." Balas Aga kemudian.
"Pelgi mana tuh?" Tanya Zeline.
"Pergi ke rumah saudara Om Aga."
__ADS_1
"Oh..." Kepala Zeline mengangguk. "Om Aga tahu inda Zel tuh punya Papah!" Ucapnya dengan tersenyum lebar.
"Oh ya?" Aga membawa Zeline duduk di teras rumah lalu memangkunya. "Siapa Papa Zel?" Tanya Aga memasang wajah pura-pura tidak tahu.
"Papah Niel. Papah Niel adalah Papah Zel!" Sangking senangnya mengungkapkan siapa ayah kandungnya, Zeline mengecup kedua pipi Aga dengan gemas.
Aga tersenyum walau hatinya kini merasa tercubit saat melihat betapa senangnya Zeline setelah mengetahui siapa ayah kandungnya.
"Apa Zel senang jika Papa Niel adalah Papa kandung Zel?" Tangan Aga terulur mengelus rambut Zeline.
Zeline mengangguk cepat. "Seneng Zel tuh!" Ucapnya dengan mata berbinar.
"Kenapa bisa senang?" Tanya Aga. Menatap intens kedua bola mata Zeline yang sangat mirip dengan Daniel.
"Seneng Zel tuh. Papah Niel baik, danteng juga. Zel seneng ja sama Papah Niel!"
"Apa Zel akan senang jika Papa Niel selalu berada di dekat Zel?" Tanya Aga lagi.
"Ya, Om. Zel mau tuh Papah Niel bobo sini ja. Bobo sama Zel tuh. Tapi Mamah bilang kasul inda muat itu bobo sama Papah. Sempit itu kasulnya. Papah Niel badannya besal juga." Adunya memasang wajah lesu.
***
Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk agar SHy semangat nulisnya ini🤗
__ADS_1