
"Zeline?" Wajah Daniel nampak terkejut melihat kedatangan putrinya.
"Tak Niel..." Zeline membalas ucapan Daniel dengan malu-malu sambil memeluk erat kaki Daniel yang tak tertutupi kain.
Daniel mengangkat tubuh Zeline hingga kini ia dapat melihat wajah putrinya dengan jelas.
"Kenapa pagi-pagi sudah ke sini, hem?" Tanya Daniel.
"Napa ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Daniel, Zeline justru terfokus menatap wajah Daniel yang nampak lebam. "Melah ini..." ucap Zeline dengan kening mengkerut. Tangan mungilnya mulai mengusap lebam di wajah Daniel.
"Ini tidak apa-apa." Daniel menjauhkan tangan mungil Zeline dari wajahnya.
"Napa melah ini? Sepelti dipukul kemalin sama ayah ini! Sapa yang pukul Tak Niel?" Tanya Zeline lagi dengan suara yang cukup keras. Ingatannya dengan bekas pukulan ayah di wajah Daniel waktu itu masih tersimpan jelas di benaknya.
"Ini tidak dipukul. Wajah Kakak seperti ini karna wajah Kakak menabrak dinding." Ucap Daniel terpaksa berbohong.
"Tablak dinding?" Zeline menatap intens wajah Daniel. "Inda mungkin tablak dinding!" Ucapnya lagi tak percaya.
"Kakak tidak berbohong. Kakak memang kemarin menabrak dinding karna tidak melihat jalan waktu mau ke kamar mandi." Ucap Daniel meyakinkan putrinya.
"Masa ya? Tablak dinding sepelti dipukul ayah?" Tanyanya bingung.
"Ya. Kakak menabrak dindingnya cukup kuat." Balas Daniel.
__ADS_1
Wajah Zeline nampak bingung. Namun sesaat kemudian kepalanya pun mengangguk.
"Apa ini sakit?" Tanyanya memegang sudut bibir Daniel.
"Ssh..." Daniel meringis.
Zeline pun buru-buru menjauhkan tangannya dari bibir Daniel. "Sakit ya?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Salah Zel ini pegang bibil Tak Niel." Ucapnya kemudian merasa bersalah.
"Tidak... ini tidak sakit." Daniel mencoba melebarkan senyumannya agar Zeline percaya dengan ucapannya.
"Hua...." Zeline pun menangis saat melihat robekan di bibir Daniel membuat kulit dagingnya terkelupas. "Beldalah!" ucapnya dengan tangisan yang semakin kencang.
"Zeline sayang.. tenanglah... ini bukan darah. Ini obat merah yang Kakak oleskan di bibir." Daniel memegang jari telunjuk putrinya yang tertempel bekas obat merah.
"Apa itu benal?" Tanyanya dengan tangis yang belum menyurut.
"Sakit ini ya? Embus ya?" Pintanya sambil menangis.
Daniel mengangguk lalu tersenyum.
"Huft..." Zeline menghembus wajah Daniel yang lebam. Air matanya masih belum juga surut.
"Huft... Huft..."
__ADS_1
"Terimakasih Princess... sekarang lukanya tidak sakit lagi." Ucap Daniel setelah Zeline menghentikan hembusannya.
Bibir Zeline mengkerut. Matanya masih fokus menatap wajah lebam Daniel.
"Apa Kak Naina tahu Zel main ke sini?" Tanya Daniel mengalihkan perhatian putrinya.
Zeline menggeleng. "Masih tidul itu tadi. Semua tidul. Zel saja yang bangun." Jelasnya dengan wajah yang masih basah.
Daniel menghembuskan nafas bebas di udara. "Kenapa tidak membangunkan Kak Nai? Kak Nai bisa khawatir tidak melihat keberadaan Zel." Ucap Daniel.
"Inda kok. Tahu itu Zel main sini." Balas Zeline.
Daniel mengusap rambut putrinya gemas. "Ayo Kakak antarkan pulang." Ajak Daniel.
Kepala Zeline dengan cepat menggeleng. "Inda mahu. Mau belenang sini." Tolaknya lalu memeluk erat leher Daniel.
"Kita akan berenang setelah Zel meminta izin pada Kak Naina, oke?" Ucap Daniel tak ingin membuat Naina khawatir dan nantinya berpikiran yang tidak-tidak padanya.
"Ya deh." Balas Zeline tak bersemangat. Padahal ia sudah tidak sabar berenang dengan Daniel seperti kemarin.
"Kita akan berenang sepuasnya nanti." Ucap Daniel lagi yang mengerti apa yang ada di pikiran putrinya saat ini.
***
__ADS_1
Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi☺️