Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Untukmu dan anak kita


__ADS_3

Senyuman di wajah Daniel dan Naina terkembang. Mereka membiarkan Zeline berjalan sendiri melihat-lihat keadaan rumah baru mereka. Sesekali Zeline bertanya tentang apa yang dilihatnya dan Daniel menjawab dengan bahasa sederhana agar putri kecilnya mengerti.


"Tantik gini lumah Papah." Nafas Zeline terdengar naik turun karena telah lelah berjalan kesana kemari.


"Zeline... ayo duduk dulu." Naina mengulurkan sebelah tangannya ke arah Zeline.


Zeline mengangguk lalu berjalan ke arah Naina yang kini duduk di atas sofa. "Tapek Zel tuh." Keluhnya saat sudah berada di pangkuan Naina.


Naina tersenyum. Ia pun memberikan elusan di kepala Zeline dengan sebelah tangannya. "Kalau sudah capek istirahat dulu, ya." Tutur Naina.


"Ya, Mah." Zeline menjatuhkan wajahnya di dada Naina.


"Naina, lebih baik kita bawa Zel ke kamarnya saja agar bisa istirahat di sana." Ucap Daniel yang baru saja kembali dari depan rumah.


"Papah... Zel ngantuk ini..." keluh Zeline. Tangan mungilnya pun terulur kepada Daniel.

__ADS_1


Daniel tersenyum. Segera ia menyambut uluran tangan putrinya lalu menggendongnya. Naina pun beranjak dari sofa yang didudukinya.


"Ayo ikut aku." Ajak Daniel.


Naina mengangguk lalu mengikuti langkah Daniel menaiki anak tangga menuju ke kamar Zeline. Saat sudah masuk ke dalam kamar yang bertuliskan nama Princess Zeline di pintu kamar, Naina dibuat terkejut melihat bentuk kamar Zeline yang didesain dengan tema Princess.


"Ini adalah kamar Princess Papa. Apa Zel menyukainya?" Tanya Daniel sambil mengelus rambut Zeline.


"Ini kamal Zel?" Tanya Zeline dengan suara sedikit besar. Gadis kecil itu pun mulai memberontak meminta diturunkan. Setelahnya ia pun berlari ke sana kemari melihat-lihat isi kamarnya.


"Daniel... apa ini tidak berlebihan?" Tanya Naina mendekati Daniel.


Naina tanpa sadar tersenyum lebar. Ia sungguh tak menyangka Daniel telah menyiapkan ini semua untuknya dan Zeline. Setelah Zeline merasa puas melihat-lihat bentuk kamar barunya, Naina pun membawa tubuh Zeline ke atas ranjang untuk ia tidurkan.


"Tidur dulu ya, nanti main lagi." Tutur Naina sambil mengusap-usap kepala putrinya. Cukup lama Naina menghabiskan waktu untuk menidurkan Zeline. Hingga akhirnya ia dapat bernafas lega saat melihat kedua kelopak mata Zeline sudah tertutup sempurna.

__ADS_1


"Apa Zeline sudah tidur?" Tanya Daniel saat Naina baru saja keluar dari dalam kamar putrinya.


Naina mengangguk. "Kau dari mana?" Tanya Naina.


"Aku baru saja dari bawah. Ayo ikut aku." Ajak Daniel.


"Kemana?" Kening Naina mengkerut.


"Ikut saja..." Daniel menggenggam lembut tangan Naina lalu menuntunnya menuju sebuah kamar yang berada tidak jauh dari kamar putrinya.


"Ini kamar siapa?" Belum selesai keterkejutan Naina dengan bentuk kamar Zeline, ia sudah dibuat terkejut melihat kamar yang terlihat sangat luas serta barang-barang di dalamnya yang tersusun rapi dan mewah.


"Tentu saja ini kamar kita..." balas Daniel dengan pelan.


"Da-daniel..." tubuh Naina menegang saat Daniel tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


Daniel dapat merasakan reaksi tubuh Naina. Ia pun membalikkan tubuh Naina agar menatap ke arahnya. "Apa kau menyukainya?" Tanya Daniel sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naina.


***


__ADS_2