Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kata yang sulit terucap


__ADS_3

Daniel menggenggam jari telunjuk Naina yang tengah menunjuk wajahnya. "Kau mau melarangku untuk tidak menemui anakku sendiri? Lupakan saja niatmu itu karena sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya." Balas Daniel. Lalu dengan perlahan menurunkan tangan Naina.


"Selain berengsek ternyata kau juga pria munafik, Daniel. Bukankah kau dulu pernah berkata jika kau tidak pernah sudi memiliki anak dari wanita seperti diriku? Lantas kenapa sekarang kau bertingkah seolah-olah kau sangat menginginkan anakku!"


"Karena aku sudah mencabut ucapanku. Dan aku sangat menginginkannya dan menyayanginya." Balas Daniel apa adanya.


"Berengsek!" Lagi-lagi Naina memukul dada Daniel. Namun Daniel membiarkannya. "Pendusta! Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu berniat buruk pada anakku!" Pekik Naina.


"Kau pikir aku sepicik itu hingga berniat buruk pada anak kandungku sendiri?!" Daniel akhirnya lepas kendali. "Kau mungkin bisa saja memalsukan identitas asli Zeline sampai saat ini. Tapi kau tidak bisa memalsukan ikatan batin seorang ayah pada anaknya."


"Diam kau berengsek!" Naina menggeleng. Tak percaya akan apa yang Daniel katakan.


"Terserah kau mau berbicara apa. Karena aku memang pria berengsek seperti yang kau katakan. Kau boleh menghujatku karena perbuatan masa laluku. Namun aku bukanlah pria yang sama seperti kau lihat beberapa tahun yang lalu." Balas Daniel.


"Ku mohon jangan lagi mendekati anakku. Cukup aku saja yang kau sakiti dan kau hancurkan. Jangan lagi kau memberi rasa sakit terutam untuk anakku. Dia sudah cukup sakit merasakan hidup tanpa sosok ayah sejak lahir di dunia ini. Biarkan kami hidup bahagia." Naina tertunduk. Suaranya terdengar mulai melemah. Namun Naina masih bertahan untuk tak mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


Daniel dibuat terdiam. Ucapan Naina benar-benar menusuk hingga ke jantungnya.


Naina pun membalikkan tubuhnya. Rasanya percuma saja jika ia berbicara karena Daniel tidak akan mendengarkannya.


Daniel memperhatikan langkah Naina yang semakin menjauh darinya.


"Maaf..." satu kata yang sangat sulit untuk ia ucapkan akhirnya keluar juga.


Langkah Naina dibuat terhenti. Naina memejamkan kedua kelopak matanya bersamaan dengan air matanya yang terjatuh membasahi pipinya.


"Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah jauhi anakku!" Balas Naina tanpa membalikkan tubuhnya. Naina pun kembali melanjutkan langkahnya. Tangannya pun terangkat menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Jangan menangis Naina... jangan menangis... Naina menghirup banyak-banyak pasokan oksigennya yang terasa berkurang lalu keluar dari dalam ruangan yang membuatnya terasa sesak.


"Agh... sial!!" Daniel mengusap kasar wajahnya. "Beribu kata permintaan pun yang kau ucapkan tak akan membuatku menjauhi anak kandungku." Ucap Daniel dengan tangan terkepal. Lagi-lagi sisi kearoganannya membuatnya hilang kendali.

__ADS_1


Di luar ruangan Daniel Naina dibuat terkejut saat melihat seorang wanita yang kini sedang melangkah ke arahnya sambil membawa rantang di tangannya.


"Apa kau baru saja keluar dari ruangan Daniel?" Tanya Wanita itu yang tak lain adalah Queen.


"Ya. Saya baru saja keluar dari ruangan Tuan Daniel, Nona."


"Tunggu dulu... sepertinya aku mengenalmu..." Queen mengamati dengan cermat wajah wanita di depannya.


"Kau sangat mirip seperti temanku saat kuliah dulu. Tapi aku melupakan namanya..." Queen nampak mengingat-ingat.


"Maaf. Tapi sepertinya anda salah orang, Nona." Balas Naina mencoba tersenyum. Untung saja air matanya yang jatuh tak membuat wajahnya terlihat sembab sehingga Queen tidak menyadarinya.


"Agh. Mungkin saja..." balas Queen meragu.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Nona. Karena ada pekerjaan yang harus saja kerjakan." Pamit Naina.

__ADS_1


***


__ADS_2