Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Mama Naina?


__ADS_3

"Main apa sini Tak? Gelap sini tuh, Zel kan takut." Ucap Zeline pada Daniel sambil mengeratkan pelukannya di leher Daniel.


Daniel mengecup pipi Zeline. "Kita duduk di sana saja ya." Ajaknya menunjuk sebuah kursi yang berada cukup jauh dari orang-orang di taman.


"Sepi sana tuh. Inda takut Tak?" Tanya Zeline sambil memasang wajah takut.


Daniel tersenyum. "Kenapa harus takut. Kan ada Kakak dan Kak Naina."


Ketakutan di wajah Zeline mulai menyurut. "Ya deh. Inda beli jajan dulu, Tak?" Tanya Zeline. Mengingat setiap ia dibawa duduk di taman, Naina atau Amara pasti selalu membelikan jajan untuknya.


"Nanti saja, ya. Lagi pula di rumah tadi sudah makan. Setelah pulang dari sini kita beli jajan untuk Zel."


Bibir Zeline mengkerut. Padahal ia sudah membayangkan Daniel akan membelikannya es krim untuknya.


"Zeline..." Naina menggelengkan kepalanya agar putrinya tidak meminta yang macam-macam.


Paham maksud tatapan Naina, Zeline pun menjatuhkan wajahnya di pundak Daniel dan memilih diam hingga sampai di tempat kursi taman.


"Duduk diam di sini, ya." Ucap Naina mengelus kepala putrinya yang kini duduk diantara dirinya dan Daniel.

__ADS_1


"Ya, Tak. Mau napa sini nih?" Tanya Zeline. Kakinya berayun-ayun dan matanya sibuk menatap ke sekitar taman.


Naina dan Daniel saling pandang. Naina memberi kode dengan tatapan matanya agar Daniel membuka pembicaraan mereka kali ini.


"Zeline...." Daniel mengelus lembut rambut putrinya dengan tatapan mulai berkaca-kaca.


Zeline mengalihkan pandangan pada Daniel. "Ya, Tak?" Balasnya dengan mata berkedip-kedip.


"Ada hal penting yang ingin Kak Naina dan Kak Niel sampaikan pada Zeline." Ucap Daniel dengan lembut.


"Hal penting?" Kening Zeline mengkerut. Tidak mengerti kata penting yang Daniel maksud.


Zeline menurutinya hingga kini pandangannya terisi penuh dengan wajah Naina. "Napa sedih, Tak?" Tanya Zeline melihat air mata tergenang di pelupuk mata Naina. Jari mungilnya mengusap-usap wajah Naina.


Naina menempelkan sebelah tangannya di atas tangan mungil putrinya. "Bolehkan Kakak meminta satu permintaan pada Zeline?" Tanya Naina dengan bibir yang sudah bergetar.


"Leh. Apa tuh, Tak?" Jari mungil Zeline semakin naik ke atas pipi Naina mengusap pipi Naina yang sudah basah.


"Apa boleh mulai saat ini Zeline memanggil Kakak dengan sebutan Mama?" Air mata Naina semakin mengalir deras. Naina benar-benar tak bisa membendung air matanya yang sehak tadi ia tahan.

__ADS_1


Tangan Daniel tergerak mengulurkan tisu pada Naina. Naina menerimanya, mengusap wajahnya yang basah lalu menatap intens wajah Zeline yang nampak bingung.


"Mama? Inda Tak Nai?" tanya Zeline dengan kening mengkerut.


"Tidak..." Kepala Naina menggeleng. "Apa Zel tahu siapa yang melahirkan Zel?" Tanya Naina menahan sesak di dadanya.


"Ibu..." Balas Zeline dengan polos.


Kepala Naina kembali menggeleng dengan air mata yang mengalir semakin deras. "Zeline salah, bukan Ibu yang melahirkan Zel, tapi Mama... Mama Naina..." lirih Naina. Menggigit bibir bawahnya menahan isakan tangisannya tidak keluar.


"Mama Naina?" Zeline memasang wajah semakin bingung. Keningnya semakin mengkerut. Jari mungilnya masih setia mengusap air mata di pipi Naina.


Naina mengangguk. Mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya lalu membuka album yang sudah ia persiapkan untuk diperlihatkan pada Zeline.


Zeline merapatkan tubuhnya pada Naina. Pandangannya nampak begitu penasaran saat Naina membuka foto awal yang menunjukkan dirinya waktu mengandung sedang mengelus perut buncitnya.


***


Berikan vote, gift, komen yang banyak dulu ya baru lanjutšŸ–¤

__ADS_1


__ADS_2