Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Ada Zeline di antara kita


__ADS_3

"A-aku me—" ucapan Naina melayang begitu saja saat sesuatu yang kenyal kini menempel lembut di bibirnya. Tubuhnya menegang begitu saja mendapatkan ciuman mendadak dari Daniel.


Melihat reaksi Naina yang begitu tegang membuat Daniel mulai memperdalam ciumannya agar Naina terbuai dan rileks. Perlahan kedua kelopak mata Naina pun tertutup menikmati ciuman lembut yang Daniel berikan. Naina berusaha membalas ciuman Daniel menggunakan instingnya sama seperti saat mereka masih berpacaran dulu. Walau ini adalah ciuman pertama mereka setelah lama terpisah, namun Naina masih dapat merasakan nikmatnya ciuman Daniel yang tidak pernah berubah.


Daniel menarik tubuh Naina hingga mengikis jarak di antara mereka. Ciuman yang awalnya lembut itu pun kian memanas saat Naina membuka mulutnya hingga Daniel dapat mengabsen setiap inci yang ada di dalam rongga mulut Naina. Tangannya pun mulai bekerja dengan baik membelai punggung Naina hingga akhirnya masuk ke dalam baju baju Naina.


Darah Naina berdesir hebat saat tangan nakal Daniel mulai naik hingga menyentuh bagian favoritnya sejak dulu. Naina perlahan membuka kedua kelopak matanya hingga tatapannya dan Daniel saling bertabrakan. Daniel tak memberi ruang sedikit pun pada Naina untuk berbicara dengan terus melu-mat bibir manis Naina. Setelah merasa Naina kekurangan pasokan oksigennya, ia pun melepas pangu-tannya.


"Da-daniel..." lirih Naina dengan wajah yang sudah memerah. Satu desa-han pun lolos dari bibir mungilnya saat tangan Daniel sibuk memainkan kedua aset berharganya.


Daniel kembali menanamkan bibirnya di bibir Naina hingga ciuman panas mereka pun kembali terulang. Saat merasa Naina sudah rileks dengan sentuhan yang ia berikan, Daniel pun dengan perlahan membimbing tubuh Naina ke arah ranjang lalu dengan hati-hati menjatuhkannya tanpa melepas pangu-tannya.

__ADS_1


Ciuman panas mereka pun terus berlangsung hingga tiba-tiba saja Naina mendorong dada bidang Daniel begitu saja. "Maaf." Lirih Daniel merasa mendapatkan penolakan dari Naina.


Naina menggelengkan kepalanya. "Ada Zeline..." lirih Naina dengan malu-malu.


Daniel menghela nafas panjang. Ia melupakan keberadaan sosok putri kecilnya karena naf-sunya yang sudah naik ke ubun-ubun. "Kita lanjutakan besok." Ucapnya lalu mengusap bibir Naina yang basah dengan jari jempolnya.


Daniel tidak ingin egois melakukan keinginannya di saat kondisi tidak memungkinkan seperti saat ini. Walau saat ini Zeline tengah tertidur namun bisa saja gadis kecil itu tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaan mereka. Daniel pun membantu Naina bangkit lalu memberikan ciuman singkat di bibir Naina.


Daniel tersenyum. Tangannya terulur mengelus kepala istrinya. "Pergilah." Tuturnya lembut.


Naina mengangguk lalu berjalan tergesa-gesa ke arah kamar mandi. Melihat tingkah istrinya membuat Daniel tersenyum lebar. Ada rasa bahagia di relung hatinya karena ia dapat memastikan jika Naina tidak menolak sentuhannya dan memberikan izin untuk menyentuh dirinya.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Naina memegang dadanya yang berdegub begitu kencang. Jari jempolnya pun mulai mengusap bibirnya yang terasa bengkak karena ciuman panas yang tadi Daniel berikan. Naina tak dapat membohongi hati dan tubuhnya jika saat ini sangat menginginkan sentuhan lebih dari suaminya itu. Namun Naina tidak ingin gegabah karena saat ini ada Zeline di antara mereka.


"Daniel... aku sangat mencintaimu..." lirih Naina lalu tertunduk malu.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️

__ADS_1


__ADS_2