Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Sebagai bahan taruhan


__ADS_3

Daniel dibuat terdiam. Kepalanya pun terangkat lalu menatap wajah Ayah yang nampak merah padam menahan emosi di dadanya saat ini.


"Saya dan Naina pernah menjalani sebuah hubungan saat kuliah dulu, Paman."


Ayah menggertakkan giginya yang beradu. "Kau jangan berbobong. Hubungan seperti apa yang kau maksud? Tidak mungkin pria seperti dirimu mau menerima putriku yang bernampilan seperti itu dulunya!" Bentak Ayah tak percaya.


"Saya berkata jujur, Paman. Naina dan saya pernah menjalin sebuah hubungan." Balas Daniel.


"Atas dasar apa kau menjadikan putriku sebagai kekasihmu?" Suara Ayah terdengar semakin meninggi. Ayah bukanlah pria bodoh yang dapat menerima semua ucapan pria berengsek di depannya saat ini begitu saja. Banyak wanita lain yang lebih cantik dan berpenampilan jauh lebih menarik dari putrinya saat kuliah dulu. Dan tidak mungkin pria seperti Daniel yang sangat tampan dan juga terlihat sangat kaya itu tertarik dan mau menjalin hubungan dengan putrinya bukan?


"Maafkan saya, Paman." Kepala Daniel kembali tertunduk. Matanya pun terpejam saat merasakan nafasnya kian memberat. Daniel kembali mengangkat kepalanya. Menatap Ayah Naina dengan wajah penuh penyesalan.


"Saya tidak membutuhkan kata maaf darimu. Yang saya butuhkan saat ini hanyalah penjelasan!" Sembur Ayah.


"Ayah tenanglah." Ibu Fatma yang masih menangis pun hanya bisa mengelus punggung suaminya. Ia pun turut merasa marah pada pria di depannya saat ini. Namun Ibu lebih memilih diam dan membiarkan suaminya yang menyelesaikan semuanya.


"Maaf jika perkataan saya ini akan menyakiti hati Paman dan Bibi." Daniel menjeda sesaat ucapannya. Ayah dan Ibu pun turut menunggu kelanjutan ucapannya. "Naina adalah korban taruhan dari teman-teman saya untuk saya. Saya menjadikan Naina sebagai kekasih saya hanya sebagai bahan taruhan. Dan menyentuhnya, adalah bagian dari misi taruhan yang kami buat." Ucap Daniel mengungkapkan kebejatannya waktu itu.

__ADS_1


Bugh


Sebuah tinjuan cukup keras pun melayang di pipi kanan Daniel.


"Kurang ajar! Beraninya kau menjadikan putriku sebagai bahan taruhanmu!" Bentak Ayah yang tak lagi bisa menahan emosinya.


Bugh


Sekali lagi tinjuan cukup keras melayang di pipi kiri Daniel.


"Ayah..." Ibu terpekik. Tidak menyangka dengan reaksi suaminya yang berani memukul seseorang untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak ia lihat semenjak mereka menikah.


Amara dan Zeline pun langsung keluar dari dalam kamar saat mendengar suara keributan dari ruang tamu.


"Maaf..." Daniel hanya bisa berucap lirih sambil menahan rasa sakit di wajahnya.


"Tutup mulutmu!" Ayah mencengkram kerah kemeja Daniel.

__ADS_1


"Ayah..." Amara terpekik melihat Ayahnya memukul seseorang untuk pertama kalinya.


"Ayah... Tak Niel..." Zeline yang berada di gendongan Amara langsung menangis dengan kencang melihat wajah Daniel yang nampak memerah akibat pukulan dari Ayah.


"Amara... Zeline..." Ibu yang hampir melupakan jika anak dan cucunya ada di dalam kamar pun segera berjalan ke arah Amara dan Zeline.


Ayah yang menyadari kehadiran putri dan cucunya pun segera melepas cengkraman tangannya di leher Daniel.


"Kenapa Ayah malah... hua..." Zeline semakin menangis dengan kencang.


"Zel tenanglah..." Amara mengelus punggung Zeline guna menenangkannya.


"Tulunkan Zel! Tulunkan!" Zeline memberontak kuat di dalam gendongan Amara.


Tak ingin Zeline terjatuh, Amara pun segera menurunkan Zeline.


"Tak Niel... hua..." Zeline segera berlari ke arah Daniel lalu memeluk kaki Daniel erat.

__ADS_1


***


__ADS_2