
Malam itu Naina lewati dengan rasa bersalah yang teramat besar di hatinya pada Aga. Andai saja ia lebih cepat memberitahukan jika Daniel-lah ayah kandung dari putrinya, Aga mungkin tidak akan kecewa sebesar ini. Namun Naina tak bisa mendustai hatinya jika ia sangat takut merusak hubungan sepupu Aga dan Daniel jika Aga mengetahui semuanya. Dan akhirnya ketakutannya terbukti, Aga nampak marah besar dan sangat kecewa pada Daniel setelah ia mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Maafkan aku Kak Aga..." lirih Naina. Naina menatap wajah putrinya yang masih terlelap sambil memeluk guling. "Maafkan Mama..." lirihnya lagi menatap sendu wajah putrinya. Entah bagaimana ia melewati hari esok dengan kemarahan Aga yang mungkin belum surut. Naina hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap hari esok akan baik-baik saja walau ia tak yakin.
*
Pagi mulai menyambut, sosok gadis kecil yang masih lelap dalam tidurnya nampak mulai terjaga saat sinar matahari yang masuk dari celah jendela mulai menyapu wajah mungilnya.
"Pagi ini..." ucap Zeline sambil mengucek kedua matanya. Pandangan Zeline jatuh pada Naina yang masih terlelap tanpa merasa terganggu dengan sinar matahari yang menyapu wajahnya. "Kenapa inda bangun?" Zeline merasa bingung, sebab Naina selalu bangun lebih dulu darinya. Wajar saja, Naina baru saja tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Pastilah saat ini ia masih belum mau terjaga dari tidurnya.
Zeline menatap lama wajah pulas Naina. "Lama bangun ini. Kelual aja Zel deh." Ucapnya lalu dengan hati-hati turun dari ranjang.
__ADS_1
Suasana di luar kamar nampak sepi seolah tidak ada kehidupan. "Belum bangun semua ini." Keluhnya. Menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. "Dah pagi ini." Lanjutnya lagi lalu menggelengkan kepala mungilnya.
Zeline pun terus berjalan hingga sampai di pintu keluar. "Terlbuka? Sapa nih yang buka?" Tanyanya bingung. Zeline pun melangkah keluar dari dalam villa. Pandangannya langsung jatuh pada villa keluarga Alexander. "Tak Niel!" Serunya saat mengingat Daniel ada di dalam sana.
"Main sana ja deh!" Ucapnya tanpa berpikir. Zeline menatap kesekelilingnya, mencari letak sandalnya namun tidak menemukannya. "Pake sendal Bibi saja deh!" Putusnya melihat sendal jepit yang ada di bawah teras.
Kaki mungil Zeline mulai berjalan kesusahan karena sendal yang terlalu besar ia pakai. Wajahnya nampak kegirangan saat langkahnya sudah hampir sampai di dekat villa Alexander.
"Tak Niel janji itu ajak Zel belenang. Asiknya..." ucapnya lalu melompat-lompat. Zeline kembali melangkah hingga kini ia sudah berada di depan pintu villa.
"Tidul masih ini?" Tanyanya bingung. "Masuk ja deh!" Putusnya yang sudah lelah menunggu. Zeline pun segera masuk ke dalam villa setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Zeline?" Bibi Marni yang baru saja keluar dari dalam dapur dibuat terkejut melihat kedatangan Zeline seorang diri.
"Bibi... mana Tak Niel?" Tanyanya.
"Tuan Daniel ada di dekat kolam renang." Balas Bibi Marni.
"Baiklah.... Zel sana ya!" Pamitnya yang diangguki Bibi Marni.
Zeline pun berlari menuju kolam renang yang telah ia ketahui dimana letaknya. Saat sudah berada dekat kolam renang, pandangan Zeline pun jatuh pada sosok Daniel yang terlihat tengah berdiri tak jauh dari pinggir kolam.
Zeline kembali berlari mendekat ke arah Daniel. "Tak Niel...!!" Serunya lalu memeluk erat kaki Daniel.
__ADS_1
***
Berikan vote dan giftnya dulu yuk untuk lanjut ke bab beritkutnya☺️