
"Aga sudah datang sejak setengah jam yang lalu, Nai..." Terang Ibu.
"Maaf sudah buat Kakak menunggu." Ucap Naina merasa tidak enak.
Aga tersenyum tipis. "Tak masalah." Balasnya singkat.
"Aga sudah meminta izin pada Ayah dan Ibu untuk membawamu pergi malam ini." Ucap Ibu yang membuat Naina tersenyum kaku.
"Apa Ibu mengizinkan Nai dan Kak Aga untuk pergi, Bu?" Tanya Naina ragu.
Ibu mengangguk seraya tersenyum. "Selama kau pergi bersama orang yang tepat, ibu tidak masalah. Asal Aga mengembalikanmu dalam kondisi baik-baik saja." Ucap Ibu seakan menyiratkan sesuatu pada Aga.
"Saya akan menjaga Nai dengan baik, Bu." Balas Aga yang seolah mengerti arah pembicaraan Ibu.
Ibu tersenyum. Sedangkan Ayah hanya diam sambil memperhatikan interaksi Aga dan istrinya.
"Pergilah. Sebelum Zel terbangun dan mencari keberadaan Naina." Perintah Ibu yang diangguki oleh Aga dan Naina.
Aga pun bangkit. Lalu menyalami Ayah dan Ibu Naina diikuti oleh Naina yang turut menyalami Ayah dan Ibunya.
"Dipakai dulu helmnya." Ucap Aga sambil memasangkan helm ke kepala Naina.
Naina nampak tertegun. Detak jantungnya bekerja begitu cepat.
__ADS_1
"Ayo, naik." Ucap Aga melihat ke arah jok belakangnya. "Pegang saja pundakku jika kau takut." Ucap Aga.
Naina tersenyum. Lalu segera naik dengan menggunakan pundak Aga sebagai pegangannya.
Setelah memastikan Naina sudah duduk dengan nyaman, motor Aga pun mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah Naina.
"Kau ingin kemana malam ini?" Tanya Aga saat motor sudah masuk ke jalan raya.
"Terserah Kakak saja." Balas Naina sedikit keras agar Aga mendengar ucapannya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" Ajak Aga.
"Boleh, Kak." Balas Naina.
Dari kursi depan, Aga nampak menarik kedua sudut bibirnya saat merasakan tangan Naina kini memeluk pinggangnya erat.
"Apa kau suka makan nasi goreng?" Tanya Aga saat motor berhenti di lampu merah.
"Ya. Nasi goreng termasuk makanan kesukaanku, Kak." Balas Naina.
"Bagaimana kalau kita makan nasi goreng malam ini? Aku memiliki tempat langganan dengan rasa nasi goreng yang sangat enak di dekat sini." Tawar Aga.
"Boleh Kak. Nai ikut saja." Balas Naina. Naina pun nampak sesekali menutup matanya saat aroma tubuh Aga menusuk ke dalam indera penciumannya. Kak Aga harum sekali. Batin Naina. Pantas saja putrinya itu sangat suka dengan aroma jaket Aga waktu itu. Ternyata aroma tubuh Aga memang sangat harum dan enak bila dicium.
__ADS_1
Seorang pria yang kini berada di dalam mobil di samping motor Aga nampak memperhatikan dengan intens percakapan dua orang manusia di samping mobil miliknya.
"Bukankah itu Tuan Aga, Tuan?" Tanya Marko yang turut memperhatikan pandangan Tuannya.
"Hm." Daniel hanya berdehem sebagai jawaban. Entah mengapa perasaan tidak suka memenuhi relung hatinya saat melihat tangan Naina masih berada di pinggang Aga hingga membuat tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Nona itu sepertinya sudah berhasil membuat Tuan Aga tertarik padanya, Tuan." Ucap Marko yang sempat terkejut melihat Aga yang biasanya dingin itu kini tersenyum lebar.
"Hm." Lagi-lagi Daniel hanya berdehem menjawab ucapan Asistennya.
Motor Aga pun mulai melaju kembali saat lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi lampu hijau.
"Ikuti motor Aga. Kita tidak jadi pulang." Titah Daniel dengan dingin sambil menatap tajam pemandangan di depannya.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
__ADS_1
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺