Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Lega dan bahagia


__ADS_3

"Masuklah." Tutur Daniel setelah melepas jari jempolnya dari kening Naina. Lalu menjauhkan tubuhnya untuk memberi Naina ruang untuk menghirup oksigen sebanyak-banyak. Daniel dapat melihat dan merasakn jika istrinya itu tengah gugup saat ini.


Naina pun melakukan yang Daniel pikirkan. Ia menghirup sebanyak-banyaknya pasokan oksigennya yang terasa banyak berkurang. "Aku masuk dulu." Ucapnya pelan. Membalikkan tubuhnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Daniel tak beranjak dari posisinya. Ia lebih memilih menatap punggung Naina hingga hilang dari balik pintu. Walau pemikirannya bertanya bagaimana cara Naina mengganti baju sebab ukuran kamar mandinya yang tidak terlalu besar, namun ia tidak mempertanyakannya karena takut Naina merasa tersinggung dengan ucapannya.


*


Keluar dari dalam kamar mandi Naina dibuat terkejut melihat Daniel yang sudah berganti baju bahkan kini Daniel tengah memainkan ponselnya duduk di pinggir ranjang.


"Kau sudah selesai?" Daniel mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Meletakkannya di atas ranjang lalu bangkit.


"Ya, apa kau terlalu lama menungguku hingga berganti baju di dalam kamar." Naina tertunduk. Ia sungguh tidak sanggup menatap mata Daniel yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Tidak. Aku bisa mengganti pakaianku sendiri di sini tanpa harus berganti di kamar mandi." Tutur Daniel.


Naina mengangguk paham.

__ADS_1


"Ayo istirahat." Daniel memegang pundak Naina hingga kepala Naina seketika terangkat.


"Ba-baiklah." Naina tanpa sadar memejamkan kedua matanya sangking gugupnya.


Daniel tersenyum tipis. Melihat ekspresi Naina saat ini benar-benar membuatnya merasa gemas.


Sore itu Naina tak benar-benar istirahat. Matanya sulit terpejam walau hanya sebentar saja. Ia sangat merasa gugup berada sedekat ini dengan Daniel. Apa lagi saat ini Daniel tengah tertidur pulas dengan tangan bersedekap di dada.


"Sepertinya dia lelah sekali." Lirih Naina menatap wajah Daniel. Tentu saja Daniel sangat lelah karena satu minggu belakangan ini ia habiskan dengan lembur di perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaannya agar waktunya tidak terganggu saat mengambil cuti setelah pernikahan mereka.


Naina memutuskan tatapannya dari Daniel lalu menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya. Ada perasaan bahagia dan juga lega yang ia rasakan saat ini setelah menjadi istri Daniel. Setelah hari ini, ia akan memberikan sosok keluarga yang lengkap pada putrinya dan putrinya tidak akan lagi merasakan rindu dengan kasih sayang ayah kandungnya.


*


Suara ketukan pintu yang terdengar cukup pelan dari luar membuat Daniel terjaga dari tidurnya. Daniel menatap ke arah samping dimana Naina terlihat tak terganggu dengan suara ketukan pintu di luar kamarnya. Dengan hati-hati Daniel menurunkan kakinya ke atas lantai agar tak mengganggu tidur Naina.


Ceklek

__ADS_1


Daniel dibuat terkejut saat pintu baru terbuka sebagian kepala Zeline sudah menjulur di sana.


"Papah..." Zeline memperlihatkan deretan giginya pada Daniel.


"Zeline..." Daniel menahan suaranya. Membuka pintu sedikit lebar agar bisa mengangkat tubuh putrinya.


"Mamah bobo itu?" Jari mungil Zeline menunjuk wajah Naina.


Daniel menganggukkan kepalanya. "Sepertinya Mama baru tidur. Ayo kita di luar saja." Daniel melangkah keluar dari dalam kamar lalu kembali menutup rapat pintu kamarnya.


"Papah dantengnya ini." Tangan Zeline mengusap-usap wajah Daniel yang terlihat semakin tampan setelah bangun tidur walau tatanan rambutnya kini sedikit berantakan.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).

__ADS_1


Terimakasih☺️


__ADS_2