
"Hua..." suara tangisan Zeline yang terdengar cukup keras dari kamar membuat Naina yang tengah menikmati teh hangat dan biskuit terkejut.
"Zeline?" Naina buru-buru bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki ke arah kamar dimana Aga meletakkan putrinya tidur.
"Takut... mana ini? Hua..." suara tangisan Zeline semakin terdengar keras.
"Zeline..." mendengar suara yang sangat dikenalinya, Zeline pun menatap ke arah pintu.
"Tak Nai..." ucapnya lalu merentangkan kedua tangan mungilnya.
Naina mendekat ke arah ranjang lalu menggendong tubuh Zeline. "Kenapa menangis, hem?" Tanya Naina mengelus lembut rambut putrinya.
"Takut... napa Zel sendili sini? Dimana ini? Hua..." Ucapnya mengungkapkan rasa takutnya.
"Kita sudah sampai di villa. Karena Zel masih tidur saat kita sampai di villa tadi, makanya Kak Aga meletakkan Zel di sini." Terang Naina sambil mengelus punggung putrinya.
"Mana Tak Aga?" Tanya Zeline disela tangisannya.
"Kak Aga dan Kak Amara ada di luar. Ayo keluar." Ajak Naina lalu membawa tubuh Zeline keluar dari kamar.
Melihat kedatangan Naina dan Zeline, Aga dan Amara nampak tersenyum berbarengan.
__ADS_1
"Kenapa menangis? Tidak ada yang menculikmu kok." Ucap Amara menghampiri Naina yang sedang menggendong Zeline.
"Hua..." mendengar ucapa Amara, Zeline pun semakin menangis dengan kencang.
"Amara... jangan mengejeknya." ucap Naina lalu kembali mengelus punggung putrinya.
Amara tertawa kecil. "Kemarikan, Kak. Biar aku menggendongnya." Ucap Amara mengulurkan ke tubuh Zeline.
"Inda mahu!" Zeline menggeleng tanda menolak.
"Sudahlah. Nanti saja." Ucap Naina lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa. "Zeline... jangan menangis lagi. Lihatlah ada Kak Aga. Apa Zel tidak malu menangis di depan Kak Aga?" Ucap Naina.
Tangisan Zeline akhirnya menyurut. Pandangannya mengedar memperhatikan sekitarnya. "Tak Aga..." ucap Zeline sambil tersenyum dengan sisa air mata di sudut matanya.
"Terimakasih, Kak." Ucap Naina lalu mengambil alih gelas air putih dari tangan Aga.
"Istirahatlah lebih dulu. Setelah itu kitajalan-jalan disekitar sini." Ucap Aga setelah Zeline sudah tenang.
Naina menganggukkan kepalanya diikuti oleh Amara.
"Baik, Kak." Ucap Naina kemudian.
__ADS_1
*
Cuaca yang cukup mendung pagi itu membuat membuat tubuh mereka tidak begitu kepanasan saat berjalan-jalan di sekitar villa.
"Suana di sini sejuk sekali." Amara menutup kedua matanya. Menikmati sapuan angin yang terasa sejuk di wajahnya.
"Senangnya... senangnya..." suara Zeline pun mulai terdengar. Gadis kecil yang tidak ingin digendong itu nampak berlari-lari di sekitar taman bunga yang kini mereka lewati.
"Apa villa di sini sering kosong jika keluarga Kakak dan keluarga Tuan Alexander tidak datang ke sini?" Tanya Naina memperhatikan villa di dekat mereka.
"Ya. Villa di sini akan kosong jika keluarga kami tidak ada yang datang di sini." Balas Aga.
Naina mengangguk mengerti. Ternyata kelurga Aga tidak beriat menyewakan villa mewah milik mereka untuk orang lain.
Mereka pun terus berjalan sambil menikmati pemandangan sekitar yang memanjakan mata. Di tengah perjalan, Naina tiba-tiba menghentikan langkahnya saat menyadari suara putrinya tak terdengar lagi.
Kepala Naina menoleh ke belakang. Naina dibuat terkejut saat tidak melihat keberadaan Zeline yang tadi berjalan di belakangnya dengan Amara. Tak jauh darinya, Amara terlihat tengah memfoto objek yang menarik di sekitarnya. Naina pun buru-buru menghampiri Amara karena tidak melihat Zeline di sekitar Amara.
"Amara, dimana Zeline?" Tanya Naina sambil memutar kepalanya mencari keberadaan Zeline yang belum terlihat oleh matanya.
***
__ADS_1
Aduh, Zel kemana ya? Berikan like, komen dan votenya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya🌹