Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Keputusan Naina


__ADS_3

Kedatangan Ayah, Amara dan Zeline yang baru saja kembali dari jalan-jalan sore mereka untuk menenangkan Zeline yang ketakutan jika berada di dekat Ayah pun menghentikan pembicaraan Ibu dan Naina.


"Tak Nai dah pulang?" Zeline berlari ke arah Naina lalu menjatuhkan wajahnya di paha Naina.


Naina tersenyum lalu menghapus sisa air mata yang masih tersisa di sudut matanya.


"Kakak baru saja sampai. Apa Zel senang jalan-jalan sore dengan Ayah dan Kak Mara?" Tanya Naina.


Zeline menganggukkan kepalanya di atas paha Naina. "Ayah pemalah itu." Adunya dengan suara sedikit pelan namun masih dapat di dengar oleh Naina.


"Ayo ke kamar. Kakak ingin mandi dulu sekalian memandikan Zel." Ajak Naina.


Zeline mengangkat kepalanya lalu mengangguk. "Ayo Tak!" Balasnya lalu memegang telunjuk Naina.


Naina pun berdiri. "Ayah, Ibu, Mara, Nai masuk ke kamar dulu." Pamit Naina yang diangguki oleh Ayah, Ibu dan Amara.


Saat sudah berada di dalam kamarnya, Zeline pun mengadu tentang apa yang ayahnya lakukan pada Daniel tadi pagi.


"Ayah malah-malah tadi dan pukul itu Tak Niel." Adu Zeline dengan wajah takutnya.

__ADS_1


Naina mengangkat tubuh Zeline lalu mendudukkannya di atas pahanya.


"Kasian itu Tak Niel. Melah itu pipinya Tak." Lanjutnya lagi sambil memegang kedua pipinya.


"Apa Zel takut melihat Ayah marah?" Tanya Naina sambil mengelua rambut putrinya.


Kepala Zeline mengangguk. "Nangis tadi itu Zel. Kasian tu Tak Niel. Main sini Ayah malahin." Adunya lagi.


Naina terdiam. Matanya pun terus terfokus menatap pada mata Zeline yang nampak mengembun saat membicarakan Daniel.


"Apa Zel sayang dengan Kak Daniel?" Tanya Naina setelah cukup lama terdiam.


Zeline mengangguk. "Sayang. Danteng juga tambah sayang Zel tuh." Balasnya tersenyum. Air mata Zeline pun nampak mulai membasahi sudut matanya.


"Inda tahu. Sayang ja kok. Seneng Zel tuh kalau ada Tak Niel." Balas Zeline. Wajahnya pun nampak malu-malu setelah mengucapkannya.


Walau pun Naina tahu jika Zeline tidak paham akan arti kata sayang yang ia ucapkan, namun entah mengapa hatinya terasa tercubit mendengar ucapan Zeline yang menyayangi Daniel dan bagaimana wajah putrinya yang nampak senang saat membahas Daniel.


"Apa Zel ingin selalu bertemu dengan Kak Niel?" Tanya Naina.

__ADS_1


Zeline mengangguk dengan cepat. "Seneng Zel tuh. Tapi nanti Ayah malahin lagi." Balasnya dengan wajah takut.


Naina tersenyum. "Ayah marah karena Kak Niel membuat kesalahan, bukankah Kak Niel sudah meminta maaf pada Ayah? Pasti Ayah tidak akan marah lagi." Ucap Naina menenangkan putrinya.


"Inda malah lagi Ayah tuh dengan Kak Niel, Tak?" Tanya Zeline memastikan.


Naina mengangguk. "Tidak akan." Balasnya dengan yakin.


Zeline melebarkan senyumannya lalu memeluk erat tubuh Naina.


Ibu benar. Tidak seharusnya aku mementingkan perasaanku sendiri. Zeline juga membutuhkan kasih sayang Daniel. Tapi apa benar Daniel tulus menyayangi Zeline? Batin Naina sambil membalas pelukan putrinya.


"Ayo kita mandi dulu. Zel sudah bau keringat." Ajak Naina yang diangguki oleh Zeline dengan cepat.


Setelah memandikan Zeline dan membersihkan tubuhnya, Naina pun mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Setelah banyak berpikir dan membulatkan tekadnya, Naina berniat mengajak Daniel bertemu dan menyelesaikan permasalahan diantara mereka demi putrinya. Karena tidak memiliki nomor ponsel Daniel untuk menghubunginya, Naina pun mulai mencari akun media sosial Daniel untuk mengirimkan pesan pada Daniel dan berharap Daniel membuka pesan yang ia kirimkan.


***


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.

__ADS_1


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗


Terimakasih🤗


__ADS_2